Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

19 Hari Perawatan di DPKP Inhil Tak Mampu Menyelamatkan si Undan, Buaya Muara Raksasa 5,7 Meter Akhirnya Mati

Nur Wachid • Jumat, 21 November 2025 | 20:26 WIB

Si Undan, buaya raksasa 5,7 meter, mati usai 19 hari dirawat DPKP Inhil akibat infeksi luka yang tak kunjung pulih. (Sumber: Riaupos.co)
Si Undan, buaya raksasa 5,7 meter, mati usai 19 hari dirawat DPKP Inhil akibat infeksi luka yang tak kunjung pulih. (Sumber: Riaupos.co)

Jawa Pos Radar Lawu - Setelah 19 hari menjalani perawatan intensif di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), buaya muara raksasa sepanjang 5,7 meter yang dikenal dengan nama Si Undan akhirnya dinyatakan mati pada Kamis (20/11/2025).

Kabar ini menutup babak panjang penanganan satwa liar yang sempat menyita perhatian publik, baik di wilayah Riau maupun secara nasional.

Penangkapan yang Menghebohkan

Si Undan pertama kali ditangkap oleh warga di Sungai Undan, Kecamatan Reteh, Kabupaten Inhil, pada (31/11/2025) lalu. Penangkapan ini bukanlah peristiwa biasa. Ukuran tubuh buaya yang luar biasa besar dengan panjang mencapai 5,7 meter dan berat sekitar 585 kilogram menjadikannya salah satu buaya terbesar yang pernah ditemukan di wilayah tersebut.

Proses penangkapan dilakukan dengan hati-hati karena mempertimbangkan keselamatan warga dan kondisi buaya yang saat itu sudah menunjukkan tanda-tanda luka serius.

Setelah berhasil diamankan, buaya tersebut langsung diserahkan kepada DPKP Inhil untuk mendapatkan perawatan medis. Lokasi perawatan berada di fasilitas DPKP di Tembilahan, yang kemudian menjadi pusat perhatian masyarakat dan media.

Perawatan Intensif dan Upaya Penyelamatan

Selama hampir tiga minggu, tim dari DPKP Inhil bersama sejumlah pihak terkait berupaya maksimal untuk menyelamatkan Si Undan.

Luka-luka yang diderita buaya tersebut cukup parah, terutama di bagian tubuh yang terkena jerat saat proses penangkapan. Infeksi yang berkembang dari luka-luka itu menjadi tantangan utama dalam proses pemulihan.

Tim medis hewan melakukan berbagai tindakan, mulai dari pemberian antibiotik, pembersihan luka, hingga pengawasan ketat terhadap kondisi vital buaya.

Namun, meskipun berbagai upaya telah dilakukan, kondisi Si Undan terus menurun. Pada hari ke-19 perawatan, tepatnya pukul 11.00 WIB, buaya tersebut dinyatakan mati.

Kematian Si Undan menjadi pukulan bagi tim penyelamat yang telah bekerja keras. Namun, mereka juga menyadari bahwa kondisi awal buaya saat ditangkap memang sudah sangat kritis. Infeksi yang menyebar cepat dan trauma fisik yang berat menjadi faktor utama yang mempercepat kematian satwa tersebut.

Reaksi Publik dan Pemerhati Satwa

Kabar kematian Si Undan langsung menyebar luas di media sosial dan media massa. Banyak pihak menyampaikan rasa duka atas kematian buaya muara tersebut.

Beberapa pemerhati satwa liar menyoroti pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai penanganan satwa liar yang terluka atau terjebak di lingkungan permukiman.

Kasus Si Undan juga membuka diskusi tentang perlunya fasilitas rehabilitasi satwa liar yang lebih memadai di daerah-daerah yang rawan konflik antara manusia dan hewan liar.

Dengan meningkatnya interaksi antara manusia dan habitat buaya di wilayah pesisir dan sungai, potensi konflik akan semakin besar jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat.

Tantangan Penanganan Satwa Liar di Daerah

DPKP Inhil selama ini memang tidak memiliki fasilitas khusus untuk penanganan satwa liar, terutama yang berukuran besar seperti buaya muara. Penanganan terhadap Si Undan dilakukan dengan segala keterbatasan, baik dari sisi tenaga medis, peralatan, maupun tempat perawatan.

Hal ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memperkuat kapasitas penanganan satwa liar di masa mendatang.

Selain itu, koordinasi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan lembaga konservasi juga perlu ditingkatkan. Penangkapan satwa liar oleh warga tanpa pendampingan dari pihak berwenang bisa berisiko tinggi, baik bagi keselamatan manusia maupun hewan itu sendiri.

Nasib Bangkai Si Undan

Setelah dinyatakan mati, bangkai Si Undan masih berada di bawah pengawasan DPKP Inhil. Pihak dinas menyatakan bahwa mereka masih menunggu instruksi lebih lanjut dari instansi terkait mengenai penanganan bangkai buaya tersebut. Beberapa opsi yang dipertimbangkan antara lain pengawetan untuk keperluan edukasi atau pemakaman secara khusus.

Bangkai buaya sebesar itu tentu memerlukan penanganan yang tidak biasa. Selain mempertimbangkan aspek teknis, pihak berwenang juga harus memperhatikan aspek hukum dan etika dalam pengelolaan bangkai satwa liar yang dilindungi.

Momentum untuk Refleksi dan Edukasi

Kisah tragis Si Undan menjadi pengingat bahwa interaksi manusia dengan alam harus dikelola dengan bijak. Sungai Undan dan wilayah sekitarnya adalah habitat alami bagi buaya muara, dan keberadaan mereka merupakan bagian dari ekosistem yang harus dijaga. Ketika habitat mereka terganggu atau mereka merasa terancam, potensi konflik dengan manusia akan meningkat.

Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga jarak aman dari satwa liar, serta prosedur yang harus dilakukan jika menemukan hewan liar di lingkungan permukiman, menjadi sangat penting.

Pemerintah daerah bersama lembaga konservasi bisa memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan kesadaran publik melalui kampanye dan pelatihan. (husnul-mg-uinpo/kid)

Editor : Nur Wachid
#inhil #Si Undan #Buaya muara raksasa #mati #perawatan #DPKP