Jawa Pos Radar Lawu – Di balik larangan “jangan nyapu malam-malam” atau “jangan makan di depan pintu”, ternyata ada warisan bijak yang dikenal dengan nama gugon tuhon.
Bukan sekadar mitos atau cerita nenek-nenek zaman dulu, gugon tuhon adalah cara orang Jawa ngajarin etika dan sopan santun dengan gaya yang halus tapi ngena.
Meski terdengar jadul, nasihat-nasihat ini masih relate banget buat kehidupan modern—apalagi di tengah zaman serba cepat dan serba bebas seperti sekarang.
Baca Juga: Gugon Tuhon: Jangan Makan Langsung dari Cobek, Nanti Acara Nikahanmu Bisa Kehujanan!
Gugon Tuhon Itu Apa, Sih?
Gugon tuhon berasal dari kata gugu (ikut) dan tuhu (patuh).
Artinya? Nasihat yang harus diikuti karena dipercaya ngaruh ke hidup.
Contohnya:
“Aja nyapu bengi, ora ilok.”
(Jangan nyapu malam-malam, nggak baik!)
Kelihatannya sih aneh, tapi sebenernya ini cara orang Jawa ngajarin tata krama, sopan santun, dan tanggung jawab secara halus.
Fungsi Gugon Tuhon: Bukan Cuma Mitos
Jangan salah, gugon tuhon bukan sekadar mitos.
Ini semacam “kode etik” yang disisipin ke anak-anak sejak kecil. Fungsinya?
- Ngajarin etika tanpa ceramah,
- Jadi pengingat biar nggak sembarangan,
- Ngebentuk karakter tanpa banyak kata.
Masih Relevan Nggak di Zaman Sekarang?
Banget! Di era serba bebas kayak sekarang, gugon tuhon bisa jadi rem etika.
Ketika budaya sopan mulai ditinggalin, petuah kayak gini bikin kita inget:
Hidup tuh nggak cuma soal bebas, tapi juga tahu batas.
Gugon tuhon bisa dipakai buat pendidikan karakter, baik di rumah maupun di sekolah.
Gugon Tuhon = Ilmu Sosial ala Nenek Moyang
Menurut Koentjaraningrat, budaya punya unsur “pengetahuan”.
Nah, gugon tuhon termasuk di dalamnya walaupun disampaikan lewat obrolan dapur atau cerita sebelum tidur.
Nilainya? Nggak kalah dari buku teori:
- Cara makan yang bener,
- Cara bersikap di depan orang tua,
- Sampai posisi tidur pun ada aturannya!
Baca Juga: Gugon Tuhon: Jangan Biarkan Sampah Menumpuk, Nanti Jodohmu Tersesat di Jalan!
Kenapa Harus Dilestarikan?
Karena ini bagian dari jati diri bangsa.
Di tengah budaya asing yang makin masuk, kita perlu punya “pegangan”.
Gugon tuhon ngajarin kita buat:
- Hidup tertib,
- Tahu diri,
- Nggak semaunya sendiri.
Gugon tuhon bukan warisan kuno yang basi. Ini harta budaya yang ngasih kita bekal hidup beradab.
Saatnya kita angkat lagi dan ajarin ke generasi muda, biar makin modern, tapi tetap tahu arah dan akar. (fin)
Editor : AA Arsyadani