Jawa Pos Radar Lawu – Membangun rumah bagi masyarakat Indonesia bukan hanya urusan bata, semen, dan kayu.
Lebih dari itu, proses membangun tempat tinggal menyatu dengan tradisi dan nilai-nilai spiritual yang dijalankan turun-temurun.
Di berbagai wilayah pedesaan Jawa dan Nusantara, ritual selamatan menjadi bagian penting sejak awal pembangunan hingga saat rumah siap ditempati.
Pecah Tanah: Meminta Izin pada Alam
Langkah pertama dalam pembangunan rumah tradisional adalah selamatan pecah tanah. Upacara ini digelar sebelum alat berat atau cangkul pertama menyentuh bumi.
Sajian seperti tumpeng kecil, bunga tujuh rupa, bubur merah-putih, dan air putih menjadi simbol penghormatan terhadap penjaga tanah dan alam sekitar.
Doa bersama dipanjatkan sebagai bentuk permohonan izin, kelancaran, dan perlindungan dari marabahaya selama proses pembangunan.
Pemasangan Pondasi: Simbol Keseimbangan dan Penyangga Hidup
Usai tanah digali, pondasi menjadi tahap penting yang juga dirayakan dengan doa dan syukuran.
Dalam beberapa tradisi, pemilik rumah menanamkan koin, logam mulia kecil, atau benda simbolis di sudut-sudut pondasi.
Ini bukan sekadar simbol kekuatan struktural, melainkan juga pelambang keseimbangan spiritual rumah.
Saka Guru: Penegakan Tiang Utama yang Sakral
Tiang utama atau saka guru menjadi jantung bangunan tradisional seperti joglo atau limasan.
Pemasangannya dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Sebuah ritual khusus digelar dengan sajian seperti ingkung ayam, tumpeng lengkap, dan doa dari tokoh adat atau spiritual setempat.
Masyarakat percaya bahwa kekokohan rumah tidak hanya pada fisik, tapi juga restu dari semesta.
Munggah Molo: Syukuran Atap sebagai Puncak Pembangunan
Saat balok bubungan atau kali molo dipasang di bagian tertinggi rangka atap, inilah momen munggah molo.
Tradisi ini menandai bahwa struktur utama rumah telah selesai. Seekor ayam jago merah disembelih, janur kuning dipasang di puncak atap, dan kembali digelar doa syukur.
Munggah molo juga dipercaya sebagai simbol naiknya derajat penghuni rumah di tengah masyarakat.
Boyongan Rumah: Menempati Hunian dengan Berkah
Ritual terakhir adalah selamatan pindah rumah atau boyongan. Setelah semua rampung dan siap ditempati, pemilik rumah mengundang tetangga, kerabat, dan tokoh masyarakat untuk doa bersama dan makan tumpeng.
Ini menjadi simbol dimulainya hidup baru, doa keselamatan, serta mempererat tali silaturahmi di lingkungan baru.
Baca Juga: Mahasiswa KKN UGM Tewas Tenggelam di Maluku Tenggara, Korban Kedua Ditemukan Meninggal Dunia
Nilai di Balik Tradisi
Selamatan dalam membangun rumah bukan semata urusan mistik atau kepercayaan leluhur. Ia menjadi perwujudan rasa syukur, harmoni dengan alam, hingga bentuk gotong royong dalam masyarakat.
Meski zaman telah modern dan metode konstruksi berubah, tradisi ini tetap hidup karena mengandung nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas yang tak tergantikan.
Di tengah derasnya modernisasi, menjaga tradisi selamatan adalah cara masyarakat untuk terus mengingat bahwa rumah bukan sekadar bangunan, melainkan tempat dimulainya harapan, doa, dan cinta. (rif/kid)
Editor : Nur Wachid