Jawa Pos Radar Lawu - Kisah viral bocah SD naik KRL sendirian dari Kota Tangerang menjadi perbincangan publik.
Anak itu melakukan perjalanan dari Tangerang ke Jaktim setiap pagi untuk pergi sekolah.
Setiap hari ia tempuh 2 jam tiap hari dengan rute panjang demi mengejar pendidikan.
Perjalanan ini bukan hanya soal determinasi, tetapi juga mengundang keprihatinan atas kondisi anak, transportasi, dan keselamatan di Jabodetabek.
Fakta Utama
Seorang siswa SD asal Kota Tangerang, bernama Hafitar, menjadi viral setelah terlihat naik kereta listrik (KRL Commuterline) sendirian dari Tangerang ke Jakarta Timur setiap hari untuk bersekolah.
Perjalanan pagi‐pagi itu menempuh hampir dua jam termasuk transit, memicu keprihatinan banyak pihak soal keselamatan dan beban siswa.
Sekolah serta dinas terkait kini sedang mencari solusi agar kondisi Hafitar lebih aman dan ideal untuk belajar.
Kronologi & Alasan Perjalanan Jauh
Hafitar sebelumnya tinggal bersama ibunya di Klender, Jakarta Timur dekat dengan sekolahnya, yakni SDN 4 Klender.
Namun setelah ayahnya meninggal lima tahun lalu dan ibunya mendapatkan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di Tangerang pada September 2025, keduanya pindah ke Tangerang.
Karena itu, Hafitar terpaksa menempuh rute panjang tiap hari berangkat sangat pagi dan naik KRL sendirian.
Rute, Persiapan & Keamanan Perjalanan
Perjalanan Hafitar dimulai dari rumahnya di kawasan Parung Jaya, Kota Tangerang, menuju stasiun terdekat kemudian naik KRL ke Stasiun Tanah Abang sebelum lanjut ke Stasiun Klender di Jakarta Timur.
Ia berangkat sekitar pukul 03.45 WIB dan tiba di sekolah antara pukul 06.00 hingga 07.00 WIB.
Untuk keamanan, sang ibu telah membekalinya kartu Commuter Line dan JakLingko, dan juga berkoordinasi dengan petugas stasiun terkait.
Meski demikian, pihak sekolah menyatakan telah menyarankan agar Hafitar pindah ke sekolah yang lebih dekat karena kondisi perjalanan yang berat.
Dampak Sosial & Respons Publik
Video perjalanan Hafitar menjadi viral di media sosial dan menarik perhatian publik luas, khususnya soal akses pendidikan dan transportasi anak‐anak di wilayah Jabodetabek.
Sekolah dan dinas pendidikan setempat merespon dengan menawarkan tempat tinggal sementara atau pemindahan sekolah untuk mengurangi beban perjalanan.
Warga dan pengguna KRL ramai membicarakan kisah tersebut sebagai refleksi tantangan yang dihadapi anak di kawasan metropolitan besar.
Kesimpulan
Kisah Hafitar yang naik KRL sendiri dari Tangerang ke Jakarta Timur tiap hari menggambarkan tekad besar seorang anak dalam mengejar pendidikan, namun juga menyoroti masalah nyata mengenai jarak, transportasi, dan keselamatan siswa.
Meskipun menunjukkan kemandirian dan semangat belajar yang tinggi, perjalanan hampir dua jam setiap pagi tetap menimbulkan kekhawatiran serius. Dinas, sekolah, dan pihak keluarga diharapkan segera menemukan solusi agar anak tidak hanya berangkat ke sekolah, tetapi juga tiba dalam kondisi aman, nyaman, dan layak. (ghiska-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid