Jawa Pos Radar Lawu - Band post-punk asal Denpasar, Bali, Kanekuro kembali menunjukkan eksistensinya lewat perilisan EP keempat bertajuk “Massamerta”, yang dirilis pada 10 Oktober 2024 melalui label Skullism Records.
Rilisan ini berisi lima lagu berdurasi singkat namun padat makna, menegaskan perjalanan panjang Kanekuro dalam mengeksplorasi warna musik post-punk dengan identitas khas lokal.
Formasi Kanekuro dalam EP ini terdiri dari Andre (vokal), Hendra Ginting (bass), Gesta (gitar), dan Rio Satria (drum).
Eksplorasi Tema Sosial dan Sisi Gelap Manusia
“Massamerta” mengangkat tema besar seputar intrik sosial dan sisi gelap masyarakat, baik di dunia nyata maupun ruang digital.
Lagu-lagu dalam EP ini menjadi refleksi atas fenomena sosial yang kerap diabaikan, dibungkus dalam nuansa musik yang enerjik sekaligus kelam.
Salah satu kejutan dalam EP ini adalah kolaborasi dengan Dezhimer dalam lagu bonus “CYAO”, yang menggambarkan pesan perpisahan atau penutup dari sebuah siklus perjalanan.
Kombinasi Post-Punk dengan Unsur Lokal
Meski tidak sepenuhnya mengikuti pakem post-punk klasik ala Joy Division atau Bauhaus, Kanekuro tetap mempertahankan atmosfer gelap dan introspektif dengan memasukkan elemen surf punk, arcpunk, dan old-school hardcore.
Beberapa referensi musik yang memengaruhi mereka antara lain The Cramps, Dead Kennedys, serta band-band lokal seperti The Porno (Jakarta) dan Southern Beach Terror (Yogyakarta).
Daftar Lagu “Massamerta”
-
Serikat Sekarat
-
Dansa Duka
-
Peti & Tubuh
-
Asasinasi
-
CYAO (feat. Dezhimer)
Setiap lagu menghadirkan narasi yang kuat, dari kritik sosial hingga refleksi batin manusia modern.
Kanekuro menunjukkan kematangan musikal dan lirik yang semakin tajam dibandingkan rilisan sebelumnya seperti Inky (2021), Apologia (2022), dan Tamarind (2022).
Lebih dari Sekadar Hiburan
Bagi Kanekuro, “Massamerta” bukan hanya sebuah karya musik, tetapi media kritik sosial terhadap fenomena kehidupan digital, selebrasi penderitaan, dan paradoks eksistensi manusia modern.
Energi mentah dan aransemen padat menjadikan EP ini bukan hanya menarik bagi penggemar post-punk, tapi juga bagi penikmat musik alternatif yang mencari kedalaman lirik dan konsep.
Dengan rilisan ini, Kanekuro menegaskan posisinya sebagai salah satu band post-punk paling progresif di Indonesia, yang tak sekadar mengandalkan atmosfer gelap, tapi juga substansi tematik dan kedewasaan produksi musik.
“Massamerta” menjadi bukti kematangan Kanekuro setelah hampir satu dekade berkarya. (fin)
Editor : AA Arsyadani