Jawa Pos Radar Lawu — Di sebuah sudut wilayah Pemulutan, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, kisah seorang pria bernama Muhammad berubah menjadi sorotan publik. Bukan karena skandal, bukan pula karena kontroversi, melainkan karena satu hal yang semakin langka di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern ketulusan seorang anak terhadap ibunya.
Kisah itu pertama kali mencuat dari sebuah video yang diunggah di akun TikTok @yayasanbagusmandiriinsan, yang kemudian menyebar luas hingga diangkat oleh sejumlah portal viral dan media lokal. Dalam video tersebut, Muhammad tampak duduk di samping ibunya yang sudah renta, dengan cerita yang menggugah siapa pun yang mendengarnya.
Menurut penuturan yang beredar, Muhammad memilih meninggalkan rumah, istrinya, dan anak-anaknya bukan karena konflik, tetapi karena ia tak sanggup melihat ibunya hidup sendiri tanpa perhatian. Di dalam video, ia bercerita bahwa keberadaan sang ibu sempat tidak diterima oleh keluarganya.
Ia mengaku menerima perlakuan tidak menyenangkan, bahkan pernah sakit selama beberapa hari tanpa diperhatikan. Cerita itu makin menguras emosi publik ketika disebutkan bahwa ia sempat tidak diberi makan oleh keluarganya sendiri.
Bagi Muhammad, pilihan itu berat, tetapi ia menjalaninya dengan lapang. Ia kemudian tinggal bersama ibunya di sebuah yayasan sosial yang menampung mereka. Di sanalah ia mulai bekerja serabutan, mengurus ibunya sepenuh hati, memastikan perempuan yang melahirkannya itu tidak kekurangan apa pun meski hidup sederhana.
Suatu hari, keluarganya datang menjemput. Sang istri dan anak-anak disebut sempat memohon agar Muhammad mau pulang, bahkan bersujud sambil menangis. Namun, ia memilih tetap tinggal bersama ibunya. Bagi sebagian orang, keputusannya mungkin tampak keras. Namun bagi Muhammad, itu adalah bentuk bakti yang tak bisa ditawar.
Viralnya kisah ini membuat perhatian masyarakat tertuju pada kondisi mereka. Warga dan relawan berdatangan ke yayasan, memberikan bantuan makanan, pakaian, hingga kebutuhan harian. Kepala desa setempat yang mengetahui cerita ini menyampaikan akan membantu mencarikan atau bahkan membangunkan rumah baru untuk Muhammad dan ibunya agar mereka dapat hidup lebih layak dan mandiri.
Di tengah gempuran berita negatif dan drama media sosial, kisah Pak Muhammad menjadi oase yang menyentuh ribuan hati. Ia menunjukkan bahwa kasih sayang kepada orang tua tetap menjadi nilai mulia yang tak lekang oleh waktu, meski kehidupan kadang memaksa seseorang membuat pilihan paling sulit dalam hidup.
Dalam keterbatasan, ia memilih jalan yang tidak semua orang mampu tempuh meninggalkan kenyamanan, melepaskan keluarga, dan mengabdi penuh pada seorang ibu yang tak lagi berdaya. Bagi Muhammad, kebahagiaan itu sederhana cukup melihat ibunya tersenyum dan merasa tidak sendiri.
Dan untuk jutaan pengguna media sosial yang menontonnya, kisah ini bukan sekadar viral. Ini adalah pengingat bahwa cinta yang tulus sering kali lahir dari pengorbanan sunyi yang tidak pernah meminta balasan. (hamid-mg-uinpo/kid)
Editor : Nur Wachid