Jawa Pos Radar Lawu - Dalam kisah Pawukon, Raden Maktal merupakan putra Prabu Watugunung dan Dewi Sinta yang memiliki saudara kembar bernama Raden Wuye.
Wuku Maktal dinaungi Bathara Sakri, sosok yang melambangkan keteguhan hati dan kesetiaan terhadap janji. Orang kelahiran wuku ini digambarkan memiliki kemauan kuat serta tidak mudah meninggalkan tanggung jawab.
Pohon nagasari menjadi lambang Wuku Maktal. Dalam tafsir primbon, pohon tersebut menggambarkan kebaikan rupa dan hati, tutur kata yang menyenangkan, serta pengabdian yang dihargai orang lain.
Sementara itu, burung ayam alas melambangkan kecerdasan, ketangkasan, dan kemampuan menarik perhatian orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi.
Lambang lainnya berupa gedhong yang berjajar dengan umbul-umbul. Simbol tersebut menggambarkan keberhasilan yang datang bersamaan dengan kedudukan dan harta benda.
Keberuntungan Wuku Maktal: Rezeki dan Kedudukan Datang Bersamaan
Salah satu tafsir keberuntungan Wuku Maktal berkaitan dengan peluang memperoleh kedudukan sekaligus kemapanan ekonomi.
Lambang gedhong dan umbul-umbul menggambarkan seseorang yang dipercaya memiliki kesempatan meraih keberhasilan melalui pekerjaan maupun pengabdian.
Orang kelahiran Wuku Maktal juga digambarkan memiliki kemampuan menarik simpati orang lain berkat kecerdasan, ketangkasan, dan tutur kata yang menyenangkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, karakter tersebut dapat menjadi modal untuk membangun hubungan kerja, memperoleh kepercayaan, dan mengembangkan kemampuan diri.
Namun, gambaran keberuntungan tersebut bukan jaminan seseorang akan memperoleh jabatan tinggi atau kekayaan melimpah. Keberhasilan tetap memerlukan usaha, keterampilan, dan keputusan yang tepat.
Teguh Pendirian dan Setia pada Tanggung Jawab
Keteguhan hati menjadi kelebihan lain yang dilekatkan pada Wuku Maktal.
Orang kelahiran wuku ini digambarkan memiliki pendirian kuat, setia terhadap kesanggupan, dan bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan pekerjaan.
Karakter tersebut dapat mendukung keberhasilan apabila diimbangi kesabaran serta kesediaan menerima masukan.
Baca Juga: Wuku Medangkungan dalam Primbon Jawa: Keberuntungan, Rezeki, dan Pengapesan
Sebaliknya, pendirian yang terlalu keras berpotensi menimbulkan persoalan ketika seseorang menghadapi perbedaan pendapat.
Pengapesan Wuku Maktal: Rentan Terlibat Pertengkaran
Di balik gambaran keberuntungannya, Wuku Maktal memiliki pengapesan berupa pertengkaran atau perkelahian.
Dalam naskah Primbon Jawa Pawukon, Tanaya, 1972, aral Wuku Maktal disebut dengan istilah têtukaran, yang berarti pertengkaran.
Pertanda tersebut menjadi salah satu gambaran kesialan yang secara tradisional dikaitkan dengan orang kelahiran Wuku Maktal.
Mudah Kecewa ketika Mendapat Kritik
Salah satu kelemahan Wuku Maktal adalah kecenderungan mudah kecewa apabila pekerjaan atau tindakannya dianggap kurang tepat oleh orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi.
Sifat tersebut dapat memicu ketegangan apabila seseorang merasa harga dirinya direndahkan.
Dalam penafsiran simbolis, pengapesan berupa pertengkaran menjadi pengingat agar orang kelahiran Wuku Maktal mampu mengendalikan emosi dan tidak terburu-buru menanggapi kritik.
Sikap sedikit sombong yang disebut dalam tafsir tradisional juga perlu diimbangi dengan kerendahan hati.
Pengapesan tersebut bukan kepastian bahwa seseorang akan mengalami kekerasan atau perselisihan. Tafsirnya dapat dipahami sebagai nasihat untuk menghindari konflik yang tidak perlu.
Hari Baik Wuku Maktal dan Pantangan Arah Tenggara
Dalam salah satu penafsiran primbon, Rabu Kliwon disebut sebagai hari baik Wuku Maktal. Sementara itu, hari naasnya tidak ditetapkan secara jelas.
Perhitungan tersebut merupakan bagian dari tradisi Jawa dalam menentukan waktu untuk melaksanakan kegiatan tertentu.
Selain hari baik, Wuku Maktal memiliki pantangan arah yang berkaitan dengan kedudukan Bathara Kala.
Dalam salah satu uraian tradisional, arah tenggara disebut sebagai tempat bersemayamnya ancaman sehingga terdapat anjuran menghindari perjalanan menuju arah tersebut selama tujuh hari masa Wuku Maktal.
Pantangan itu merupakan bagian dari kepercayaan budaya, bukan kepastian bahwa perjalanan ke tenggara akan mendatangkan musibah.
Selamatan Wuku Maktal untuk Memohon Keselamatan
Tradisi Pawukon Jawa juga mengenal selamatan sebagai bentuk permohonan keselamatan.
Dalam salah satu uraian primbon, sarana selamatan Wuku Maktal meliputi nasi yang dimasak dari beras satu fitrah, sekitar 3,5 kilogram menurut salah satu penafsiran, dengan lauk ayam dan bebek.
Hidangan tersebut disertai doa keselamatan sesuai tradisi yang dijalankan masyarakat.
Pelaksanaan selamatan dapat berbeda menurut kebiasaan daerah dan keyakinan masing-masing.
Tradisi tersebut tidak dapat dipastikan menghilangkan kesialan, tetapi menjadi bagian dari warisan budaya Jawa yang mengandung pesan tentang pentingnya doa, pengendalian diri, dan kehati-hatian.
Tafsir Wuku Maktal menggambarkan bahwa keberuntungan berupa kedudukan dan rezeki perlu diimbangi kerendahan hati. Sementara itu, pengapesan berupa pertengkaran menjadi pengingat agar seseorang mampu menjaga ucapan, menerima kritik, dan menghindari perselisihan. (den)
Editor : Deni Kurniawan