Pemilik Wuku Wugu Dinaungi Batara Singajalma, Tafsir Pawukon Primbon Jawa

Deni Kurniawan • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 16:50 WIB
Ilustrasi wuku wugu dalam sistem pawukon di primbon Jawa.
Ilustrasi wuku wugu dalam sistem pawukon di primbon Jawa.

Jawa Pos Radar Lawu - Cerdas, berwawasan luas, dan dipercaya memiliki rezeki melimpah. Itulah sejumlah kelebihan orang kelahiran Wuku Wugu menurut primbon Jawa.

Namun, di balik keberuntungan tersebut, terdapat pengapesan yang secara tradisional dikaitkan dengan bahaya gigitan ular berbisa, racun, hingga perselisihan dengan orang terdekat.

Dalam sistem Pawukon Jawa, Wuku Wugu atau Ugu menempati urutan ke-26 dari 30 wuku. Wuku ini berada setelah Bala dan sebelum Wayang. Setiap wuku berlangsung selama tujuh hari sehingga satu siklus Pawukon mencakup 210 hari.

Orang kelahiran Wuku Wugu digambarkan memiliki kecerdasan, kemampuan mengelola harta, dan sifat rendah hati. Namun, kecenderungan egois, mudah cemburu, serta enggan bergaul juga menjadi kelemahan yang perlu diperhatikan.

Lantas, bagaimana tafsir keberuntungan Wuku Wugu? Apa saja pengapesan, hari naas, dan pantangan yang disebut dalam tradisi Pawukon Jawa?

Mengenal Wuku Wugu dan Makna Lambangnya

Dalam kisah Pawukon, Raden Wugu merupakan putra Prabu Watugunung dan Dewi Sinta. Ia memiliki saudara kembar bernama Raden Bala.

Wuku Wugu dinaungi Bathara Singajalma atau Singajanma. Dalam penafsiran tradisional, sosok tersebut menggambarkan pribadi yang memiliki pengetahuan luas, cerdik, serta mampu bersikap rendah hati meskipun menyimpan kecenderungan mementingkan diri sendiri.

Selain Bathara Singajalma, terdapat sejumlah lambang yang menggambarkan karakter dan perjalanan hidup orang kelahiran Wuku Wugu.

Pohon wuni yang sedang berbuah melambangkan pengetahuan dan kemampuan yang menarik perhatian orang lain. Namun, lambang ini juga dikaitkan dengan kecenderungan seseorang merasa kurang puas setelah memperoleh sesuatu yang sebelumnya diinginkan.

Burung kepodang menggambarkan sifat mudah cemburu dan kecenderungan lebih mengutamakan kepentingan pribadi.

Sementara itu, gedhong atau bangunan penyimpanan yang berada di belakang dan tertutup melambangkan sifat hemat yang dapat berubah menjadi kekikiran.

Ketiga lambang tersebut menggambarkan bahwa keberuntungan Wuku Wugu perlu diimbangi dengan kemampuan mengendalikan diri dan menjaga hubungan baik dengan orang lain.

Keberuntungan Wuku Wugu: Rezeki Besar dan Kaya Ilmu

Salah satu tafsir keberuntungan Wuku Wugu berkaitan dengan kecerdasan dan keluasan pengetahuan.

Orang kelahiran wuku ini digambarkan memiliki kemampuan memahami persoalan, mengembangkan ilmu, serta melihat suatu keadaan dari berbagai sudut pandang.

Dalam kehidupan sehari-hari, karakter tersebut dapat menjadi modal untuk mengembangkan pekerjaan, membangun usaha, maupun memperoleh kepercayaan dari orang lain.

Rezeki Melimpah dan Pandai Menjaga Harta

Dalam naskah Primbon Jawa Pawukon karya Tanaya tahun 1972, Wuku Wugu digambarkan memiliki banyak rezeki.

Lambang pohon wuni yang sedang berbuah berkaitan dengan gambaran tersebut. Sementara itu, gedhong tertutup menunjukkan kecenderungan menjaga harta yang telah diperoleh.

Orang kelahiran Wuku Wugu secara tradisional dipercaya memiliki kemampuan mengatur pengeluaran dan tidak mudah menghamburkan kekayaan.

Namun, gambaran rezeki Wuku Wugu bukan jaminan bahwa seseorang akan selalu hidup berkecukupan.

Keberuntungan tetap perlu diiringi usaha, keterampilan, serta kemampuan mengelola keuangan secara bijaksana.

Cerdas dan Memiliki Wawasan Luas

Kecerdasan menjadi salah satu kelebihan yang paling menonjol dalam tafsir watak Wuku Wugu.

Orang kelahiran wuku ini digambarkan memiliki pengetahuan luas dan mampu memahami berbagai persoalan.

Sifat tersebut dapat membantu seseorang mengembangkan kemampuan diri, terutama dalam pekerjaan yang membutuhkan pemikiran, ketelitian, dan pengambilan keputusan.

Namun, kecerdasan perlu diimbangi kerendahan hati agar tidak berubah menjadi sikap merasa lebih mengetahui segala sesuatu dibandingkan orang lain.

Pengapesan Wuku Wugu: Bahaya Gigitan Ular Berbisa dan Racun

Wuku Wugu memiliki pengapesan yang secara tradisional berkaitan dengan bahaya gigitan ular.

Dalam naskah Primbon Jawa Pawukon karya Tanaya, aral Wuku Wugu disebut sebagai kemungkinan mengalami celaka akibat gigitan ular. Penafsiran lain memperluas gambaran tersebut menjadi bahaya gigitan binatang berbisa dan racun.

Secara simbolis, pengapesan tersebut dapat dipahami sebagai pengingat agar seseorang selalu memperhatikan keselamatan ketika berada di lingkungan yang berpotensi memiliki hewan berbahaya.

Namun, pengapesan Wuku Wugu tidak berarti setiap orang kelahiran wuku ini pasti mengalami gigitan ular atau keracunan.

Perselisihan dengan Kerabat dan Orang Terdekat

Selain bahaya gigitan ular, Wuku Wugu memiliki lambang yang berkaitan dengan kemungkinan mengalami kesulitan akibat pertengkaran dengan saudara atau kerabat.

Lambang tersebut disebut keluyu kerah padha uwong, yang menggambarkan persoalan akibat perselisihan dengan orang lain, termasuk keluarga sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, tafsir tersebut dapat dimaknai sebagai pengingat agar seseorang berhati-hati dalam menjaga hubungan dengan orang-orang terdekat.

Perbedaan pendapat, persoalan harta, maupun kesalahpahaman dapat menimbulkan konflik apabila tidak diselesaikan melalui komunikasi yang baik.

Hari Naas Wuku Wugu dan Pantangan Arah Selatan

Dalam salah satu penafsiran primbon Jawa, Minggu Pahing disebut sebagai hari naas Wuku Wugu. Sementara itu, Jumat Pahing dipercaya sebagai hari baiknya.

Namun, perhitungan hari dalam naskah Pawukon dapat lebih terperinci karena setiap hari dalam satu masa wuku memiliki tafsir tersendiri.

Selain perhitungan hari, Wuku Wugu memiliki pantangan arah yang berkaitan dengan kedudukan Bathara Kala.

Dalam naskah Primbon Jawa Pawukon, Kala pada Wuku Wugu digambarkan berada di sebelah selatan dan menghadap ke utara.

Karena itu, terdapat anjuran tradisional untuk menghindari perjalanan menuju arah selatan selama tujuh hari masa Wuku Wugu.

Pantangan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan budaya Jawa, bukan kepastian bahwa seseorang akan mengalami musibah ketika bepergian menuju arah selatan.

Baca Juga: Racun dan Guna-Guna Jadi Pengapesan Wuku Bala, Sistem Pawukon Primbon Jawa

Makna Wuku Wugu dalam Kehidupan Sehari-hari

Wuku Wugu menggambarkan perpaduan antara kecerdasan, keluasan wawasan, kemampuan menjaga rezeki, dan kerendahan hati dengan sejumlah kelemahan yang perlu dikendalikan.

Keberuntungan Wuku Wugu dapat dimaknai sebagai pengingat untuk mengembangkan pengetahuan, bekerja dengan tekun, serta menggunakan harta secara bijaksana.

Sementara itu, pengapesan berupa bahaya gigitan ular berbisa dan racun mengandung pesan tentang pentingnya menjaga keselamatan.

Kecenderungan egois, mudah cemburu, dan potensi perselisihan dengan kerabat juga menjadi pengingat agar seseorang mampu menjaga hubungan baik dengan sesama.

Dalam konteks budaya Jawa, tafsir Wuku Wugu dapat dijadikan sarana refleksi diri. Keberuntungan tetap memerlukan usaha, sedangkan pengapesan bukan ketentuan nasib yang pasti terjadi. (den)

Editor : Deni Kurniawan
pawukon wuku wugu Primbon Jawa keberuntungan rezeki