Jawa Pos Radar Madiun - Menjelang peringatan Hari Ibu Nasional, pelukis Bambang Asrini menggelar pameran seni gambar kontemporer bertajuk Motherland.
Pameran ini berlangsung di Darmin Kopi, Jalan Duren Tiga Raya No.7e, Jakarta Selatan, mulai 22 Desember 2025 hingga 16 Januari 2026.
Pameran Motherland menampilkan 15 karya drawing kontemporer mixed media on paper yang menghubungkan ingatan personal tentang sosok ibu dengan refleksi kondisi kebangsaan Indonesia hari ini. Tajuk Motherland atau Tanah Air dipilih Bambang sebagai simbol keterikatan antara ibu biologis dan Ibu Pertiwi.
“Seni menjadi instrumen kultural sebagai penanda, bahwa hakikatnya dalam diri seseorang atau sekelompok masyarakat mengalami nalar dan rasa terbangun imajinasi estetika bersama tentang Ibu biologis dan Tanah Air,” ujar Bambang Asrini.
Dibuka Erros Djarot, Dimeriahkan Seni Performans
Pembukaan pameran akan digelar Senin (22/12) dan dijadwalkan dibuka secara resmi oleh Erros Djarot, sutradara legendaris, budayawan, sekaligus aktivis politik. Acara pembukaan juga dimeriahkan kolaborasi tiga seniman performans Iskandar Nizar, Yosef Oktaviana, dan Aendra Medita lewat karya bertajuk Tamiang.
Pameran ini tak sekadar menghadirkan karya visual, tetapi juga ruang permenungan tentang kehilangan, ingatan, dan luka personal yang berkelindan dengan realitas sosial kebangsaan.
Persembahan Anak kepada Ibu dan Ibu Pertiwi
Pemerhati seni dan gaya hidup Dwi Sutarjantono menilai Motherland sebagai bentuk persembahan ganda: kepada ibu pelukis dan kepada Tanah Air.
“Bambang juga mengandaikan bahwa pameran adalah persembahan seorang anak negeri kepada Ibu Pertiwi. Sejatinya, garis pada kertas dapat menjadi jembatan antara yang hidup dan yang telah pergi,” ujar Dwi.
Menurutnya, seni dalam pameran ini menjadi rumah ketika dunia terasa tidak ramah, sekaligus menghadirkan keindahan dari pengalaman kehilangan yang menyakitkan.
Narasi Kebangsaan dan Keadilan Sosial
Pengamat seni sekaligus kandidat doktor Universitas Indonesia, Imam Muhtarom, menilai karya Bambang memuat pertarungan dialektis antara gagasan keadilan dan kesejahteraan dalam kehidupan berbangsa.
“Helatan gambar-gambar di pameran Motherland adalah waktu yang tepat di Hari Ibu Nasional sebagai ungkapan seni bernarasi menyoal kebangsaan,” kata Imam.
Ia menyebut pameran ini juga mengulik ingatan kehidupan berbangsa pada lapisan sosial yang tertindas dalam konteks keindonesiaan.
Sementara itu, Seno Joko Suyono, Founder Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF), melihat karya Bambang sebagai pamflet visual atas carut-marut sosial.
“Seni gambar Bambang paralel dengan pamflet. Gambar-gambar itu memetaforakan dari keputus-asaan sampai harapan,” ujarnya.
Metamorfosis Bambang Asrini sebagai Seniman
Pandangan lain disampaikan Ilham Khoiri, General Manager Bentara Budaya & Communication Management Kompas Gramedia. Ia menilai Motherland menunjukkan metamorfosis Bambang dari kurator dan penulis menjadi seniman visual.
“Kegelisahan yang selama ini ditulis dalam bentuk teks, sekarang diekspresikan melalui bahasa visual dalam bentuk drawing,” kata Ilham.
Ia menambahkan, karya-karya tersebut mengingatkan pada problem kebangsaan yang berpotensi menggagalkan cita-cita luhur pendiri bangsa jika dibiarkan.
Drawing sebagai Medium Ingatan dan Identitas
Dalam katalog pameran, seniman sekaligus jurnalis senior Aendra Medita menegaskan kekuatan drawing sebagai medium dasar seni rupa.
“Garis yang spontan, cepat, namun bermakna, memungkinkan perupa menghadirkan suasana batin, gejolak sosial, dan ingatan sejarah secara bersamaan,” ujarnya.
Menurut Aendra, penggunaan mixed media mempertegas bahwa identitas bangsa adalah kolase dari banyak lapisan pengalaman dan nilai.
Pameran Motherland menjadi ajakan untuk menundukkan kepala sejenak, menyelami ingatan, dan bangkit dengan kesadaran baru tentang jati diri dan arah bangsa. (*)
Editor : Mizan Ahsani