Jawa Pos Radar Lawu - Wuku Sungsang merupakan wuku ke-10 dalam rangkaian 30 wuku pada sistem Pawukon Jawa. Wuku ini berada setelah Wuku Julungwangi dan sebelum Wuku Galungan. Setiap wuku berlangsung selama tujuh hari sehingga satu siklus Pawukon Jawa berlangsung selama 210 hari.
Dalam tradisi Jawa, pawukon bukan hanya digunakan untuk menandai perjalanan waktu. Setiap wuku memiliki perlambang dan petungan yang digunakan untuk menggambarkan kecenderungan watak, perjalanan kehidupan, serta pertimbangan mengenai hari yang dianggap baik atau kurang baik.
Makna Wuku Sungsang
Kata sungsang dalam bahasa Jawa dapat merujuk pada keadaan yang terbalik atau tidak sebagaimana posisi biasanya. Secara filosofis, hal tersebut dapat dimaknai sebagai perjalanan kehidupan yang membutuhkan kemampuan menghadapi perubahan dan keadaan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Karena itu, Wuku Sungsang dapat dibaca sebagai simbol keteguhan menghadapi perubahan, kewaspadaan, dan kemampuan menemukan jalan ketika keadaan berbalik.
Orang yang lahir pada Wuku Sungsang dalam tafsir tradisional sering digambarkan mempunyai daya pikir kuat, tidak mudah menyerah, serta mampu mencari jalan keluar ketika menghadapi persoalan.
Baca Juga: Julungwangi dalam Sistem Pawukon Jawa, Berikut Ini Makna hingga Watak Pemilik Wuku Tersebut
Watak Orang yang Lahir pada Wuku Sungsang
Dalam pembacaan pawukon, kelahiran Wuku Sungsang dikaitkan dengan pribadi yang tegas, berkemauan kuat, berani menghadapi kesulitan, dan relatif cepat membaca perubahan keadaan.
Di sisi lain, ketegasan tersebut perlu dikendalikan. Apabila tidak diimbangi kesabaran, seseorang dapat menjadi mudah terburu-buru, keras dalam mempertahankan pendapat, atau mengambil keputusan ketika emosi belum tenang.
Filosofi Sungsang karena itu mengajarkan keseimbangan. Ketika keadaan tidak berjalan sebagaimana direncanakan, seseorang justru dituntut untuk menata pikiran terlebih dahulu sebelum menentukan langkah berikutnya.
Rezeki dan Perjalanan Kehidupan
Dalam tafsir budaya pawukon, perjalanan hidup orang Wuku Sungsang tidak selayaknya dimaknai sebagai nasib yang sudah ditentukan. Wuku lebih banyak memberikan gambaran simbolis mengenai kecenderungan yang dipercaya dalam tradisi masyarakat Jawa.
Salah satu kekuatan yang dilekatkan pada Sungsang adalah kemampuan menghadapi perubahan. Kesempatan dan rezeki dapat berkembang ketika keberanian tersebut disertai ketelitian serta kemampuan membangun hubungan baik dengan orang lain.
Hari Baik bagi Orang yang Lahir pada Wuku Sungsang
Dalam tradisi petungan Jawa, menentukan hari baik seseorang sebenarnya tidak cukup hanya mengetahui wukunya. Hari lahir, pasaran, neptu, serta tujuan kegiatan juga perlu diperhitungkan. Karena itu, tidak ada satu hari yang secara mutlak menjadi hari keberuntungan bagi seluruh orang yang lahir pada Wuku Sungsang.
Meski demikian, beberapa prinsip berikut dapat digunakan ketika membaca hari baik bagi kelahiran Wuku Sungsang:
- Hari baik harus disesuaikan dengan weton kelahiran. Orang yang sama-sama lahir dalam Wuku Sungsang belum tentu mempunyai hari baik yang sama apabila hari dan pasarannya berbeda.
- Tujuan kegiatan menentukan petungannya. Hari untuk menikah, membuka usaha, pindah rumah, bepergian, atau memulai pekerjaan penting dapat menggunakan pertimbangan yang berbeda.
- Neptu hari dan pasaran ikut diperhitungkan. Dalam petungan Jawa, kombinasi nilai hari dan pasaran menjadi salah satu dasar menentukan kecocokan waktu.
- Hindari menyamakan “hari baik” dengan jaminan keberuntungan. Dalam budaya Jawa, pemilihan waktu merupakan bentuk ikhtiar dan kehati-hatian, bukan kepastian bahwa suatu peristiwa akan berhasil.
- Untuk mendapatkan hari baik yang spesifik, diperlukan tanggal kelahiran lengkap. Dari tanggal tersebut dapat diketahui weton, pasaran, neptu, dan posisi wukunya sebelum dilakukan petungan sesuai keperluan.
Baca Juga: Wuku Tolu dalam Pawukon Jawa, Berlambang Pelangi: Indah Memikat tapi Tak Berlangsung Selamanya
Filosofi Wuku Sungsang
Pesan filosofis Wuku Sungsang dapat ditemukan pada kemampuan manusia menghadapi keadaan yang berubah. Tidak semua kehidupan bergerak lurus sesuai rencana. Ada kalanya keadaan menjadi sungsang—sesuatu yang diharapkan berjalan satu arah justru berubah menjadi sebaliknya.
Dalam pandangan Jawa, keadaan seperti itu tidak selalu harus dilawan dengan tergesa-gesa. Eling, waspada, sabar, dan mampu membaca keadaan menjadi bekal untuk mengembalikan keseimbangan.
Karena itu, Wuku Sungsang dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa kekuatan seseorang bukan hanya terlihat ketika keadaan berjalan baik, tetapi juga ketika mampu menata kembali kehidupannya saat menghadapi perubahan.
Penentuan hari baik dalam Pawukon Jawa memiliki sejumlah versi sesuai naskah dan pakem petungan yang digunakan. Untuk menyebut hari baik spesifik bagi seseorang yang lahir pada Wuku Sungsang, diperlukan setidaknya hari dan pasaran kelahirannya agar tidak menghasilkan klaim yang terlalu umum. (den)
Editor : Deni Kurniawan