Jawa Pos Radar Lawu - Selembar kain menjadi ruang bagi penyandang disabilitas di Simbatan, Kabupaten Magetan, untuk bekerja sekaligus mengekspresikan kreativitas melalui Batik Ciprat Simbatan, mereka terlibat langsung dalam proses menghasilkan batik dengan pola yang hampir tidak pernah sama pada setiap kainnya.
Keunikan tersebut menjadi karakter Batik Ciprat Simbatan karena terdapat beragam corak dikembangkan, salah satunya motif Obat Nyamuk yang memiliki tampilan khas.
Lebih dari sekadar produk kerajinan, kegiatan membatik tersebut membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk terlibat dalam aktivitas produktif sehingga mereka bekerja bersama dengan pendampingan pembimbing sesuai kemampuan masing-masing.
Baca Juga: Wisata Gratis di Solo, Kampung Batik Kauman Tawarkan Pengalaman Belajar Membatik yang Unik
Ketua Batik Ciprat Simbatan Mariyani (50) mengatakan kegiatan tersebut bermula dari program Kampung Peduli pada 2015. Ketika pertama berdiri, terdapat sekitar 20 orang yang terlibat sebagai pekerja.
Saat itu, terdapat tiga jenis kegiatan yang diajukan, yakni pembuatan gerabah, kriya kayu, dan batik yang akhirnya jatuh pada pilihan kerajinan batik karena proses produksinya dinilai lebih memungkinkan untuk melibatkan penyandang disabilitas intelektual.
"Selain proses pembuatannya mudah, batik cocok untuk penyandang disabilitas intelektual," kata Mariyani
Perjalanan kelompok tersebut terus berlanjut hingga sekarang karena sejak 2022, jumlah pekerja tercatat mencapai 17 orang dengan dukungan lima pembimbing.
Pekerjaan dalam proses produksi dibagi agar seluruh pekerja mendapatkan kesempatan untuk terlibat misalnya dari mulai dari membentangkan kain, proses waterglass, pewarnaan, merebus, hingga mencuci kain.
Sementara proses mencanting masih ditangani oleh pembimbing karena kondisi pekerja menjadi pertimbangan karena aktivitas tersebut membutuhkan kemampuan motorik dan ketelitian lebih tinggi.
"Kalau pekerja yang mencanting itu tangannya getar," ujar Mariyani
Muhammad Aji (29), salah seorang pekerja penyandang disabilitas yang bergabung sejak 2023, juga merasakan tantangan ketika menggunakan canting misalnya dari berbagai tahapan produksi, proses pewarnaan justru menjadi pekerjaan yang paling disukainya.
Pengalaman berbeda dirasakan Meylani Wulandari (26) yang bergabung dengan Batik Ciprat Simbatan sejak 2019 karena menurutnya aktivitas tersebut memberinya pengalaman baru, terutama dalam mengenal dan mengerjakan proses membatik.
Kehadiran Batik Ciprat Simbatan perlahan membawa manfaat yang melampaui kegiatan produksi yang juga kerap dipilih menjadi oleh-oleh khas Kabupaten Magetan ketika ada tamu yang berkunjung.
Baca Juga: UNESCO Approved Reog: Goresan Batik Reog Ponorogo Nano Makin Menyala di Panggung Dunia
Produk yang dihasilkan sekaligus berkembang menjadi salah satu ikon Desa Simbatan karena di balik setiap kain, terdapat keterlibatan pekerja penyandang disabilitas yang menjalankan tahapan produksi bersama para pembimbing.
Dampak sosialnya juga dirasakan dalam hubungan antara penyandang disabilitas dengan masyarakat sekitar arena aktivitas bersama tersebut membuka ruang interaksi sekaligus membangun lingkungan yang lebih menerima keberadaan mereka.
"Alhamdulillah di sini tidak ada yang namanya perundungan," ujar Mariyani
Bagi Mariyani, perkembangan tersebut menjadi salah satu perubahan penting sejak Batik Ciprat Simbatan berjalan misalnya penyandang disabilitas tidak hanya mendapatkan ruang untuk bekerja, tetapi juga semakin diterima dalam kehidupan masyarakat.
Batik akhirnya menjadi penghubung antara kreativitas, aktivitas ekonomi, dan pemberdayaan sosial yang kemudian pola yang tercipta pada setiap kain pun membawa cerita dari para pekerja yang terlibat dalam proses pembuatannya.
Mariyani berharap Batik Ciprat Simbatan dapat terus bertahan dan berkembang dan juga semakin banyak penyandang disabilitas yang nantinya dapat bergabung dan memperoleh ruang untuk berkarya.
Dari program Kampung Peduli yang dimulai pada 2015, Batik Ciprat Simbatan kini berkembang menjadi salah satu identitas lokal Magetan karena keberadaannya menunjukkan bahwa selembar batik bukan hanya memiliki nilai seni dan ekonomi, tetapi juga dapat menjadi ruang yang mempertemukan penyandang disabilitas dan masyarakat tanpa sekat.
(Auliya Nur Aisyah, Magang Politeknik Negeri Madiun)
Editor : Tim Content Writer Radar Lawu