Daftar Lengkap Wuku Sepanjang 2004, dari Julungwangi hingga Warigalit

Deni Kurniawan • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 17:05 WIB
Ilustrasi wuku yang berlangsung sepanjang 2004.
Ilustrasi wuku yang berlangsung sepanjang 2004.

Jawa Pos Radar Lawu - Sepanjang 2004 memiliki posisi menarik jika dibaca menggunakan sistem Pawukon Jawa. Saat kalender Masehi memasuki 1 Januari 2004, siklus Pawukon tidak ikut dimulai dari awal. Hari-hari pertama tahun tersebut masih berada dalam Wuku Julungwangi, meneruskan periode yang telah dimulai pada penghujung Desember 2003.

Pawukon memiliki 30 nama wuku. Masing-masing berlangsung selama tujuh hari sehingga satu putaran lengkap membutuhkan 210 hari. Setelah mencapai wuku terakhir, Watugunung, perhitungan kembali kepada Sinta sebagai wuku pertama.

2004 merupakan tahun kabisat dengan 366 hari. Karena itu, rentang satu tahun tersebut mencakup lebih dari satu putaran lengkap Pawukon.

Baca Juga: Orang Jawa Kelahiran 2003 Ingin Tahu Wuku yang Dimiliki Kelahiran Masing-Masing? Cek di Sini

Daftar Wuku dan Tanggal Masehi Sepanjang 2004

No. Wuku Tanggal Masehi
1 Julungwangi 1–3 Januari 2004
2 Sungsang 4–10 Januari 2004
3 Galungan 11–17 Januari 2004
4 Kuningan 18–24 Januari 2004
5 Langkir 25–31 Januari 2004
6 Mandasiya 1–7 Februari 2004
7 Julungpujud 8–14 Februari 2004
8 Pahang 15–21 Februari 2004
9 Kuruwelut 22–28 Februari 2004
10 Marakeh 29 Februari–6 Maret 2004
11 Tambir 7–13 Maret 2004
12 Medangkungan 14–20 Maret 2004
13 Maktal 21–27 Maret 2004
14 Wuye 28 Maret–3 April 2004
15 Manahil 4–10 April 2004
16 Prangbakat 11–17 April 2004
17 Bala 18–24 April 2004
18 Wugu 25 April–1 Mei 2004
19 Wayang 2–8 Mei 2004
20 Kulawu 9–15 Mei 2004
21 Dukut 16–22 Mei 2004
22 Watugunung 23–29 Mei 2004
23 Sinta 30 Mei–5 Juni 2004
24 Landep 6–12 Juni 2004
25 Wukir 13–19 Juni 2004
26 Kurantil 20–26 Juni 2004
27 Tolu 27 Juni–3 Juli 2004
28 Gumbreg 4–10 Juli 2004
29 Warigalit 11–17 Juli 2004
30 Warigagung 18–24 Juli 2004
31 Julungwangi 25–31 Juli 2004
32 Sungsang 1–7 Agustus 2004
33 Galungan 8–14 Agustus 2004
34 Kuningan 15–21 Agustus 2004
35 Langkir 22–28 Agustus 2004
36 Mandasiya 29 Agustus–4 September 2004
37 Julungpujud 5–11 September 2004
38 Pahang 12–18 September 2004
39 Kuruwelut 19–25 September 2004
40 Marakeh 26 September–2 Oktober 2004
41 Tambir 3–9 Oktober 2004
42 Medangkungan 10–16 Oktober 2004
43 Maktal 17–23 Oktober 2004
44 Wuye 24–30 Oktober 2004
45 Manahil 31 Oktober–6 November 2004
46 Prangbakat 7–13 November 2004
47 Bala 14–20 November 2004
48 Wugu 21–27 November 2004
49 Wayang 28 November–4 Desember 2004
50 Kulawu 5–11 Desember 2004
51 Dukut 12–18 Desember 2004
52 Watugunung 19–25 Desember 2004
53 Sinta 26–31 Desember 2004

Tanggal 1 Januari 2004 tidak bertepatan dengan awal sebuah wuku. Ketika tahun berganti dari 2003 menuju 2004, Wuku Julungwangi yang dimulai pada Minggu, 28 Desember 2003 masih berlangsung.

Karena itu, 1–3 Januari menjadi tiga hari terakhir Julungwangi. Pergantian wuku baru terjadi pada Minggu, 4 Januari 2004, ketika memasuki Wuku Sungsang. Setelah itu perjalanan berlangsung teratur setiap tujuh hari: Galungan, Kuningan, Langkir, Mandasiya, Julungpujud, Pahang, dan seterusnya.

Salah satu titik penting Pawukon pada 2004 terjadi pada penghujung Mei. Wuku Watugunung berlangsung 23–29 Mei 2004.

Watugunung merupakan wuku ke-30 sekaligus wuku terakhir dalam satu putaran Pawukon. Setelah tujuh hari Watugunung selesai, siklus tidak berlanjut menuju wuku ke-31, tetapi kembali kepada wuku pertama.

Karena itu, Minggu, 30 Mei 2004 menjadi awal Wuku Sinta.

Peralihan Watugunung menuju Sinta memperlihatkan karakter dasar Pawukon sebagai sistem waktu yang bersifat siklik. Akhir sebuah putaran sekaligus menjadi jalan menuju permulaan berikutnya.

Sepanjang tahun 2004, Wuku Sinta muncul dua kali dalam kalender Masehi. Sinta pertama berlangsung pada 30 Mei–5 Juni 2004. Setelah itu Pawukon bergerak menuju Landep, Wukir, Kurantil, Tolu, Gumbreg, dan seterusnya.

Sebanyak 210 hari setelah dimulainya Sinta tersebut, satu putaran Pawukon selesai. Watugunung kembali muncul pada 19–25 Desember 2004.

Keesokan harinya, 26 Desember 2004, Pawukon kembali memasuki Sinta. Periode kedua ini melintasi pergantian tahun dan baru selesai pada 1 Januari 2005.

Baca Juga: Wuku yang Satu Ini Diyakini Lebih Gampang Sukses tapi Punya Seabrek Kelemahan, Kalender Tradisional Pawukon Budaya Jawa

Tahun Kabisat Tidak Mengubah Lama Wuku

Ada satu hal yang membedakan 2004 dari tahun sebelumnya. Tahun 2004 merupakan tahun kabisat, sehingga Februari memiliki 29 hari dan jumlah keseluruhan mencapai 366 hari.

Tanggal 29 Februari 2004 jatuh tepat pada awal Wuku Marakeh, yang berlangsung sampai 6 Maret.

Namun, keberadaan 29 Februari tidak menambah maupun mengurangi panjang sebuah wuku. Setiap wuku tetap berlangsung tujuh hari. Pawukon bergerak secara kontinu tanpa mengikuti pergantian bulan dalam kalender Masehi.

Inilah alasan satu wuku dapat melintasi dua bulan, bahkan dua tahun Masehi.

Daftar di atas mencantumkan 53 periode. Namun, angka tersebut jangan diartikan bahwa Pawukon mempunyai 53 macam wuku.

Jumlah wuku tetap 30. Kemunculan 53 periode terjadi karena satu tahun Masehi jauh lebih panjang dibandingkan satu putaran Pawukon. Perhitungannya sederhana: 30 wuku × 7 hari = 210 hari. Sementara tahun 2004 memiliki 366 hari. Dengan demikian, sepanjang 2004 berlangsung sekitar 1,74 putaran Pawukon.

Selain itu, tahun 2004 dimulai ketika Julungwangi telah berjalan dan berakhir ketika Sinta masih berlangsung. Dua wuku di batas tahun tersebut hanya sebagian harinya yang masuk kalender 2004.

Keunikan lainnya terlihat pada kemunculan Watugunung sebanyak dua kali. Periode pertama berlangsung 23–29 Mei, sedangkan periode kedua jatuh pada 19–25 Desember 2004.

Setiap berakhirnya Watugunung selalu diikuti Sinta. Urutannya menjadi: Watugunung → Sinta → Landep → Wukir → Kurantil → dan seterusnya. Setelah melewati seluruh 30 wuku selama 210 hari, perjalanan kembali bertemu Watugunung sebelum sekali lagi dimulai dari Sinta.

Pawukon Berjalan dengan Irama Sendiri

Baca Juga: Kelahiran 2001? Coba Cek Wuku Atas Kelahiran Tuan dan Nyona Sekalian

Daftar wuku sepanjang 2004 memperlihatkan perbedaan mendasar antara Pawukon dengan kalender Masehi. Pergantian tahun pada 1 Januari tidak memiliki fungsi untuk mengulang hitungan Pawukon.

Demikian pula pergantian bulan. Ketika Februari berubah menjadi Maret atau Desember berubah menjadi Januari, sebuah wuku tetap berjalan sampai tujuh harinya selesai.

Pawukon mempunyai iramanya sendiri: tujuh hari membentuk satu wuku, 30 wuku membentuk satu siklus, dan 210 hari membawa perjalanan kembali kepada Sinta.

Dalam tradisi Jawa, wuku kemudian dipadukan dengan hari, pasaran, dan unsur petungan lainnya. Sistem ini digunakan sebagai salah satu cara masyarakat terdahulu mengenali perjalanan waktu sekaligus memberi makna terhadap hari-hari tertentu.

Karena itu, daftar Pawukon 2004 bukan sekadar deretan nama dan tanggal. Ia memperlihatkan salah satu warisan pengetahuan Jawa tentang waktu: berputar, berulang, dan terus berjalan tanpa harus tunduk pada batas pergantian tahun Masehi.

Catatan penting: untuk seri kalender Pawukon seperti ini, patokan antartahun harus dibuat kontinu. Jadi, jika 28 Desember 2003–3 Januari 2004 adalah Julungwangi, maka 4 Januari otomatis masuk Sungsang dan seluruh periode berikutnya maju tujuh hari secara konsisten. (den)

Editor : Deni Kurniawan
WUKU 2004–2007 pawukon budaya jawa kelahiran