Jawa Pos Radar Lawu - Ini ulasan tentang salah satu wuku dalam sistem Pawukon Jawa. Adalah wuku Pahang.
Pahang dinaungi Bathara Tantra dan antara lain dilambangkan dengan pohon kendayakan serta burung cucak.
Perihal hari keberuntungan dan hari apes pemilik Wuku Pahang, pakem yang ditemukan tidak selalu menetapkan satu hari baik dan satu hari naas secara mutlak.
Salah satu sumber primbon lama bahkan secara eksplisit mencatat hari baik dan hari naas Pahang adalah tidak jelas.
Namun, petungan yang menguraikan tujuh dina di dalam Wuku Pahang memberikan gambaran yang lebih terperinci. Dari sinilah hari yang dianggap baik dan kurang baik dapat dibaca.
Watak Dasar Wuku Pahang
Orang yang lahir dalam Wuku Pahang secara tradisional digambarkan mempunyai karakter berani, tegas, giat bekerja, dan memiliki naluri melindungi orang lain.
Baca Juga: Kecenderungan Watak Orang Ber-Wuku Julungpujud, Titi Ngati-ati nanging Aja Wedi
Pohon kendayakan dalam simbolisme Pahang dikaitkan dengan kemampuan menjadi pengayom bagi orang yang mengalami kesusahan.
Namun, keberanian tersebut mempunyai sisi yang perlu dikendalikan. Tafsir pawukon menyebut kecenderungan banyak bicara, menentang ketika merasa dirinya benar, terlalu berhati-hati atau mudah curiga, serta keberanian yang terkadang kurang dibarengi perhitungan.
Karena itu, keberuntungan Pahang secara filosofis justru muncul ketika pemiliknya mampu mengendalikan ucapan, ego, dan keberanian.
Hari-Hari Keberuntungan Wuku Pahang
Dalam salah satu petungan tujuh hari Wuku Pahang, Rabu Kliwon menjadi salah satu hari yang paling menonjol.
Hari tersebut dianggap sangat baik untuk memulai pekerjaan dan bercocok tanam. Namun, terdapat pantangan untuk hajatan perkawinan.
Kamis Legi juga mempunyai sisi keberuntungan tersendiri, terutama untuk memulai kegiatan yang berkaitan dengan peternakan unggas. Namun, menurut sumber petungan yang sama, hari tersebut juga tidak dianjurkan untuk hajatan perkawinan.
Kemudian Jumat Pahing mempunyai karakter campuran. Hari tersebut dinilai kurang baik untuk perjalanan penting, tetapi dianggap baik untuk memulai pembongkaran bangunan.
Sementara Sabtu Pon merupakan hari yang secara tradisional dianggap baik untuk pengobatan atau ikhtiar mencari kesembuhan.
Jadi, dalam Pawukon Jawa, hari keberuntungan tidak selalu berarti semua kegiatan akan beruntung. Hari baik ditentukan pula oleh apa yang hendak dilakukan.
Baca Juga: Reshuffle Menteri Keuangan: Dua-Duanya Lahir di Hari Kliwon, Ini Weton Suahasil dan Purbaya
Hari Apes Wuku Pahang
Sementara itu, beberapa hari dalam siklus Pahang mempunyai peringatan lebih kuat.
Minggu Pahing digambarkan sebagai hari yang banyak aral melintang atau hambatan. Karena itu, hari ini secara tradisional kurang dianjurkan untuk memaksakan urusan besar.
Senin Pon dianggap kurang baik untuk bepergian dalam urusan yang sangat penting karena hasilnya dipercaya kurang menguntungkan menurut petungan tersebut.
Peringatan lebih keras terdapat pada Selasa Wage. Petungan yang sama menganjurkan menghindari perjalanan penting karena dikaitkan dengan banyak hambatan.
Orang yang lahir pada kombinasi Selasa Wage dalam Wuku Pahang juga dikaitkan dengan Lebu Katiyup Angin, yang secara tradisional ditafsirkan sebagai usaha dan hasil yang kurang sebanding serta kemungkinan munculnya pengeluaran tak terduga.
Jika disederhanakan, pola tujuh harinya adalah:
Minggu Pahing: kurang baik; rawan hambatan.
Senin Pon: kurang baik untuk perjalanan atau urusan penting.
Selasa Wage: perlu kewaspadaan tinggi, khususnya perjalanan penting.
Rabu Kliwon: baik untuk bekerja dan bercocok tanam, tetapi ada pantangan tertentu untuk perkawinan.
Kamis Legi: baik untuk memulai peternakan unggas, tetapi kurang dianjurkan untuk hajatan perkawinan.
Jumat Pahing: kurang baik untuk perjalanan penting, tetapi baik untuk membongkar bangunan.
Sabtu Pon: baik untuk pengobatan dan ikhtiar kesehatan.
Arah Apes Wuku Pahang: Selatan
Ada satu bagian petungan Pahang yang cukup konsisten pada sejumlah rujukan, yakni arah Selatan.
Dalam tradisi tersebut, selama berlangsungnya tujuh hari Wuku Pahang, Kala ditempatkan di Selatan.
Karena itu, orang yang mengikuti petungan Pahang dianjurkan tidak menuju Selatan untuk kepentingan yang sangat penting selama periode tersebut.
Ini bukan berarti seseorang tidak boleh sama sekali berjalan atau bepergian ke Selatan.
Dalam konteks budaya, pantangan tersebut terutama berkaitan dengan laku atau perjalanan yang dianggap penting.
Baca Juga: Laku Becik untuk Pemilik Wuku Mandasiya, Banyak Keberuntungan dan Anjuran Hal Baik
Bentuk Keapesan yang Dikaitkan dengan Pahang
Simbolisme Pahang cukup keras. Beberapa sumber tradisional menghubungkannya dengan gambaran burung terkena jerat, sedangkan bahayanya dikaitkan dengan keadaan terhalang, terperangkap, atau mengalami penganiayaan.
Jika dimaknai secara filosofis untuk kehidupan sekarang, apes Pahang dapat diterjemahkan sebagai peringatan terhadap keberanian tanpa perhitungan, konflik karena ucapan, terlalu percaya diri, pemborosan, serta tindakan yang akhirnya membuat diri sendiri terjebak dalam persoalan.
Jadi, sisi yang perlu dijaga pemilik Pahang bukan sekadar takut terhadap hari tertentu. Justru wataknya sendiri yang perlu dikendalikan.
Kunci Keberuntungan Pemilik Wuku Pahang
Kekuatan terbesar Pahang adalah wani nanging kudu ngati-ati—berani, tetapi tetap berhati-hati.
Ketika keberanian diimbangi pertimbangan, ucapan dijaga, dan kekuatan digunakan untuk melindungi ketimbang menantang orang lain, karakter Pahang justru mempunyai sisi yang kuat sebagai pengayom dan penolong.
Sebaliknya, ketika keberanian berubah menjadi kecerobohan dan ketegasan menjadi pertengkaran, di situlah secara filosofis jalan menuju apes terbuka. (den)
Editor : Deni Kurniawan