Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Mengupas Makna di Balik Trilogi ‘Motif’ ARTJOG: Perjalanan, Imajinasi, hingga Aksi Nyata Lewat Seni Kontemporer

Dwita Ikhtiananda • Kamis, 10 Juli 2025 | 00:22 WIB

 

 

 

Trilogi “Motif” di ARTJOG akhirnya ditutup tahun ini! Dari Lamaran hingga Amalan, inilah perjalanan seni yang menggugah kesadaran. 
Trilogi “Motif” di ARTJOG akhirnya ditutup tahun ini! Dari Lamaran hingga Amalan, inilah perjalanan seni yang menggugah kesadaran. 

Jawa Pos Radar Lawu - Festival seni rupa kontemporer ARTJOG 2025 hadir sebagai penutup trilogi tema besar bertajuk "Motif" yang dimulai sejak 2023. Tiga tema utama: Lamaran, Ramalan, dan Amalan, bukan sekadar tajuk tahunan, tetapi disusun sebagai narasi kuratorial yang saling terhubung untuk menjawab tantangan sosial, budaya, dan masa depan melalui seni.

Dirancang oleh kurator Hendro Wiyanto, trilogi ini memperkuat posisi ARTJOG sebagai ruang reflektif, partisipatif, dan transformatif dalam lanskap seni rupa Indonesia.

Motif: Lamaran (2023) — Seni Sebagai Ajakan untuk Terlibat

Tahun 2023 dibuka dengan tema Lamaran, sebuah ajakan agar masyarakat tak hanya menjadi penonton seni, tetapi juga bagian aktif dari proses penciptaan makna. Instalasi interaktif dan performa terbuka menjadi ciri khas ARTJOG tahun ini. Seni dibawa ke ruang publik, membangun dialog dua arah antara seniman dan audiens.

Motif: Ramalan (2024) — Seni untuk Membaca Masa Depan

Tahun berikutnya, ARTJOG mengusung tema Ramalan, mengajak seniman memvisualisasikan masa depan dengan pendekatan kreatif. Bukan ramalan mistis, melainkan prediksi artistik terhadap isu seperti krisis lingkungan, kesenjangan sosial, dan disrupsi teknologi. Karya-karya yang lahir berperan sebagai cermin zaman dan sekaligus pengingat bahwa seni bisa mengkritisi sekaligus menawarkan solusi.

Motif: Amalan (2025) — Dari Wacana Menjadi Aksi Nyata

Tahun 2025 menjadi momen klimaks dengan tema Amalan, yang menjadikan seni sebagai bentuk tindakan etis dan kontribusi nyata. Karya-karya tahun ini banyak terinspirasi dari pengalaman kolektif seperti trauma sosial, kekerasan, atau konflik lingkungan. Fokusnya adalah seni sebagai pemicu perubahan—dari ekspresi menjadi aksi.

ARTJOG 2025 tidak lagi sekadar mengajak berpikir, tetapi mendorong semua pihak untuk bertindak. Seni menjadi sarana membebaskan, menyembuhkan, dan membangun kembali.

 

Baca Juga: ARTJOG 2025 Hadirkan Pertunjukan Harian, Lelang Amal, dan Aktivitas Seru untuk Semua Kalangan

Satu Narasi, Tiga Tahap Perubahan

Trilogi Motif dirancang sebagai alur yang utuh:

Setiap tema mewakili tahapan kesadaran dalam menghadapi dinamika zaman, di mana seni tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang dialog, kontemplasi, dan aksi nyata.

Lebih dari Sekadar Festival

ARTJOG bukan hanya ajang pameran, melainkan motor penggerak ekonomi kreatif, edukasi budaya, dan partisipasi sosial. Program seperti Young Artist Award, keterlibatan sekolah, dan partisipasi komunitas menjadi bagian dari semangat inklusif yang terus dijaga.

ARTJOG juga mendorong kolaborasi lintas disiplin dari musik, pertunjukan, sastra, hingga desain sehingga membuka ruang lebih luas bagi ide, ekspresi, dan perjumpaan budaya.

Seni Sebagai Jalan Menuju Perubahan

Dengan ditutupnya trilogi Motif, ARTJOG 2025 menjadi simbol penting bahwa seni bisa menjadi praktik hidup, bukan sekadar wacana. Dari ajakan partisipasi (Lamaran), imajinasi masa depan (Ramalan), hingga tindakan nyata (Amalan), ARTJOG menunjukkan bahwa seni mampu berperan aktif dalam membentuk masyarakat yang sadar, reflektif, dan transformatif.

Lewat karya-karya yang menggugah, ARTJOG kembali membuktikan bahwa seni bukan hanya tentang keindahan tetapi juga kekuatan untuk menyentuh hati, menggugah pikiran, dan menggerakkan perubahan nyata. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#Festival Seni Rupa #kesenian Jogjakarta #Artjog 2025