Jawa Pos Radar Lawu - Dalam kehidupan asmara, ada orang yang mudah menemukan pasangan, sementara sebagian lain harus berjuang lebih panjang.
Menurut primbon Jawa, perbedaan ini bisa dipengaruhi oleh weton kelahiran.
Beberapa weton dipercaya membawa aura kuat sehingga membuat pemiliknya selektif, keras hati, atau “ditakuti” secara batin oleh lawan jenis.
Akibatnya, perjalanan cinta terasa lebih rumit dibanding orang lain.
Berikut lima weton yang disebut pembawa jodoh sulit menurut primbon Jawa:
1. Sabtu Pahing
Sabtu Pahing memiliki watak dominan dan keras kepala. Mereka menuntut pasangan yang seimbang secara sikap dan wibawa. Standar tinggi ini membuat perjalanan cinta tidak selalu mulus. Namun, saat menemukan pasangan yang cocok, mereka akan sangat setia dan penuh komitmen.
2. Rabu Wage
Pemilik weton Rabu Wage bersifat misterius dan sulit ditebak. Sifat tertutup membuat lawan jenis kesulitan memahami isi hati mereka, sehingga sering terjadi miskomunikasi. Meski begitu, setelah percaya, mereka bisa menjadi pasangan yang sangat perhatian.
3. Jumat Kliwon
Jumat Kliwon dikenal memiliki aura gaib yang kuat, membuat sebagian orang segan mendekat. Daya tariknya besar, namun beberapa orang merasa minder, sehingga perjalanan jodohnya cenderung berliku sebelum bertemu pasangan yang sepadan.
Baca Juga: 5 Weton Sakti dengan Ucapan Bertuah: Restu Jadi Berkah, Teguran Jadi Peringatan Menggetarkan Hati
4. Senin Pon
Senin Pon dikenal perfeksionis dan sulit menerima kekurangan pasangan. Harapan ideal membuat mereka menunda atau menolak calon yang sebenarnya baik, hingga jodoh datang agak terlambat.
5. Kamis Legi
Kamis Legi punya pesona dan keberuntungan, tetapi asmara sering mengalami tarik-ulur. Banyak orang mendekat karena pesonanya, namun sering salah memilih pasangan. Mereka bisa beberapa kali gagal sebelum bertemu jodoh sejati.
Menurut primbon Jawa, jodoh sulit bukan berarti mustahil.
Pemilik weton ini biasanya akan mendapatkan pasangan yang benar-benar cocok dan hubungan yang kuat.
Pepatah Jawa mengatakan: “Witing tresno jalaran saka kulina”. Nah, cinta tumbuh dari kebiasaan, kesabaran, dan ketekunan. (fin)
Editor : AA Arsyadani