Jawa Pos Radar Lawu - Hari Suro, atau 1 Suro dalam penanggalan Jawa (yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah), bukan sekadar momen pergantian tahun.
Bagi masyarakat Jawa, ini adalah hari yang penuh makna spiritual, saat energi alam dipercaya sedang kuat-kuatnya.
Menariknya, sebagian orang Jawa menyambut Hari Suro berdasarkan weton kelahiran.
Yakni, perpaduan antara hari dan pasaran lahir seseorang menurut kalender Jawa.
Tradisi ini diyakini bisa membantu menyelaraskan nasib, rezeki, dan perlindungan spiritual.
Weton dan Hari Suro: Perpaduan Energi Spiritual
Dalam kepercayaan Jawa, weton bukan cuma angka lahir. Ia dianggap membawa pengaruh terhadap karakter, hoki, jodoh, bahkan kecocokan laku tirakat.
Saat Hari Suro tiba, banyak yang memanfaatkan waktu ini untuk:
-
Melakukan tirakat spiritual
-
Menghindari aktivitas besar seperti menikah, pindah rumah, atau memulai bisnis
-
Melakukan ruwatan atau pembersihan diri
Hari Suro juga diyakini sebagai saat di mana batas antara dunia fisik dan gaib menjadi tipis, sehingga segala bentuk energi, baik maupun buruk, lebih mudah dirasakan.
Jenis-Jenis Weton dan Laku yang Disarankan
Berikut adalah pembagian weton yang umum dipercaya, beserta tradisi khususnya saat 1 Suro:
Weton Kuat (Sabtu Kliwon, Jumat Legi, Rabu Pahing)
Orang dengan weton ini diyakini punya energi batin besar.
Tapi jika tak diseimbangkan, bisa membawa beban spiritual.
-
Laku disarankan: Tapa bisu, tirakat malam di tempat sunyi seperti makam leluhur atau puncak bukit.
-
Tujuannya agar kekuatan batin tidak “meledak” atau membawa dampak negatif ke sekitar.
Weton Sensitif (Senin Wage, Selasa Pon, Kamis Legi)
Weton ini dianggap lebih rentan terhadap gangguan energi negatif, terutama di bulan Suro.
-
Laku disarankan: Puasa mutih, mandi kembang, hindari perjalanan jauh atau keputusan penting dalam 10 hari awal bulan Suro.
Weton Rezeki (Rabu Pon, Minggu Pahing, Kamis Kliwon)
Dipercaya memiliki hoki rezeki yang besar, apalagi jika melakukan ritual khusus di malam 1 Suro.
-
Tradisi: Menyalakan lilin di empat penjuru rumah dan berdoa tepat tengah malam agar rezeki mengalir lancar.
Tirakat Populer Saat 1 Suro
Beberapa tradisi yang kerap dilakukan masyarakat Jawa di malam 1 Suro, antara lain:
-
Tapa Bisu: Tidak bicara semalaman, kadang dilakukan sambil berjalan atau ziarah.
-
Puasa Mutih: Hanya makan nasi putih dan air putih, sebagai simbol pembersihan jiwa.
-
Mandi Kembang 7 Rupa: Membersihkan aura negatif dan menarik energi positif.
-
Doa Weton: Dibaca sesuai neptu hari lahir, sebagai bentuk harmonisasi batin.
Menjaga Warisan Leluhur di Era Modern
Meski zaman sudah berubah, banyak keluarga Jawa tetap menjaga tradisi menyambut Hari Suro berdasarkan weton.
Bagi mereka, ini bukan sekadar mitos atau tahayul, tapi cara untuk merawat hubungan dengan alam semesta, leluhur, dan diri sendiri.
Hari Suro menjadi momentum penting untuk refleksi diri, me-reset energi, dan memperkuat batin.
Jadi sebelum menjalani tirakat, cari tahu dulu wetonmu.
Dengan begitu, setiap langkah spiritual yang kamu lakukan akan terasa lebih bermakna dan tepat sasaran. (fin)
Editor : AA Arsyadani