Dari Kurir Undangan Jadi Penggerak Seni Nasional, Ini Kisah Inspiratif Heri Pemad Pendiri ARTJOG
Dwita Ikhtiananda• Kamis, 10 Juli 2025 | 00:14 WIB
Dulu kurir, kini pionir seni rupa Indonesia. Heri Pemad dan ARTJOG bukti bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari langkah kecil.
Jawa Pos Radar Lawu - Di balik gemerlapnya ARTJOG, festival seni kontemporer paling bergengsi di Indonesia, berdiri sosok inspiratif bernama Heri Pemad.
Ia bukan hanya direktur artistik, tapi juga penggerak utama yang membangun fondasi festival ini dari nol.
Berawal sebagai kurir undangan seni hingga kini dikenal sebagai tokoh penting dalam ekosistem seni rupa nasional.
Dari Sukoharjo ke Yogyakarta: Perjalanan Mimpi Seorang Anak Desa
Lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, Heri Pemad tumbuh jauh dari dunia seni. Namun ketertarikannya yang besar pada seni membawanya merantau ke Yogyakarta, kota yang dikenal sebagai pusat budaya. Ia sempat gagal dua kali masuk Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, namun tak menyerah. Sambil menunggu peluang, Heri belajar secara informal dengan nongkrong di studio seniman dan kawasan Malioboro, di sinilah jaringan awal dan semangat seninya terbentuk.
Gelisah dengan Dunia Kampus, Memilih Terjun Langsung ke Lapangan
Sebagai mahasiswa seni, Heri aktif ikut pameran, tapi sering kecewa dengan kualitas penyelenggaraannya. Ia memilih keluar dari kampus dan bekerja sebagai kurir undangan pameran. Pekerjaan sederhana ini justru membuka banyak pintu—ia bertemu banyak seniman, kolektor, dan tokoh seni. Dari sinilah benih visinya untuk membangun festival seni alternatif mulai tumbuh.
Lahirnya ARTJOG: Festival Seni dari Komunitas untuk Semua
Tahun 2008, Heri merintis Jogja Art Fair (JAF) sebagai ruang pamer bagi seniman muda. Tanpa dana besar, ia mengandalkan jejaring dan semangat komunitas. Tahun 2010, JAF berevolusi menjadi ARTJOG dan berkembang pesat sebagai festival seni rupa kontemporer yang menyedot perhatian nasional dan internasional. ARTJOG kini menjadi rumah bagi ratusan karya seniman, ruang kolaborasi, dan dialog budaya.
Kontribusi Besar ARTJOG untuk Ekonomi, Pendidikan, dan Budaya
Tak hanya soal seni, ARTJOG berdampak besar secara ekonomi. Tahun 2023 saja, festival ini menciptakan perputaran ekonomi hingga Rp5 triliun—dari tiket, transaksi karya seni, hingga sektor pariwisata dan UMKM. Dalam dunia pendidikan, Heri juga mengajak pelajar datang langsung ke pameran agar seni bisa diakses sejak dini dan menjadi bagian dari pembelajaran visual.
Dukung Seniman Muda Lewat Young Artist Award
Melalui program Young Artist Award, Heri Pemad konsisten memberi panggung bagi seniman muda. ARTJOG bukan hanya festival, tapi ruang regenerasi. Tema-tema seperti Motif: Lamaran (2023), Motif: Ramalan (2024), hingga Motif: Amalan (2025) menjadi medium eksplorasi gagasan baru dan memperluas partisipasi publik dalam seni kontemporer.
Festival Inklusif yang Terbuka untuk Semua
Sebagai direktur artistik, Heri Pemad mengemas ARTJOG lebih dari sekadar pameran. Lewat berbagai acara pendukung di sekitar Jogja National Museum, ia mengundang publik dari lintas disiplin untuk ikut terlibat. Keterbukaan inilah yang membuat ARTJOG terasa hidup, dinamis, dan membumi.
Dari Langkah Kecil Menuju Warisan Budaya Besar
Perjalanan Heri Pemad membuktikan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari keberanian memulai, bahkan dari pekerjaan sekecil kurir undangan. Dengan visi, konsistensi, dan semangat komunitas, ia tak hanya membangun festival seni tetapi juga menciptakan warisan budaya yang menginspirasi banyak orang. (fin)