Jawa Pos Radar Lawu - Di kalangan masyarakat Jawa, bulan Suro dikenal sebagai waktu penuh energi spiritual dan kesakralan.
Tak sedikit yang meyakini bahwa menikah di bulan ini bisa membawa kesialan.
Akibatnya, banyak pasangan sengaja menunda pernikahan hanya karena tanggalnya bertepatan dengan bulan Suro.
Tapi, benarkah larangan ini punya dasar kuat? Atau hanya mitos warisan leluhur yang tak lagi relevan?
1. Asal Usul Larangan: Tradisi, Bukan Ajaran Agama
Larangan menikah di bulan Suro tidak ditemukan dalam ajaran agama manapun.
Ini murni tradisi Jawa yang menganggap bulan Suro (yang bertepatan dengan Muharram dalam kalender Hijriah) sebagai waktu untuk:
-
Menyepi dan introspeksi diri
-
Menjalani tirakat atau laku batin
-
Menghormati roh leluhur yang diyakini “turun” ke dunia
Karena sifatnya sakral dan sunyi, pesta pernikahan dianggap tidak selaras dengan suasana batin bulan Suro.
2. Filosofi Jawa: Hindari Kemeriahan di Bulan Sakral
Pernikahan identik dengan perayaan, hiburan, dan sorak-sorai. Sementara bulan Suro dimaknai sebagai masa kontemplasi.
Maka banyak orang tua Jawa percaya bahwa menikah di bulan ini bisa:
-
Mengundang konflik dalam rumah tangga
-
Menimbulkan gangguan energi gaib
-
Menjadi awal yang tidak selaras secara spiritual
Baca Juga: Hati-Hati! 5 Weton Ini Rawan Sial di Bulan Suro, Rentan Gangguan Energi Negatif
3. Energi Gaib: Terlalu Kuat untuk Awal Pernikahan?
Beberapa kepercayaan menyebut bahwa energi bulan Suro sangat tinggi dan tidak cocok untuk acara bahagia seperti pernikahan.
Efeknya bisa berupa:
-
Hubungan mudah panas dan emosional
-
Godaan pihak ketiga
-
Masalah-masalah yang datang tak terduga
Namun ini semua tergolong keyakinan secara metafisis, tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.
Baca Juga: Begini Cara Tirakat Malam 1 Suro Berdasarkan Weton agar Hidup Semakin Jelas dan Terarah!
4. Fakta di Lapangan: Banyak yang Tetap Menikah dan Bahagia
Meski banyak yang masih percaya, faktanya:
-
Banyak pasangan menikah di bulan Suro dan tetap langgeng
-
Tidak ada bukti ilmiah bahwa bulan Suro membawa sial
-
Dalam Islam, bulan Muharram (Suro) justru dianggap mulia dan penuh pahala
Bahkan banyak tokoh agama menyebut larangan ini sebagai bentuk tahayul yang tidak perlu diikuti.
5. Menikah di Bulan Suro: Boleh, Asal Siap Mental dan Sosial
Kalau kamu berencana menikah di bulan Suro, tidak masalah. Tapi tetap pertimbangkan:
-
Komunikasi dengan keluarga besar yang masih menjunjung tradisi
-
Menyatukan perspektif modern dan tradisional secara bijak
-
Mengiringi pernikahan dengan doa dan niat baik, sebagai bentuk penghormatan
Pada akhirnya, kesuksesan rumah tangga ditentukan oleh komitmen, komunikasi, dan rasa saling menghormati.
Larangan menikah di bulan Suro lebih tepat disebut sebagai spirit budaya, bukan fakta agama.
Jauh lebih penting bukan sekadar kapan menikah, tapi bagaimana menjalani pernikahan itu setelahnya. (fin)
Editor : AA Arsyadani