Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Mata Lebam Siswi SD di Palembang Viral, Pemkot Turun Tangan

Nur Wachid • Rabu, 5 November 2025 | 23:15 WIB
Walikota Palembang Ratu Dewa mengunjungi rumah orang tua siswi SD yang matanya lebam (Sumber: ANTARA SUMSEL/HO- Pemkot Palembang)
Walikota Palembang Ratu Dewa mengunjungi rumah orang tua siswi SD yang matanya lebam (Sumber: ANTARA SUMSEL/HO- Pemkot Palembang)

Jawa Pos Radar Lawu - Kasus mata lebam yang dialami seorang siswi SD Negeri 150 Palembang, berinisial FT (7), menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial.

Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang bergerak cepat menanggapi insiden tersebut dengan melakukan kunjungan langsung ke rumah korban dan berkoordinasi dengan pihak sekolah serta kepolisian.

Kejadian ini pertama kali diketahui oleh sang ibu, Sukrisnawati alias Erna (40), saat menjemput anaknya pulang sekolah pada Senin, (27/10 /2025) kemarin. Ia terkejut melihat mata anaknya memerah dan membengkak.

“Saya langsung membawa anak saya ke rumah sakit karena khawatir ada luka serius,” ujar Erna dalam laporan yang dibuat di Polrestabes Palembang.

Unggahan foto kondisi FT oleh akun Instagram @Virasoniaaaa memicu reaksi luas dari masyarakat. Banyak yang mempertanyakan keamanan lingkungan sekolah dan meminta klarifikasi dari pihak terkait.

Pemerintah Kota Palembang Turun Tangan

Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, langsung mendatangi rumah keluarga FT pada Senin, (3/11/2025).

Dalam kunjungannya, ia menegaskan bahwa Pemkot akan memastikan penanganan medis dan psikologis terhadap korban.

“Kami ingin memastikan kondisi Fatiyah ditangani secara medis oleh pihak rumah sakit. Kami juga akan mendampingi keluarga dalam proses hukum,” ujar Ratu Dewa.

Selain itu, Pemkot Palembang juga menginstruksikan Dinas Pendidikan untuk melakukan evaluasi terhadap lingkungan sekolah dan prosedur keamanan siswa.

“Kami tidak ingin ada kasus serupa terjadi lagi. Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak,” tambahnya.

Dugaan Kekerasan dan Penyelidikan Polisi

Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa FT mengalami cedera akibat pukulan benda tumpul. Hal ini memperkuat dugaan bahwa kekerasan terjadi di lingkungan sekolah. Namun, pihak sekolah membantah adanya tindakan kekerasan dari guru maupun siswa lain.

Kepala SD Negeri 150 Palembang menyatakan bahwa pihaknya telah menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada aparat kepolisian. “Kami tidak ingin berspekulasi. Biarkan penyelidikan berjalan sesuai prosedur,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolrestabes Palembang menyebutkan bahwa pihaknya telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk guru dan teman sekelas FT.

“Kami sedang mengumpulkan bukti dan keterangan untuk memastikan kronologi kejadian. Jika terbukti ada unsur pidana, pelaku akan diproses sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.

Reaksi Publik dan Lembaga Perlindungan Anak

Kasus ini mendapat perhatian dari berbagai lembaga perlindungan anak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sumatera Selatan meminta agar proses hukum dilakukan secara transparan dan berpihak pada korban.

“Kami mendorong agar anak mendapatkan pendampingan psikologis dan hukum. Jangan sampai trauma berkepanjangan mengganggu tumbuh kembangnya,” ujar perwakilan KPAI Sumsel.

Evaluasi Sistem Pengawasan Sekolah

Dinas Pendidikan Palembang mengakui bahwa sistem pengawasan di sekolah perlu ditingkatkan. Kepala Dinas Pendidikan menyatakan bahwa pihaknya akan mengadakan pelatihan bagi guru dan staf sekolah mengenai penanganan kekerasan terhadap anak.

“Kami akan memperkuat sistem pelaporan internal dan memperluas kerja sama dengan psikolog anak,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa SD Negeri 150 akan menjadi pilot project dalam penerapan sistem keamanan baru.

“Kami akan memasang CCTV di area strategis dan memperketat pengawasan saat jam istirahat dan pulang sekolah,” ujarnya.

Dukungan dari Komunitas dan LSM

Sejumlah komunitas dan LSM di Palembang turut memberikan dukungan kepada keluarga FT. Mereka menggalang dana untuk biaya pengobatan dan pendampingan hukum.

“Kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat peduli dan tidak tinggal diam terhadap kekerasan terhadap anak,” ujar salah satu relawan.

Komunitas Guru Peduli Anak juga mengadakan diskusi publik mengenai pentingnya etika dan empati dalam pendidikan. “Guru bukan hanya pengajar, tapi juga pelindung. Kita harus membangun budaya sekolah yang ramah anak,” kata moderator diskusi.

Langkah Selanjutnya

Pemkot Palembang berjanji akan mengawal kasus ini hingga tuntas. Wali Kota Ratu Dewa menyatakan bahwa pihaknya akan membentuk tim investigasi independen untuk menilai kondisi sekolah dan memberikan rekomendasi kebijakan.

“Kami tidak ingin kasus ini berlalu begitu saja. Ini momentum untuk memperbaiki sistem pendidikan kita,” ujarnya.

Sementara itu, keluarga FT berharap agar pelaku segera ditemukan dan anaknya bisa kembali bersekolah dengan aman. “Kami hanya ingin keadilan dan perlindungan untuk anak kami,” kata Erna. (husnul-mg-uinpo/kid)

Editor : Nur Wachid
#pemkot #sd #anak #palembang #Mata lebam #viral #kekerasan