Jawa Pos Radar Lawu - Baru memasuki awal tahun 2026, media sosial justru dipenuhi nuansa nostalgia.
Banyak pengguna merasa seperti “kembali ke masa lalu” lewat tren viral bertajuk “2026 adalah 2016 yang baru” , yang ramai di TikTok, Instagram, hingga Facebook.
Dalam tren ini, warganet membagikan foto, video, dan unggahan lama dari satu dekade lalu.
Mulai dari filter Snapchat, gaya busana, hingga lagu-lagu hits tahun 2016 kembali menghiasi lini masa.
Tren “2026 Adalah 2016 yang Baru” Jadi Fenomena
Tren ini mulai muncul sejak akhir 2025 dan semakin populer di awal 2026. Tagar #2016 dan #BringBack2016 telah digunakan jutaan kali, menandakan antusiasme besar pengguna media sosial terhadap masa lalu.
Tak hanya masyarakat umum, sejumlah selebriti dunia seperti John Legend dan Reese Witherspoon juga ikut meramaikan tren dengan membagikan potret lama mereka.
Jurnalis dan mantan editor Vogue, Leah Faye Cooper, menyebut fenomena ini sebagai refleksi kerinduan terhadap masa yang lebih sederhana.
“Banyak orang merindukan masa yang terasa lebih optimis dan tidak sekompleks saat ini,” ujarnya.
Nostalgia Sebelum Era Pandemi dan Algoritma
Salah satu faktor yang kuat di balik tren ini adalah kerinduan terhadap era sebelum pandemi COVID-19.
Tahun 2016 dianggap sebagai masa ketika interaksi digital masih terasa lebih alami, belum terlalu didominasi algoritma dan kecerdasan buatan.
Selain itu, platform seperti Vine, Dubsmash, dan awal kejayaan Instagram juga menjadi simbol era keemasan media sosial yang kini dirindukan.
Baca Juga: Cara Bikin Konten Viral Tanpa Modal Lewat HP: Dijamin FYP, Trending, dan Auto Cuan!
Kilas Balik Musik Populer Tahun 2016
Tren nostalgia juga ditandai dengan kembalinya lagu-lagu hits era 2016, seperti:
-
“Closer” – The Chainsmokers ft. Halsey
-
“Cintai Diri Sendiri” – Justin Bieber
-
“Maaf” – Beyoncé
-
“Starboy” – The Weeknd
-
“Lean On” – Major Lazer & DJ Snake
Lagu-lagu tersebut kini kembali viral sebagai latar video TikTok dan Instagram Reels.
Momen Budaya Pop Ikonik 2016
Tahun 2016 juga dikenal sebagai periode penting dalam dunia hiburan global. Beberapa momen yang kembali dikenang antara lain:
-
Leonardo DiCaprio memenangkan Oscar pertamanya lewat The Revenant
-
Taylor Swift meraih Grammy untuk albumnya tahun 1989
-
“Hamilton” mendominasi Tony Awards
-
Serial Stranger Things musim pertama tayang di Netflix
-
Viral “Mannequin Challenge” dan Pokemon Go
Semua momen tersebut kini kembali dibicarakan dan direka ulang di media sosial.
Gaya Fashion 2016 Kembali Tren
Tak hanya musik dan hiburan, dunia mode juga ikut terdampak tren nostalgia. Aksesori choker, skinny jeans, tie-dye, hingga gaya festival kembali populer di kalangan anak muda.
Merek-merek seperti Abercrombie dan Juicy Couture juga kembali mendapat perhatian sebagai simbol gaya era 2016.
Menurut Cooper, gaya busana saat itu dinilai lebih bebas dan tidak terlalu terkonsep seperti sekarang.
Peran TikTok dalam Penyebaran Tren
TikTok menjadi platform utama penyebaran tren “2026 serasa 2016”. Banyak kreator membuat ulang tantangan viral seperti:
-
Tantangan Manekin
-
Tantangan Melempar Botol
-
Tantangan Pokémon Go
-
Meme “Tangkap Aku di Luar”
Data menunjukkan pencarian terkait “2016” meningkat tajam di TikTok pada awal 2026, dengan puluhan juta video menggunakan filter retro.
Fenomena Global, Dari Hollywood hingga Asia
Tren ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Di India, Filipina, hingga negara Asia lainnya, para selebriti juga ikut membagikan kenangan tahun 2016.
Beberapa artis Bollywood, aktor Filipina, hingga tokoh publik internasional turut meramaikan nostalgia global ini, menjadikan tren tersebut semakin masif.
Refleksi Generasi Z dan Milenial
Bagi Generasi Z dan Milenial, tahun 2016 merupakan masa remaja atau awal dewasa yang penuh kenangan.
Tren ini menjadi cara untuk mengenang masa ketika kehidupan terasa lebih ringan.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa nostalgia kini menjadi bagian penting dari budaya digital modern.
Baca Juga: Viral di Tiktok! Butterfly Era, Rasa Gaul yang Menggambarkan Perasaan Jatuh Cinta
2026, 2016, dan Kerinduan Akan Masa Lalu
Tren “2026 adalah 2016 yang baru” bukan sekedar hiburan semata. Fenomena ini mencerminkan kebutuhan emosional masyarakat akan rasa aman, optimisme, dan penghematan di tengah perubahan teknologi yang cepat.
Meski waktu tak bisa diputar kembali, media sosial memberi ruang bagi generasi saat ini untuk mengenang, merayakan, dan memaknai kembali masa lalu.
Dengan demikian, 2016 tetap hidup setidaknya di layar ponsel jutaan pengguna di seluruh dunia. (*)
*Nizaria Kusumastuti, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani