Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Viral Siswa SD di NTT Bunuh Diri Gegara Tidak Mampu Beli Buku, Tragedi Pilu Kemanusiaan yang Disorot Dunia 

Nur Wachid • Rabu, 4 Februari 2026 | 16:57 WIB

Surat yang ditulis korban sebelum ditemukan meninggal.
Surat yang ditulis korban sebelum ditemukan meninggal.

Jawa Pos Radar Lawu – Sebuah tragedi kemanusiaan mengguncang Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang masih duduk di bangku kelas IV sekolah dasar, berinisial YBS, diduga mengakhiri hidupnya akibat tekanan ekonomi keluarga yang sangat berat.

Dilansir Radar Lawu dari Lombok Post (Jawa Pos Grup) Peristiwa memilukan itu bermula dari permintaan sederhana YBS kepada ibunya, MGT, 47 tahun.

Ia meminta uang kurang dari Rp 10.000 untuk membeli buku tulis dan pena sebagai kebutuhan sekolah.

Namun, sang ibu yang bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan terpaksa menjawab tidak memiliki uang.

MGT diketahui menghidupi lima orang anak seorang diri setelah ditinggal suaminya. Keterbatasan ekonomi membuat keluarga tersebut hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrem, dengan penghasilan yang tidak menentu.

Tak lama setelah permintaan itu, YBS ditemukan meninggal dunia. Sebelum kejadian, korban sempat meninggalkan sepucuk surat menggunakan bahasa daerah setempat yang ditujukan kepada ibunya.

Surat tersebut berisi permintaan maaf, ungkapan kepasrahan, serta permohonan agar sang ibu merelakan kepergiannya dan tidak larut dalam kesedihan.

Isi surat tersebut memperlihatkan beban psikologis yang dipikul seorang anak di usia yang seharusnya masih dipenuhi keceriaan. Peristiwa ini pun langsung menyita perhatian publik dan memicu keprihatinan luas, baik di dalam maupun luar negeri.

Kasus ini menyoroti secara tajam persoalan kemiskinan ekstrem serta kegagalan pemenuhan hak dasar anak, khususnya hak atas pendidikan dan perlindungan sosial.

Padahal, hak tersebut telah dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 tentang pendidikan dan Pasal 34 mengenai kewajiban negara memelihara fakir miskin dan anak terlantar.

Pengamat politik dan filsuf publik Rocky Gerung turut menanggapi tragedi tersebut.

Ia menyebut peristiwa ini sebagai ironi besar, ketika narasi tentang kebesaran bangsa dan pembangunan tidak sejalan dengan realitas di lapangan, di mana seorang anak harus putus asa hanya karena tidak mampu membeli buku tulis.

Tragedi YBS menjadi alarm keras bagi semua pihak tentang kondisi anak-anak dari keluarga rentan di daerah terpencil.

Kasus ini menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam memastikan tidak ada anak Indonesia yang kehilangan masa depan hanya karena kemiskinan dan keterbatasan akses terhadap pendidikan dasar.

Peristiwa di Ngada ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan manusia tidak cukup diukur dari angka statistik semata, melainkan dari sejauh mana negara mampu melindungi warganya yang paling lemah. 

Editor : Nur Wachid
#siswa sd bunuh diri #ntt #viral