Jawa Pos Radar Lawu - Karawang diguyur hujan ringan ketika jenazah Rido tiba di rumah duka. Tidak ada sirine, tidak ada keramaian hanya isak tertahan keluarga dan tetangga yang masih sulit percaya bahwa anak yang selalu berjalan pulang-pergi tanpa menyusahkan siapa pun itu kini telah pergi untuk selamanya. Rido, 15 tahun, bocah disabilitas yang dikenal pendiam dan penurut, menjadi korban salah sangka. Ia dihajar hidup-hidup oleh warga yang menuduhnya maling, hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir setelah bertahan dalam koma lebih dari sepekan.
Berawal dari Salah Paham
Peristiwa itu terjadi pada dini hari, ketika sebagian besar orang masih terlelap. Rido memasuki teras sebuah rumah di Desa Tegalwaru, Cilamaya Wetan. Bagi orang lain, tindakan itu mungkin mencurigakan. Tapi bagi keluarga, itu bukan sesuatu yang aneh Rido kerap berjalan tanpa arah karena kondisi mentalnya.
Ia tidak pandai berbicara, tidak mahir menjelaskan maksudnya, dan sering gentar ketika ditanya banyak orang. Beberapa warga yang merasa terganggu langsung menginterogasinya.
Namun Rido gelagapan. Kata-katanya tidak jelas, tatapannya kosong. Bagi orang yang tidak mengenalnya, ia tampak seperti pelaku kejahatan. Dari situlah pukulan pertama mendarat. Menyusul teriakan, tendangan, dan hantaman benda keras. Tubuh remaja itu digebuki berkali-kali padahal ia tidak melawan. Ia tidak mampu.
Pertarungan Panjang berakhir
Ketika massa akhirnya berhenti, tubuh Rido tergeletak dalam keadaan mengenaskan. Ia sempat dibawa ke puskesmas, lalu dirujuk ke RSUD Karawang, hingga akhirnya ke RSUD Bayu Asih Purwakarta. Di sana, dokter membuka bagian kepala untuk membuang gumpalan darah yang menekan otaknya.
Namun operasi besar bukan jaminan keajaiban. Rido tetap tak sadarkan diri. Selang pernapasan menempel di tubuh mungilnya. Peralatan di sekelilingnya berbunyi tanpa henti. Keluarganya hanya mampu memegang tangannya sambil berdoa, berharap ia terbangun.
Tapi pada 13 November, tepat pukul 12.30 siang, denyut itu perlahan melemah. Layar monitor meredup. Dan perjuangan Rido pun berakhir.
Keadilan untuk Keluarga Kecil
Kabar meninggalnya Rido menyebar dengan cepat, bukan hanya di Karawang, tetapi di seluruh Indonesia. Empat warga telah ditetapkan sebagai tersangka. Proses hukum berjalan, tetapi bagi keluarga, tidak ada hukuman yang mampu mengembalikan Rido ke rumah. Yang bisa mereka lakukan hanyalah memastikan kasus ini tidak disapu angin seperti banyak kasus main hakim sendiri yang lain.
Ayahnya—yang selama ini merawat Rido dengan kesabaran luar biasa—mengatakan hanya ingin dua hal: keadilan dan perlindungan bagi anak-anak disabilitas lainnya. “Dia tidak mampu membela diri… Dia bahkan tidak mengerti kenapa dipukul,” ucapnya lirih.
Solidaritas di Dunia Maya
Sejak insiden itu mencuat, media sosial penuh dengan luapan emosi publik. Tagar #JusticeForRido viral di berbagai platform, menjadi bentuk solidaritas sekaligus kemarahan warganet terhadap tindakan main hakim sendiri. Banyak yang membagikan kisah serupa, mengingatkan bahwa disabilitas bukan alasan untuk dicederai, dan salah paham tidak seharusnya dibalas dengan kekerasan.
Di tengah gelombang komentar dan doa, terselip harapan agar tragedi ini membuka mata masyarakat: bahwa tidak semua yang terlihat “berbeda” adalah ancaman; kadang mereka hanya butuh dipandu pulang.
Meninggalkan Luka yang Tidak Terlihat
Di rumah kecil itu, foto Rido kini dipasang dengan bingkai sederhana. Tidak ada hiasan berlebih, hanya bunga melati segar yang diganti setiap pagi. Ibunya masih sering menatap kosong ke halaman, membayangkan anaknya pulang sambil menggumam pelan seperti biasanya.
Rido mungkin tidak mampu menjelaskan apa yang ia rasakan selama hidupnya, tetapi kepergiannya berbicara keras—bahwa ada yang salah dalam cara masyarakat memperlakukan perbedaan.
Ia pergi di usia yang seharusnya penuh tawa dan masa depan. Ia pergi setelah dipukuli oleh orang-orang yang tidak mengenalnya. Tetapi kisahnya kini menggema lebih jauh dari yang mungkin pernah ia bayangkan. (hamid-mg-uinpo/kid)
Editor : Nur Wachid