Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Ritual Mappanre Ri Tasi'e 2025: Ketika Laut Jadi Rumah dan Harapan

Nur Wachid • Sabtu, 22 November 2025 | 03:05 WIB
Pesta Adat Bugis Mappanre Ri Tasi
Pesta Adat Bugis Mappanre Ri Tasi


Jawa Pos Radar Lawu - Langit cerah menyambut pagi di pesisir Teluk Tamiang, Kecamatan Pulau Laut Barat, Kabupaten Kotabaru. Laut tenang berkilau diterpa cahaya matahari, seolah ikut bersiap menyambut salah satu ritual budaya paling sakral di wilayah ini: Mappanre Ri Tasi'e.

Tradisi yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat pesisir Bugis ini kembali digelar Kamis (20/11/2025) kemarin, dengan semangat yang tak pernah pudar.

Ritual ini bukan sekadar seremoni adat. Ia adalah bentuk penghormatan terhadap laut sebagai sumber kehidupan, sekaligus ungkapan syukur atas hasil tangkapan dan keselamatan para nelayan.

Di tengah tantangan zaman, Mappanre Ri Tasi'e tetap menjadi penanda kuat identitas budaya dan spiritualitas masyarakat pesisir Kalimantan Selatan.

Persiapan Sakral dan Gotong Royong Komunal

Sejak beberapa hari sebelum pelaksanaan, warga Teluk Tamiang telah sibuk mempersiapkan berbagai perlengkapan ritual. Perahu-perahu dihias dengan kain warna-warni, janur kuning, dan ornamen khas Bugis.

Makanan tradisional seperti songkolo, barongko, dan aneka kue basah disiapkan secara gotong royong oleh ibu-ibu kampung. Anak-anak turut membantu menyusun sesajen dan bunga-bunga laut yang akan dihanyutkan.

Di tengah persiapan itu, terlihat pula para tetua adat yang memimpin doa dan ritual pembersihan perahu. Mereka memastikan bahwa setiap langkah dijalankan sesuai pakem leluhur, tanpa mengurangi makna spiritualnya.

Mappanre Ri Tasi'e bukan hanya tentang prosesi, tetapi juga tentang menjaga harmoni antara manusia dan alam.

Prosesi Laut: Mengantar Harapan ke Samudra

Puncak acara dimulai saat matahari mulai meninggi. Ratusan warga berkumpul di bibir pantai, mengenakan pakaian adat Bugis dan membawa sesajen. Perahu-perahu yang telah dihias berlayar perlahan ke tengah laut, membawa sesaji berupa makanan, bunga, dan simbol-simbol harapan.

Diiringi doa dan lantunan syair Bugis, sesaji itu dihanyutkan ke laut sebagai bentuk persembahan kepada penjaga samudra.

Suasana menjadi hening saat sesaji dilepaskan. Beberapa warga menitikkan air mata, bukan karena kesedihan, tetapi karena rasa syukur dan harapan yang mendalam.

Laut bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga rumah spiritual yang menyatukan mereka dengan leluhur dan Sang Pencipta.

Simbol Ketahanan Budaya di Tengah Modernisasi

Di tengah arus modernisasi dan tekanan ekonomi, Mappanre Ri Tasi'e menjadi simbol ketahanan budaya. Generasi muda yang sebelumnya cenderung menjauh dari tradisi, kini mulai terlibat aktif.

Banyak dari mereka yang mendokumentasikan prosesi ini melalui media sosial, menjadikannya sebagai bentuk ekspresi budaya yang relevan dengan zaman.

Pemerintah daerah pun turut mendukung pelestarian ritual ini. Selain memberikan bantuan logistik, mereka juga memfasilitasi promosi budaya melalui festival dan pameran.

Kehadiran wisatawan lokal dan mancanegara menjadi bukti bahwa tradisi ini memiliki daya tarik universal.

Namun, pelestarian ini bukan tanpa tantangan. Perubahan iklim, pencemaran laut, dan alih fungsi lahan pesisir menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan tradisi.

Oleh karena itu, Mappanre Ri Tasi'e juga menjadi momentum refleksi kolektif untuk menjaga ekosistem laut dan memperkuat solidaritas sosial.

Laut sebagai Rumah, Bukan Sekadar Sumber Daya

Makna terdalam dari Mappanre Ri Tasi'e terletak pada cara masyarakat memandang laut. Bagi mereka, laut bukan sekadar sumber daya ekonomi, tetapi rumah yang harus dijaga dan dihormati. Ritual ini mengajarkan nilai-nilai ekologis yang selaras dengan prinsip keberlanjutan.

Dalam setiap sesaji yang dihanyutkan, tersimpan doa agar laut tetap bersih, ikan tetap melimpah, dan anak cucu kelak masih bisa merasakan kedamaian yang sama.

Ini adalah bentuk spiritualitas ekologis yang lahir dari kearifan lokal, jauh sebelum istilah “konservasi” menjadi populer.

Warisan yang Terus Mengalir

Mappanre Ri Tasi'e 2025 di Teluk Tamiang bukanlah akhir dari sebuah perayaan, melainkan awal dari komitmen baru.

Komitmen untuk terus menjaga laut, merawat tradisi, dan memperkuat jati diri sebagai masyarakat pesisir yang tangguh dan penuh harapan.

Ritual ini mengingatkan kita bahwa di balik gelombang dan angin laut, ada doa-doa yang mengalir, ada harapan yang dihanyutkan, dan ada cinta yang tak pernah putus antara manusia dan alam. (husnul-mg-uinpo/kid)

Editor : Nur Wachid
#Mappanre #ritual