Jawa Pos Radar Lawu - Di tengah keramaian kereta bawah tanah, Li Zining memasang earbudnya dan tenggelam dalam dunia fiksi ilmiah The Three-Body Problem.
Fenomena ini mencerminkan tren membaca generasi muda China: Gen-Z (lahir 1995–2009) mengandalkan perangkat digital untuk menemukan, membaca, dan berbagi cerita.
Platform digital seperti WeChat Reading dan iReader mencatat hampir setengah penggunanya adalah Gen-Z, yang menghabiskan rata-rata 2 jam per hari membaca e-book atau mendengarkan buku audio.
Survei CAPP juga menunjukkan 38,5% warga dewasa kini menikmati buku melalui format audio.
Gen-Z tak hanya membaca sendiri, tetapi juga menonton video penjelasan buku, mengikuti narablog literasi, dan berdiskusi secara daring.
Misalnya, video ulasan White Deer Plain melampaui 20 juta penayangan, jauh lebih tinggi dibanding penjualan cetakan pertama buku. Pada 2024, video bacaan di Douyin melonjak hingga 336% YoY.
Membaca menjadi aktivitas interaktif: pengguna bisa menyorot kalimat, berdiskusi, atau mendapatkan pencerahan dari komentar pembaca lain.
Mahadata dan siaran langsung (livestream) juga dimanfaatkan penerbit untuk meluncurkan judul baru dan menargetkan pembaca muda.
“Inti industri penerbitan adalah berbagi pengetahuan, yang seharusnya tidak terbatas pada buku fisik,” kata Huang Zhijian, Ketua China Publishing Group.
Cong Ting, profesor dari Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Shanghai, menambahkan, “Teknologi baru harus dimanfaatkan agar konten berkualitas lebih mudah diakses generasi muda.”
Transformasi ini menunjukkan bagaimana teknologi dan kreativitas digital membentuk cara generasi muda China membaca, belajar, dan berinteraksi dengan literatur, menjadikan pengalaman membaca lebih fleksibel, menarik, dan bersifat sosial. (fin)
Editor : AA Arsyadani