Jawa Pos Radar Lawu - Pernahkah kamu atau pasanganmu saling mendiamkan saat bertengkar? Hati-hati, kebiasaan ini dikenal sebagai silent treatment dan bisa berdampak buruk bagi hubungan rumah tangga, lho!
Silent treatment adalah perilaku saat seseorang memilih untuk tidak berbicara, menghindari kontak mata, atau bahkan mengacuhkan pasangannya dalam waktu lama. Meskipun terlihat sepele, jika terus dibiarkan, hal ini bisa menjadi pemicu keretakan hubungan hingga KDRT.
Yuk, kenali apa saja dampak berbahaya dari silent treatment agar kamu dan pasangan bisa menghindarinya sejak dini!
1. Menyebabkan Trauma Emosional
Diperlakukan seolah tidak ada, tentu menyakitkan. Korban silent treatment bisa mengalami:
- Rasa tidak dihargai
- Depresi dan kecemasan
- Perasaan tidak berharga
Trauma emosional ini bisa membuat pasangan merasa sendirian meski berada dalam satu atap. Akibatnya, hubungan kehilangan rasa cinta dan penghargaan satu sama lain.
2. Picu Penyakit Fisik Serius
Tahukah kamu, otak kita merespons pengabaian seperti rasa sakit fisik?
Organ yang bernama korteks cingulate anterior akan aktif saat seseorang merasa diabaikan. Gejala fisik yang muncul bisa berupa:
- Sakit kepala
- Masalah pencernaan
- Insomnia dan kelelahan
Dalam jangka panjang, ini bisa berkembang menjadi gangguan kesehatan berat seperti hipertensi, gangguan jantung, bahkan kanker.
3. Memicu Perubahan Perilaku Pasangan
Korban silent treatment biasanya akan terus bertanya:
- “Aku salah apa?”
- “Kenapa dia diam?”
Lama-lama, hal ini membuatnya meragukan diri sendiri, mulai mengubah kepribadiannya, bahkan bisa bersikap tidak autentik demi menyenangkan pasangan. Ini jelas tidak sehat dan bisa membuat pasangan kehilangan jati dirinya.
4. Masalah Tak Pernah Selesai
Alih-alih menyelesaikan konflik lewat komunikasi, silent treatment justru menciptakan lingkaran setan masalah yang tidak berujung.
Keduanya sibuk menyalahkan, menunggu minta maaf, tanpa pernah mengurai akar persoalan yang sebenarnya.
Padahal, komunikasi terbuka dan sehat adalah kunci utama dalam menyelesaikan konflik rumah tangga.
5. Menghancurkan Pernikahan Secara Perlahan
Silent treatment bukan sekadar “ngambek.” Jika berlangsung terus-menerus:
- Cinta dan kepercayaan terkikis
- Ego semakin menumpuk
- Bisa berujung pada perpisahan atau KDRT
Banyak rumah tangga hancur bukan karena masalah besar, tetapi karena tidak bisa saling bicara dengan jujur dan terbuka.
Hindari Silent Treatment, Bangun Komunikasi Sehat
Diam bukan selalu emas, terutama dalam pernikahan. Jika kamu sedang marah atau kecewa, cobalah mengungkapkannya secara sehat dan terbuka. Komunikasi yang baik bisa menyelamatkan hubungan, bahkan dari konflik yang paling rumit sekalipun.
Bicaralah, bukan mendiamkan. Dengarkan, bukan menghindar.
Kalau kamu merasa silent treatment jadi pola yang terus berulang di rumah tangga, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional seperti konselor pernikahan. (fin)
Editor : AA Arsyadani