Jawa Pos Radar Lawu - Kalau orang Cina punya shio, orang Jawa punya wuku. Dua sistem penanggalan dari dua budaya, Ada persamaan antara kedua sistem tersebut. Pun, perbedaannya.
Shio dalam budaya Tionghoa dan wuku dalam budaya Jawa kerap dianggap memiliki fungsi yang serupa karena sama-sama dikaitkan dengan waktu kelahiran seseorang. Keduanya juga sering digunakan sebagai acuan untuk memahami karakter, memilih hari tertentu, hingga menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Meski demikian, shio dan wuku sejatinya merupakan dua sistem budaya yang berbeda, baik dari sisi asal-usul, cara perhitungan, maupun fungsinya.
Shio berasal dari tradisi Tionghoa kuno dan menjadi bagian dari kalender lunar atau lunisolar. Sistem ini menggunakan siklus 12 tahun, yang masing-masing dilambangkan oleh seekor hewan, yakni Tikus, Kerbau, Harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, dan Babi. Setiap orang memperoleh shio berdasarkan tahun kelahirannya, sehingga siapa pun yang lahir pada tahun yang sama memiliki shio yang sama.
Sementara itu, wuku merupakan bagian dari sistem Pawukon, kalender tradisional Jawa yang telah dikenal sejak masa Jawa Kuno. Berbeda dengan shio, wuku tidak didasarkan pada tahun kelahiran, melainkan pada hari kelahiran dalam siklus Pawukon yang terdiri atas 30 wuku. Setiap wuku berlangsung selama tujuh hari sehingga satu putaran lengkap berjumlah 210 hari sebelum kembali mengulang dari awal.
Baca Juga: Kelahiran 2001? Coba Cek Wuku Atas Kelahiran Tuan dan Nyona Sekalian
Karena menggunakan siklus yang lebih pendek, seseorang yang lahir pada tahun yang sama belum tentu memiliki wuku yang sama. Bahkan, dalam satu tahun Masehi, satu wuku dapat muncul lebih dari satu kali karena panjang siklus Pawukon hanya 210 hari.
Selain berbeda dalam sistem perhitungan, simbol yang digunakan juga tidak sama. Shio menggunakan lambang 12 hewan yang masing-masing memiliki makna filosofis dalam tradisi Tionghoa. Sebaliknya, wuku menggunakan nama-nama khusus, mulai dari Sinta, Landep, Wukir, Kurantil, Tolu, Gumbreg, hingga Watugunung sebagai penutup siklus.
Dalam tradisi Jawa, setiap wuku juga dipercaya memiliki unsur-unsur simbolis yang lebih beragam. Sebuah wuku dapat dikaitkan dengan dewa pelindung, pohon, burung, lambang rezeki, hingga watak tertentu yang tertuang dalam berbagai naskah primbon. Sementara dalam budaya Tionghoa, simbolisme shio lebih banyak berpusat pada karakter hewan yang menjadi lambangnya.
Meski memiliki banyak perbedaan, shio dan wuku memiliki sejumlah persamaan. Keduanya sama-sama merupakan warisan budaya yang menggunakan siklus waktu sebagai dasar penanggalan.
Keduanya juga berkembang sebagai bagian dari tradisi masyarakat dan masih digunakan hingga sekarang dalam berbagai kegiatan adat, perayaan budaya, maupun perhitungan tradisional.
Di kalangan masyarakat Tionghoa, shio masih menjadi bagian penting dalam perayaan Tahun Baru Imlek serta berbagai tradisi keluarga. Adapun di masyarakat Jawa, sistem wuku masih digunakan dalam penanggalan tradisional, perhitungan weton, hingga penentuan waktu penyelenggaraan sejumlah upacara adat.
Dalam perkembangannya, baik shio maupun wuku sering dikaitkan dengan ramalan karakter, kecocokan pasangan, rezeki, hingga perjalanan hidup seseorang. Namun, pandangan tersebut merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa shio maupun wuku dapat menentukan kepribadian, keberuntungan, ataupun masa depan seseorang.
Terlepas dari berbagai kepercayaan yang menyertainya, shio dan wuku tetap memiliki nilai penting sebagai warisan budaya. Keduanya mencerminkan cara masyarakat pada masa lampau memahami waktu, menyusun sistem penanggalan, serta membangun filosofi kehidupan yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi.
Dengan memahami perbedaannya, masyarakat dapat melihat bahwa shio dan wuku bukanlah sistem yang sama, melainkan dua tradisi penanggalan yang berkembang secara mandiri dalam kebudayaan yang berbeda dan menjadi bagian dari kekayaan budaya dunia. (den)
Editor : Deni Kurniawan