JAWA POS RADAR LAWU - Bulan Ramadan adalah saat yang tepat untuk merenungkan kisah-kisah inspiratif dari para nabi. Sebuab cerita yang penuh hikmah dan pelajaran berharga.
Salah satu kisah menarik yang jarang diketahui adalah ketika Nabi Sulaiman AS mendapat perintah dari Allah SWT untuk pergi ke tepi laut. Atas perintah itu, Nabi Sulaiam lantas menyuruh jin ifrit menyelam ke dasar laut.
Jin ifrit menjalankan apa yang diperintahkan kepadanya. Namun selanjutnya, Nabi Sulaiman menemukan sesuatu yang luar biasa.
Dengan penuh rasa ingin tahu, Nabi Sulaiman AS segera berangkat bersama rombongannya yang terdiri dari manusia dan jin.
Sesampainya di tepi laut, ia memandang ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari tahu apa yang akan ia temukan. Namun, tidak ada yang tampak berbeda.
Merasa penasaran, Nabi Sulaiman kemudian memanggil Jin Ifrit, salah satu jin yang paling kuat di kerajaannya.
"Menyelamlah ke dasar laut, lalu katakan padaku apa yang kau lihat di dalam sana," perintah Nabi Sulaiman.
Tanpa ragu, Jin Ifrit pun menyelam ke dalam laut, menyusuri kedalamannya yang gelap dan luas. Beberapa waktu kemudian, ia muncul ke permukaan dan menghadap Nabi Sulaiman.
"Wahai Nabi Allah, aku telah menyelam sangat dalam, menjelajahi ke sana kemari, tetapi aku tidak menemukan sesuatu yang luar biasa," lapor Ifrit dengan suara berat.
Merasa belum puas dengan jawaban itu, Nabi Sulaiman pun mengutus Ifrit yang lain untuk menyelam lebih dalam. Namun, hasilnya tetap sama. Tidak ada satu pun yang ditemukan oleh para jin di dasar laut.
Akhirnya, Nabi Sulaiman meminta Asif Barkhiya, seorang wali Allah yang doanya selalu dikabulkan, untuk berdoa agar Allah memperlihatkan keajaiban yang tersembunyi.
Begitu Asif Barkhiya berdoa, tiba-tiba dari dalam laut muncul sebuah benda berbentuk kubah yang menakjubkan!
Kubah itu memiliki empat pintu, masing-masing terbuat dari batu intan, yaqut, intan putih, dan zamrud hijau. Anehnya, tidak ada setetes air pun yang masuk ke dalamnya, meskipun benda itu berada di dasar laut yang sangat dalam.
Ketika kubah itu terbuka, Nabi Sulaiman AS terkejut melihat seorang pemuda tampan yang sedang shalat di dalamnya. Pakaiannya serba putih, tubuhnya bersih, dan wajahnya bercahaya.
Dengan penuh takjub, Nabi Sulaiman pun memberi salam, dan pemuda itu mempercepat shalatnya untuk menjawab salam tersebut.
"Sebab apa kau bisa berada di dasar laut ini?" tanya Nabi Sulaiman penuh penasaran.
Pemuda itu tersenyum dan mulai bercerita, "Wahai Nabi Allah, aku adalah seorang anak yang sejak kecil merawat kedua orang tuaku. Ayahku lumpuh, dan ibuku buta. Aku merawat mereka dengan penuh kasih sayang selama tujuh puluh tahun."
"Ketika ibuku wafat, ia berdoa, ‘Ya Allah, panjangkan umur anakku dalam keadaan selalu takwa kepada-Mu.’ Dan saat ayahku meninggal, ia berdoa, '‘Ya Allah, tempatkanlah anakku di tempat yang tidak bisa ditemukan oleh setan.’'
Setelah kehilangan kedua orang tuanya, pemuda itu berjalan di tepi pantai, mencoba menghilangkan kesedihannya. Saat itu, ia melihat kubah bercahaya yang sangat indah dan masuk ke dalamnya. Tiba-tiba, malaikat datang dan membawa kubah tersebut ke dasar laut, sehingga sejak saat itu, ia tinggal di dalamnya.
Mendengar cerita ini, Nabi Sulaiman AS semakin takjub. Ia bertanya, "Pada zaman siapa kau pertama kali melihat pantai ini?"
Pemuda itu menjawab, "Pada zaman Nabi Ibrahim AS."
Nabi Sulaiman sangat terkejut. Ia sadar bahwa jarak antara zamannya dan zaman Nabi Ibrahim adalah 2.400 tahun, tetapi pemuda itu masih hidup dengan tubuh yang tetap muda dan rambutnya tidak beruban.
Dengan penuh keheranan, Nabi Sulaiman bertanya lagi, "Lalu, bagaimana kau bisa mendapatkan makanan dan minuman di tempat ini?"
Pemuda itu menjawab, "Setiap hari, Allah mengutus seekor burung yang membawakan makanan sebesar kepala manusia. Setelah aku memakannya, aku tidak lagi merasa lapar, haus, lelah, kantuk, atau kesepian."
Nabi Sulaiman semakin kagum dengan keajaiban doa orang tua yang telah menjadikan pemuda ini hidup dalam keadaan aman, sejahtera, dan jauh dari godaan setan.
Akhirnya, Nabi Sulaiman memberikan pilihan kepadanya, "Maukah kau ikut denganku ke kerajaanku, atau kau ingin kembali ke tempatmu?"
Pemuda itu menjawab, "Wahai Nabi Allah, tolong kembalikan aku ke tempat semula."
Nabi Sulaiman pun mengabulkan permintaannya. Dengan izin Allah, pemuda itu kembali ke dalam kubah dan menghilang dari pandangan Nabi Sulaiman dan rombongannya.
Kisah ini mengajarkan bahwa doa orang tua sangatlah mustajab. Doa yang tulus bisa membawa keberkahan dan perlindungan luar biasa bagi anak-anaknya.
"Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang tua pada anaknya." (HR Ibnu Majah)
Begitu pula, ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka mereka, sebagaimana hadits:
"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua." (HR Hakim & Ath-Thabrani)
Kisah ini menjadi pengingat yang indah di bulan Ramadan. Yakni, agar selalu berbakti kepada orang tua dan menghormati merekaJangan pernah menyakiti hati mereka, karena doa mereka sangat berpengaruh. Serta, ridha Allah bisa kita raih dengan mendapatkan ridha dari orang tua kita.
Jika seorang pemuda bisa hidup selama ribuan tahun dalam keadaan mulia hanya karena doa kedua orang tuanya, betapa besarnya dampak doa orang tua terhadap hidup kita.
Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan. Inilah saatnya kita semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan memuliakan orang tua kita. Jika mereka masih ada, baktikan diri kepada mereka. Jika mereka telah tiada, doakan mereka dengan penuh cinta dan keikhlasan.
Semoga kita semua menjadi anak-anak yang selalu mendapat ridha Allah melalui ridha kedua orang tua kita. Aamiin. (den)
Editor : Deni Kurniawan