Mengenal Weton, Budaya Nusantara yang Tetap Ada hingga Sekarang

Deni Kurniawan • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 23:40 WIB
Ilustrasi weton dalam penanggalan Jawa.
Ilustrasi weton dalam penanggalan Jawa.

Jawa Pos Radar Lawu - Ini merupakan salah satu warisan budaya Nusantara. Masih dikenal dan dipraktikkan sebagian masyarakat hingga sekarang, khususnya di Pulau Jawa.

Adalah weton, sebuah sistem penanggalan Jawa yang sering dijadikan dasar untuk berbagai hal. Seperti, untuk mengenali karakter seseorang hingga menentukan waktu pelaksanaan berbagai acara adat.

Sistem ini merupakan bagian dari kalender tradisional Jawa yang telah digunakan selama berabad-abad dan mencerminkan cara pandang masyarakat Jawa terhadap hubungan antara manusia, waktu, dan alam.

Apa Itu Weton Jawa?

Weton adalah gabungan antara hari dalam siklus tujuh hari (saptawara) dengan hari pasaran dalam siklus lima hari (pancawara).

Setiap orang memiliki satu kombinasi hari dan pasaran sesuai tanggal kelahirannya. Contohnya, Senin Pon, Selasa Wage, Rabu Legi, dan yang lain. Total terdapat 35 weton. Masing-masing berulang setiap 35 hari sekali.

Sistem ini telah digunakan sejak masa kerajaan-kerajaan di Jawa. Masih bertahan hingga sekarang sebagai bagian dari tradisi, adat istiadat, serta warisan budaya masyarakat Jawa.

Neptu dalam Weton Jawa

Istilah yang tidak dapat dipisahkan dari weton adalah neptu. Yaitu, nilai angka yang diberikan pada setiap hari dan pasaran.

Nilai neptu hari:
Minggu = 5
Senin = 4
Selasa = 3
Rabu = 7
Kamis = 8
Jumat = 6
Sabtu = 9

Nilai neptu pasaran:
Legi = 5
Pahing = 9
Pon = 7
Wage = 4
Kliwon = 8

Sebagai contoh, seseorang yang lahir pada Jumat Kliwon memiliki neptu 14, hasil penjumlahan Jumat (6) dan Kliwon (8). Nilai neptu inilah yang menjadi dasar berbagai perhitungan dalam Primbon Jawa.

Baca Juga: Sing Nandur Lara, Bakale Panen Berkah Kanggo Keturunanane: Inilah 5 Weton Pemutus Karma Keluarga Menurut Primbon Jawa

Apakah Weton Masih Relevan?

Di era modern, weton tetap memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat. Sebagian orang masih menggunakannya sebagai pedoman adat. Sementara yang lain, memandangnya sebagai warisan budaya yang sarat nilai filosofis.

Banyak generasi muda mulai mempelajari weton bukan untuk meramal masa depan. Melainkan, untuk memahami sejarah, budaya, dan cara berpikir masyarakat Jawa tempo dulu.

Di sisi lain, sebagian masyarakat memilih untuk tidak menjadikannya sebagai acuan dalam mengambil keputusan hidup.

Kedua pandangan tersebut dapat hidup berdampingan karena weton pada dasarnya merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia. (den)

Editor : Deni Kurniawan
weton neptu weton budaya