Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Pameran Tunggal Iwan Yusuf di EDSU House Jogja Hadirkan Jaring Bekas, Ilusi Optik, dan Kritik Seni Kontemporer

Dwita Ikhtiananda • Jumat, 9 Januari 2026 | 07:35 WIB

 

PAYAU bukan hitam atau putih, ia berada di wilayah tengah yang mengguncang cara kita melihat seni.
PAYAU bukan hitam atau putih, ia berada di wilayah tengah yang mengguncang cara kita melihat seni.

Jawa Pos Radar Lawu - Pameran tunggal “PAYAU” karya Iwan Yusuf yang digelar di EDSU House, Yogyakarta, dari 21 November 2025 hingga 1 Februari 2026, menjadi penanda penting dalam perjalanan dua dekade praktik artistik sang seniman. Pameran ini tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga memperlihatkan transformasi bahasa visual Iwan—dari lukisan hiper-realis, patung, dan land art, menuju eksplorasi mendalam atas jaring pukat harimau bekas sebagai medium utama instalasi site-specific.

PAYAU menandai fase kematangan artistik Iwan Yusuf, di mana medium sederhana diolah menjadi wacana visual yang kompleks, reflektif, dan penuh ketegangan makna.

Makna PAYAU: Metafora Ruang Antara

Istilah “payau” merujuk pada wilayah perairan peralihan antara air tawar dan air asin. Dalam pameran ini, konsep tersebut menjadi metafora sentral untuk membicarakan wilayah ambigu, ruang pertemuan antara dua kutub yang saling bertentangan namun tak terpisahkan.

Metafora payau diterjemahkan dalam berbagai lapisan. Secara kontekstual, jaring yang berasal dari dunia laut dan kehidupan nelayan dipindahkan ke ruang galeri modern bergaya white cube. Perpindahan ini menggeser fungsi jaring dari alat tangkap menjadi medium refleksi tentang ingatan, mitologi pesisir, dan persoalan ekologis.

Ilusi Visual dan Ambiguitas Medium

Dari sisi visual, karya-karya dalam PAYAU menciptakan pengalaman melihat yang tidak stabil. Dari kejauhan, karya tampak seperti gambar dua dimensi yang melekat di dinding. Namun saat didekati, struktur jaring membentuk volume, bayangan, dan gerak, menjadikannya terasa tiga dimensi.

Ambiguitas ini menempatkan karya di wilayah antara, bukan sepenuhnya lukisan, namun juga tidak sepenuhnya instalasi. Penonton dipaksa aktif menafsirkan apa yang mereka lihat, alih-alih menerima makna secara pasif.

Kritik terhadap Ekstrem Seni Kontemporer

PAYAU juga berfungsi sebagai kritik halus terhadap kecenderungan seni rupa kontemporer yang sering terjebak pada dua ekstrem. Di satu sisi, lukisan yang terlalu “tawar”—aman, rapi, dan datar. Di sisi lain, instalasi yang “asin”—terlalu teatrikal dan mendominasi ruang.

Iwan Yusuf memilih wilayah tengah: payau, sebuah strategi visual yang memadukan keduanya untuk mengguncang persepsi dan menghadirkan pengalaman melihat yang reflektif sekaligus problematis.

Baca Juga: Isu Vespa Kuning dan Liburan Eropa Dibantah Pihak Ridwan Kamil! Ini Faktanya

Proses Kreatif: Dari Arang ke Jaring

Secara proses, karya PAYAU berangkat dari sketsa arang di atas kertas. Gambar-gambar tersebut kemudian dirakit ulang dalam skala besar menggunakan jaring bekas. Pendekatan ini mempertahankan ketegangan antara bidang datar dan ruang tiga dimensi, sekaligus memperkuat ilusi visual yang menjadi ciri utama pameran ini.

Iwan Yusuf dan Laut sebagai Ruang Batin

Lahir di Gorontalo pada 1982, kota pesisir yang lekat dengan kehidupan laut, Iwan Yusuf kerap menjadikan laut sebagai lanskap batin dalam karyanya. Kenangan masa kecil, mitos masyarakat pesisir, hingga refleksi ekologis menjadi benang merah eksplorasinya. Eksperimen dengan jaring telah ia lakukan sejak sekitar 2013, dan PAYAU menjadi kulminasi dari pencarian panjang tersebut.

PAYAU sebagai Tonggak Penting

Secara keseluruhan, PAYAU mengajak penonton merenungkan diri sebagai makhluk perbatasan yang terus bernegosiasi antara ingatan dan harapan, terang dan gelap, serta berbagai dualitas kehidupan. Keberanian mengolah medium sederhana menjadi bahasa visual yang kaya menjadikan pameran ini dipandang sebagai milestone penting dalam seni rupa kontemporer Indonesia. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#Seni kontemporer #galeri seni #Pameran Seni Rupa #EDSU House