Jawa Pos Radar Lawu - Malam 1 Suro bukan sekadar pergantian tahun Jawa, tapi malam yang diyakini membawa energi spiritual kuat.
Di balik suasana heningnya, malam ini dihormati sebagai waktu yang tepat untuk menyepi, tirakat, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Baca Juga: Mitos atau Fakta? Menikah di Bulan Suro Dianggap Pamali, Simak Penjelasannya!
Apa Itu Malam 1 Suro?
Malam 1 Suro adalah malam pertama pada bulan Suro, yakni bulan pembuka kalender Jawa, yang dipengaruhi sistem Hijriah, Hindu, dan Masehi.
Kalender ini dirumuskan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo pada abad ke-17 dan menjadikan 1 Suro bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Islam.
Berbeda dengan kalender Masehi, pergantian hari dalam kalender Jawa dimulai saat matahari terbenam, tepat setelah Maghrib.
Baca Juga: 1 Suro 2025 Bertepatan Jumat Kliwon: Weton Keramat Pembawa Misi Leluhur!
Mitos dan Kepercayaan yang Melekat
Di kalangan masyarakat Jawa, malam ini diyakini sebagai saat terbukanya "gerbang gaib".
Dunia nyata dan tak kasat mata dipercaya bersinggungan.
Banyak ritual dilakukan demi keselamatan, berkah rezeki, dan jodoh, seperti:
- Ziarah makam leluhur
- Menabur sesaji
- Sedekah laut
- Lelaku (tirakat atau puasa nafsu duniawi)
Baca Juga: Weton Paling Hoki di Bulan Suro 2025, Cek Apakah Hari Lahir Kamu Tercatat Paling Beruntung?
Pantangan Malam 1 Suro yang Masih Dipercaya
Berikut beberapa pantangan malam 1 Suro yang masih dipegang teguh oleh sebagian masyarakat Jawa:
1. Dilarang Keluar Rumah: Dipercaya sebagai waktu rawan energi negatif.
2. Hindari Suara Bising: Tirakat dilakukan dalam hening, bahkan tanpa makan/minum.
3. Menikah di Bulan Suro: Dianggap membawa nasib buruk bagi rumah tangga.
4. Pindah Rumah: Diyakini sebagai waktu yang tidak baik memulai sesuatu yang baru.
Malam 1 Suro bukan hanya tentang mitos atau larangan, tetapi tentang introspeksi, spiritualitas, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Memahami maknanya lebih penting daripada sekadar mempercayai mitos yang beredar.
Tradisi ini mengajarkan nilai ketenangan, pengendalian diri, dan kedekatan kepada Sang Pencipta. (fin)
Editor : AA Arsyadani