Jawa Pos Radar Madiun – Dalam budaya Jawa, Hari Suro bukan sekadar pergantian tahun.
Tanggal 1 Suro—yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah—dipandang sebagai hari keramat yang penuh makna spiritual.
Banyak orang Jawa menyambut momen ini dengan ritual khusus berdasarkan weton kelahiran, yang dipercaya membawa pengaruh besar terhadap nasib dan keseimbangan hidup seseorang.
Baca Juga: Aplikasi Investasi yang Lagi Hits di 2025: Panduan Buat Investor Pemula Biar Nggak Boncos!
Makna Hari Suro dalam Budaya Jawa
Hari Suro diyakini sebagai saat di mana tabir antara dunia nyata dan gaib menjadi tipis, sehingga energi spiritual, baik positif maupun negatif, lebih mudah dirasakan.
Tak heran jika banyak masyarakat menghindari kegiatan besar, seperti menikah, pindah rumah, atau membuka usaha baru pada bulan ini.
Sebaliknya, Hari Suro digunakan sebagai waktu untuk:
- Ruwatan diri, seperti mandi kembang atau puasa
- Tirakat sesuai weton, seperti tapa bisu atau semedi
- Ziarah leluhur dan pembacaan doa weton
Baca Juga: Rebusan Santan Penuh Cerita: Resep Sayur Lodeh Tradisional dari Dapur Jawa!
Ritual Khusus Berdasarkan Weton Kelahiran
Dalam primbon Jawa, weton merupakan perpaduan hari dan pasaran kelahiran yang memengaruhi karakter, rezeki, hingga potensi gangguan spiritual. Maka, tradisi menyambut Suro disesuaikan pula dengan jenis weton:
1. Weton Kuat
Contoh: Sabtu Kliwon, Jumat Legi, Rabu Pahing
- Dianjurkan melakukan tapa bisu di tempat sunyi (makam leluhur, gunung)
- Tujuannya menyeimbangkan kekuatan batin agar tidak "berat" bagi lingkungan sekitar
2. Weton Sensitif
Contoh: Senin Wage, Selasa Pon, Kamis Legi
- Rentan terhadap gangguan energi negatif
- Disarankan mandi kembang, puasa, dan menghindari perjalanan jauh
3. Weton Rezeki
Contoh: Rabu Pon, Minggu Pahing, Kamis Kliwon
- Cocok melakukan tirakat malam Suro untuk membuka rezeki
- Tradisi: Menyalakan lilin di empat penjuru rumah dan membaca doa tengah malam
Baca Juga: Hikayat Sayur Lodeh: Hidangan Keramat dari Dapur Rakyat ke Meja Raja, Penyatu Rasa Lidah Nusantara
Laku Spiritual Populer di Hari Suro
Beberapa laku tirakat yang masih dilakukan hingga kini, antara lain:
- Tapa Bisu: Tidak bicara semalaman sambil berjalan atau berziarah
- Puasa Mutih: Menahan nafsu makan untuk penyucian raga dan jiwa
- Mandi Kembang Tujuh Rupa: Untuk menolak bala dan membersihkan aura
- Doa Weton: Dibaca berdasarkan neptu dan pasaran kelahiran untuk perlindungan dan keseimbangan
Lebih dari Sekadar Tradisi
Bagi masyarakat Jawa, tradisi ini bukan sekadar warisan budaya atau mitos belaka.
Ia adalah bentuk refleksi spiritual, cara untuk menjaga keselarasan antara lahir dan batin, antara manusia dan alam semesta.
Menyambut Hari Suro berdasarkan weton adalah cara leluhur untuk menjaga ketenangan batin dan membersihkan energi hidup.
Dan di era modern, tradisi ini tetap relevan—bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk mengajak kita merenung, menyucikan, dan menyelaraskan kembali langkah hidup. (fin)