Jawa Pos Radar Lawu – Sebuah video siaran langsung akun media sosial resmi Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjadi bahan pembicaraan publik setelah percakapan internal tim admin bocor dan terdengar jelas di tengah jeda live. Potongan suara tersebut viral di TikTok dan X (Twitter), memunculkan dugaan kegiatan lapangan wali kota hanya dilakukan untuk kepentingan konten.
Suara Bocor Saat Live
Peristiwa ini terjadi pada Jumat, 31 Oktober 2025, saat akun Instagram resmi Wali Kota Surabaya melakukan siaran langsung kegiatan lapangan. Ketika sesi live dijeda, mikrofon ternyata masih aktif dan menangkap percakapan admin yang berada di lokasi.
Dalam rekaman yang tersebar, terdengar suara seorang perempuan berkata: “Lek kaya gini, Mat, ini kan videone bagus bapak turun, kita simpen dulu ae. Nek besok-besok hujan bisa dipakai, epok-epok keliling.”
Kata “epok-epok” dalam dialek Surabaya berarti pura-pura atau seolah-olah, yang kemudian menimbulkan tafsir negatif di kalangan warganet. Banyak yang menilai ucapan itu seolah menggambarkan kegiatan wali kota dibuat demi pencitraan, bukan murni kerja lapangan.
Klarifikasi dan Permintaan Maaf
Admin yang suaranya terekam, Hening Dzikrillah, akhirnya buka suara melalui unggahan klarifikasi di akun Instagram pribadinya. Ia menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat dan Wali Kota Surabaya. “Dengan penuh penyesalan, saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya kepada seluruh masyarakat dan terutama kepada Bapak Wali Kota yang selama ini sudah memberikan kepercayaan kepada saya,” tulisnya.
Hening menegaskan bahwa ucapan tersebut bukanlah instruksi dari Eri Cahyadi, melainkan murni candaan pribadi.“Kejadian ini murni kelalaian pribadi saya. Bukan strategi konten dari Pak Wali,” ujarnya.
Ia juga mengakui bahwa, meskipun dalam konteks bercanda dengan rekan kerja, ucapannya tetap tidak pantas dan menyalahi etika profesional. “Meski konteksnya guyonan, itu tetap menyalahi standar kerja yang selama ini menjadi prinsip dasar Bapak Wali Kota,” jelasnya.
Mengundurkan Diri
Tak lama setelah unggahan klarifikasi itu, Hening Dzikrillah resmi mengundurkan diri dari posisinya sebagai admin media sosial Wali Kota Surabaya. “Dengan penuh rasa tanggung jawab, saya memohon maaf kepada Pak Wali dan mengajukan permohonan pengunduran diri,” tulisnya dalam unggahan lanjutan.
Keputusan ini ia ambil sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kegaduhan publik yang timbul. Ia juga berharap masyarakat tidak lagi menyeret nama Wali Kota dalam persoalan pribadinya.
Pihak Pemkot Surabaya belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait penggantian admin atau evaluasi terhadap tim media sosial. Namun, DPRD Kota Surabaya menilai kejadian ini sebagai kesalahan individu, bukan gambaran kinerja Pemkot secara keseluruhan. “Jangan sampai publik menilai kegiatan wali kota selama ini hanya pencitraan. Itu murni kelalaian personal,” ujar salah satu anggota DPRD.
Kasus ini menjadi pengingat bagi semua tim komunikasi publik, khususnya pengelola media sosial pejabat daerah, untuk lebih berhati-hati dalam mengelola siaran langsung. Kelalaian sekecil apa pun bisa berdampak besar pada citra lembaga dan pejabat publik.
Publik berharap insiden ini menjadi evaluasi serius agar komunikasi pemerintah di media sosial semakin profesional, transparan, dan tidak menimbulkan kesan pencitraan. (hamid-mg-uinpo/kid)
Editor : Nur Wachid