Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Perempuan Dua Kali Lebih Berisiko Tersingkir di Era AI: Studi Ungkap Profesi yang Terancam Hilang Di Masa Depan

Rimba Febriani • Jumat, 21 November 2025 | 04:04 WIB

 

Studi terbaru mengungkap perempuan paling berisiko tersingkir di era AI. Rendahnya literasi teknologi membuat kesenjangan semakin lebar.
Studi terbaru mengungkap perempuan paling berisiko tersingkir di era AI. Rendahnya literasi teknologi membuat kesenjangan semakin lebar.

Jawa Pos Radar Lawu - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuka banyak peluang, tetapi juga menghadirkan ancaman baru bagi kelompok tertentu, terutama perempuan.

Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa perempuan berisiko dua kali lebih besar kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi berbasis AI dibanding laki-laki.

Temuan ini memunculkan kekhawatiran bahwa perempuan, khususnya para ibu, bisa menjadi kelompok yang paling terdampak dalam transformasi teknologi.

Pekerjaan yang Didominasi Perempuan Paling Mudah Tersubstitusi AI

Laporan yang dikutip The Independent pada Rabu (19/11) menyebutkan bahwa profesi yang selama ini banyak diisi perempuan.

Seperti administrasi, pembukuan, kasir, serta staf kantor, termasuk jenis pekerjaan yang paling rentan digantikan oleh otomatisasi.

Banyak tugas rutin dalam bidang tersebut kini dapat dilakukan oleh sistem otomatis, chatbot, maupun perangkat AI pengolah data.

Dengan tingginya jumlah perempuan di sektor tersebut, potensi kehilangan pekerjaan pun meningkat.

Penggunaan AI Generatif Lebih Rendah pada Perempuan

Studi yang dilakukan perusahaan konsultan Credera mengungkap bahwa perempuan 20 persen lebih kecil kemungkinannya menggunakan alat-alat AI generatif seperti ChatGPT, Claude, atau aplikasi desain berbasis AI.

Rendahnya penggunaan teknologi ini membuat perempuan kurang siap menghadapi kebutuhan keterampilan masa depan yang semakin terfokus pada AI.

Padahal, kemampuan menggunakan perangkat AI kini menjadi kompetensi dasar di berbagai sektor.

Laporan berjudul AI Gender Gap menegaskan bahwa hanya 22 persen profesional AI di dunia adalah perempuan.

Angka ini menunjukkan kesenjangan besar dalam ekosistem talent teknologi global.

Perempuan Bisa Tertinggal Jika Tidak Masuk ke Dunia Teknologi

Organisasi sosial Supermums, yang berfokus membantu perempuan membangun karier di bidang teknologi, menegaskan bahwa kesenjangan ini perlu ditangani segera.

Pendiri Supermums, Heather Black, menyampaikan kekhawatirannya.

“Perempuan, terutama para ibu, akan menjadi pihak yang paling menanggung akibat dari kebangkitan AI,” ujar Heather Black.

Ia menambahkan bahwa teknologi akan terus berkembang, dengan atau tanpa keterlibatan perempuan.

Karena itu, keterampilan menggunakan perangkat AI harus menjadi kemampuan dasar yang dipelajari sejak awal.

Mengapa Kesenjangan Terjadi?

Para pakar menyebut beberapa penyebab utama, antara lain:

• Bias gender dalam industri teknologi sehingga perempuan kurang terekspos pada karier berbasis AI
• Minimnya akses perempuan terhadap pelatihan teknologi baru
• Beban kerja domestik yang lebih tinggi, sehingga waktu belajar menjadi terbatas
• Kurangnya dukungan perusahaan dalam peningkatan literasi digital bagi perempuan

Kombinasi faktor ini membuat perempuan lebih rentan tertinggal di dunia kerja berbasis digital.

Solusi: Pendidikan dan Akses Pelatihan AI yang Inklusif

Untuk menutup kesenjangan, para ahli merekomendasikan beberapa langkah krusial:

• Pelatihan AI yang mudah diakses perempuan dan ibu rumah tangga
• Program peningkatan literasi digital di lingkungan kerja
• Mendorong perempuan masuk ke bidang STEM sejak jenjang pendidikan dini
• Kampanye publik mengenai pemanfaatan AI generatif

Dengan dukungan dan akses pelatihan yang tepat, perempuan dapat beradaptasi dan tetap kompetitif di era AI. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#perempuan #kecerdasan buatan