Jawa Pos Radar Lawu – Tiap bulan Agustus, jalanan Pacitan berubah menjadi panggung raksasa yang penuh warna, irama, dan semangat kemerdekaan.
Dentuman ritmis, teriakan komando, hingga gemuruh tepuk tangan penonton berpadu dalam satu parade budaya yang dikenal sebagai Rontek Pacitan.
Tradisi khas ini tak sekadar menjadi tontonan, tetapi telah menjelma sebagai ikon kultural Kota Seribu Goa.
Berawal dari suara “rontek”—denting alat musik tradisional yang dimainkan berulang—pertunjukan ini berkembang menjadi ajang seni jalanan kolosal yang memadukan musik perkusi, baris-berbaris, koreografi, dan narasi budaya.
Lebih dari sekadar pertunjukan, Rontek adalah ruang ekspresi masyarakat, khususnya generasi muda Pacitan, untuk menyuarakan kreativitas dan kecintaan pada tanah air.
Perpaduan Musik Tradisional dan Kreativitas Modern
Setiap tim peserta rontek biasanya terdiri atas puluhan anak muda dari sekolah, sanggar seni, maupun komunitas lokal.
Mereka membawakan aransemen musik yang unik—menggabungkan alat tradisional seperti kentongan dan bambu dengan instrumen modern seperti drum modifikasi, ember plastik, hingga pelat logam.
Tak jarang, nuansa lokal diselipkan lewat iringan lagu daerah, wayang, atau teatrikal bertema sejarah dan kearifan lokal Pacitan.
Namun kekuatan utama rontek bukan cuma di telinga, tetapi juga di mata. Koreografi baris-berbaris dikemas energik dan dinamis, diiringi gerakan tubuh yang serempak dan formasi yang apik.
Pada malam hari, cahaya lampu hias yang menyala di tiap kostum menambah kemeriahan parade yang melintas dari satu sudut kota ke sudut lainnya.
Ciri Khas Rontek Pacitan:
Irama cepat dan menghentak yang membakar semangat penonton.
Gerak jalan koreografis dengan formasi unik dan beragam gaya.
Penampilan malam hari yang memukau berkat pencahayaan warna-warni.
Tema patriotik dan lokalitas yang diangkat dengan bangga.
Lebih dari Sekadar Parade, Ini Ajang Identitas Kolektif
Rontek bukan semata panggung kompetisi antar peserta, tetapi juga telah menjadi media edukasi budaya dan ajang mempererat persatuan antarwarga.
Warga Pacitan tumpah ruah ke pinggir jalan untuk menyaksikan dan memberi semangat, menciptakan atmosfer guyub yang hangat dan membanggakan.
Tak heran, even ini selalu ditunggu-tunggu, baik oleh masyarakat lokal maupun wisatawan dari luar daerah.
Rontek menjadi semacam “musim” yang mendatangkan nostalgia dan rasa bangga kolektif terhadap warisan budaya daerah.
Menguatkan Citra Pacitan Sebagai Kota Budaya
Rontek telah menjadi lebih dari sekadar hiburan malam menjelang Hari Kemerdekaan.
Ia adalah simbol pelestarian budaya, wujud kecintaan terhadap seni, serta cara Pacitan menampilkan identitasnya ke pentas nasional.
Kota yang dikenal dengan seribu goa ini, melalui rontek, menunjukkan bahwa kekayaan budaya tak kalah memesona dibanding keindahan alamnya. (cus/kid)
Editor : Nur Wachid