Jawa Pos Radar Lawu – Dalam dunia yang terbelah oleh perang dan politik, kisah cinta Mahmoud Darwish dan Rita terasa mustahil.
Namun justru karena itulah ia begitu abadi.
Layaknya Romeo dan Juliet, mereka saling mencintai di tengah dua bangsa yang saling menolak.
Cinta mereka lahir dalam senyap, tumbuh dalam gelisah, dan abadi dalam puisi.
Mahmoud Darwish dikenal dunia sebagai suara hati Palestina.
Ia menulis tentang tanah air, pengasingan, perlawanan, dan kehilangan.
Tak banyak yang tahu kisah cintanya kepada Rita, perempuan Yahudi-Israel.
Mereka bertemu di awal 1960-an, saat Darwish menjadi mahasiswa di Universitas Haifa.
Rita adalah perempuan muda dari keluarga Yahudi.
Cinta tumbuh di antara mereka.
Diam-diam dan penuh harap, seakan dunia bisa menjadi tempat yang adil bagi dua jiwa dari dua sisi konflik yang tak pernah usai.
Darwish menangkap gelora cinta itu dalam puisinya berjudul Rita and the Rifle.
“Saya pernah mengatakan padanya, 'Kamu adalah pedang yang menang.' Dia menjawab, 'Kamu adalah pisau yang lolos.’”
Namun seperti halnya Romeo dan Juliet, takdir tak berpihak pada mereka.
Rita ternyata bekerja untuk Mossad, dan Darwish tak bisa menyangkal kenyataan bahwa cintanya bertabrakan dengan perjuangannya.
Hubungan itu pun kandas.
Tapi cinta tak pernah benar-benar hilang.
Justru luka itulah yang terus ia tulis:
“Semua jalan mengarah padamu, bahkan jalan yang kuambil untuk melupakanmu.”
Rita menjadi simbol dalam puisinya.
Tentang perasaan yang dikhianati oleh sejarah.
Kisah mereka juga diangkat ke layar dalam film dokumenter Write Down, I Am an Arab (2021). (fin)
Editor : AA Arsyadani