Jawa Pos Radar Lawu – Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Budaya Jawa punya petungan arah baik maupun sebaliknya. Salah satu pakem yang dipakai untuk menentukan hal tersebut adalah weton.
Yang mana, setiap weton punya sesuatu yang dianjurkan maupun yang tidak sesuai arah mata angin tertentu. Seperti yang dimiliki Senin Wage.
Arah Weton Senin Wage
Budaya Jawa meyakini bahwa Seni Wage memiliki arah anjuran untuk melakukan sesuatu yang baik sesuai yang diinginkan.
Bila tujuannya adalah tirakat alias ngeningake cipta, dianjurkan memilih utara sebagai arah utama dan timur sebagai alternatif.
Ini bukan berarti tirakat harus selalu menghadap utara, melainkan arah tersebut dapat dipakai sebagai simbol arah memulai laku.
Baca Juga: Wuku dan Zodiak, Serupa tapi Tak Sama, Seni Membaca Kehidupan Manusia
Utara dapat diprioritaskan untuk laku yang berorientasi pada ketenteraman batin, permohonan kelancaran hidup, introspeksi, dan penguatan niat.
Dalam salah satu petungan harian Senin Wage, utara juga ditempatkan sebagai arah pangan atau penghidupan.
Timur sebagai pilihan kedua apabila laku dimaksudkan untuk wiwitan alias memulai sesuatu.
Termasuk niat untuk membuka lembaran baru, atau memohon kejernihan dalam menentukan jalan ke depan. Namun makna simbolis ini jangan dianggap sebagai jaminan hasil.
Laku Weton Senin Wage
Untuk konteks tirakat Jawa, ada dua macam laku yang bisa dilakukan di weton dengan total nilai neptu delapan ini, Senin (4) dan Wage (4).
Malam Senin Wage: mulai setelah matahari terbenam di hari Minggu sebelum Senin Wage. Karena, dalam penanggalan tradisional Jawa pergantian hari berkaitan dengan datangnya malam.
Sikap untuk arah utara: duduk tenang menghadap Utara. Tidak perlu ritual yang rumit. Awali dengan membersihkan diri, menenangkan pikiran, kemudian berdoa sesuai keyakinan.
Baca Juga: Kamis Pon, Weton Jawa dengan Energi Positif-Negatif, Nilai Neptu 15
Niat laku: lebih baik diarahkan kepada ngeningake ati lan cipta, mengendalikan hawa nafsu, mengevaluasi diri, dan memohon tuntunan kepada Tuhan daripada mengejar kesaktian atau hasil material.
Sesirih: selama menjalani laku, kurangi makan berlebihan, perkataan yang tidak perlu, kemarahan, pertengkaran, dan tindakan yang merugikan orang lain. Sedekah atau membantu orang lain juga dapat menyertai laku. (den)
Editor : Deni Kurniawan