Jawa Pos Radar Lawu - Dalam kehidupan masyarakat Jawa, weton masih menjadi bagian penting dalam menentukan hari baik dan buruk.
Tak hanya untuk pernikahan atau pindah rumah, bahkan kelahiran anak pun sering kali dihitung wetonnya.
Weton sendiri merupakan perpaduan antara hari kalender Masehi (Senin–Minggu) dan lima pasaran Jawa (Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage).
Kombinasi ini dipercaya menentukan karakter, nasib, hingga kecocokan seseorang dengan anggota keluarga lainnya.
Kepercayaan Weton Anak dan Orang Tua Sama: Benarkah Bisa Membawa Sial?
Salah satu mitos yang masih berkembang adalah keyakinan bahwa anak dan orang tua tidak boleh memiliki weton yang sama.
Katanya, kalau wetonnya sama bisa menyebabkan:
- Rezeki "tertukar" atau tidak lancar
- Sering terjadi pertengkaran
- Nasib buruk saling menimpa satu sama lain
- Sial berkepanjangan dalam keluarga
Namun, ini tentu bukan hukum mutlak.
Banyak keluarga modern yang hidup harmonis meskipun weton anak dan orang tuanya sama.
Pola asuh, komunikasi, dan nilai kekeluargaan jauh lebih menentukan keharmonisan dibanding sekadar perhitungan weton.
Tradisi “Buang Bayi” dalam Budaya Jawa: Bukan Harfiah, tapi Simbolik
Pernah dengar istilah “buang bayi” karena weton? Jangan salah paham dulu!
Dalam budaya Jawa, istilah ini bukan berarti benar-benar membuang anak, tapi merupakan ritual simbolik untuk mengalihkan beban spiritual anak yang dianggap "berat".
Biasanya dilakukan dengan cara:
- Anak secara simbolis “diangkat” menjadi anak oleh kerabat lain
- Diasuh sementara oleh kakek-nenek
- Diberi nama baru yang dianggap lebih “ringan”
- Didoakan atau dilakukan ruwatan untuk “menetralkan” energi
Intinya, tradisi ini adalah bentuk usaha spiritual agar anak tidak mengalami nasib buruk berdasarkan kepercayaan terhadap hitungan weton.
Baca Juga: Weton Paling Hoki di Bulan Suro 2025, Cek Apakah Hari Lahir Kamu Tercatat Paling Beruntung?
Zaman Sudah Berubah, Tradisi Harus Disikapi dengan Bijaksana
Di era sekarang, tradisi seperti ini tidak lagi dijadikan satu-satunya acuan. Banyak keluarga lebih memilih fokus pada:
- Pendidikan anak
- Pengasuhan yang positif
- Penanaman nilai-nilai agama dan moral
- Hubungan harmonis antar anggota keluarga
Tradisi tetap penting sebagai bagian dari budaya, asal tidak membatasi logika dan pilihan hidup.
Kita bisa menghormatinya tanpa harus mempercayainya secara buta.
Antara Mitos, Warisan Leluhur, dan Kearifan Modern
Weton bukan sekadar angka atau hari lahir, tapi juga warisan filosofis yang mengajarkan kehati-hatian, introspeksi, dan perencanaan hidup.
Namun, kita harus ingat bahwa nasib dan masa depan tidak ditentukan hanya dari weton.
Menjadi bijak dalam menyikapi tradisi berarti menghargai akar budaya tanpa kehilangan akal sehat. (fin)
Editor : AA Arsyadani