Jawa Pos Radar Lawu - Pada momen bulan suci ramadhan ini, banyak tradisi khas nusantara yang memeriahkan suasana bulan puasa. Salah satunya adalah membangunkan sahur di Indonesia.
Tradisi membangunkan sahur di Indonesia sudah bukan menjadi hal asing. Tradisi unik ini telah berkembang di berbagai daerah Indonesia dan menjadi identitas di daerah tertentu.
Tradisi membangunkan sahur di Indonesia cukup semarak, karena melibatkan masyarakat terutama anak-anak.
Berikut tradisi membangunkan sahur di Indonesia :
Tradisi Ngarak Beduk
Tradisi membangunkan sahur Ngarak Beduk yang berasal dari suku Betawi di Jakarta dan sekitarnya.
Tradisi Ngarak Beduk atau beduk sahur dilakukan secara beramai-ramai, baik dari anak kecil, hingga orang dewasa.
Gerobak yang berisikan beduk ditarik beramai-ramai sambil dipukul.
Biasanya rombongan tradisi Ngarak Beduk juga membawa genta, rebana, dan genjring, sehingga membuat suasana semakin meriah.
Tak lupa mereka berjoget sambil menyanyikan lagu-lagu daerah untuk membangunkan orang sahur.
Namun budaya betawi mulai dipengaruhi oleh budaya Tiongkok, orang betawi menambahkan petasan dalam tradisi membangunkan sahur selain menggunakan beduk.
Baca Juga: Pantai Sundak: Daya Tarik, Fasilitas, Harga Tiket Masuk, Jam Operasional, dan Rute
Suara yang dihasilkan dari pukulan dan petasan itulah yang membuat orang terkejut dan bangun.
Meskipun unik, tradisi Ngarak Beduk di beberapa daerah sudah mulai berkurang, karena terkait larangan dan membuat gaduh di malam hari.
Tradisi Koko’o Suhuru
Koko’o suhuru atau ketuk sahur adalah tradisi membangunkan warga dengan menggunakan barang bekas dan diiringi lagu-lagu daerah.
koko’o suhuru berasal dari kata “koko’o”, yang berarti membangunkan atau memberi tahu, dan “suhuru”, yang berarti sahur.
Tradisi ini masih dipertahankan oleh orang tua hingga remaja gorontalo.
Tradisi membangunkan sahur ini sudah dilakukan turun-temurun. Kemudian berkembang menjadi tradisi khas Gorontalo Kala Ramadhan tiba.
Mereka biasanya menyanyikan lagu Hulontalo Lipu’u diiringi ketukan khas yang berasal dari barang bekas.
Warga secara beramai-ramai menyusuri sepanjang jalan membangunkan warga untuk bersahur.
selain menyanyikan lagu khas daerah, mereka juga menyanyikan lagu Indonesia Raya, hingga menciptakan lagu sendiri yang berjudul “Menunggu Sahur”.
Tradisi Dengo-Dengo
Masyarakat Kota Bungku, Ibu Kota Morowali, Sulawesi Tengah, memiliki tradisi membangunkan sahur yang mereka sebut “Dengo-Dengo”.
“Dengo-Dengo” sendiri dalam bahasa Indonesia yang bermakna “tempat beristirahat”.
Dengo-Dengo merupakan sebuah bangunan yang menjulang setinggi hampir 15 meter. Terbuat dari batang bambu sebagai tiang penyangga, menggunakan lantai papan dengan ukuran 3x3 meter persegi dan beratap daun sagu.
Dengo-Dengo didirikan dengan cara gotong royong oleh warga menjelang datangnya bulan ramadhan.
Dengo-Dengo sendiri sudah muncul sejak abad ke-17. Sejak kemunculannya tradisi Dengo-Dengo bertujuan untuk menyerukan agar bangun saat sahur dini hari.
Bangunan ini juga dilengkapi sebuah gong, gendang, dan rebana, serta ditunggui sekitar 8 orang warga.
Hampir setiap rukun tetangga memiliki sebuah Dengo-Dengo. Menjelang petang hari, Dengo-Dengo berfungsi sebagai tempat beristirahat menanti waktu buka puasa.
Tradisi Ubrug-Ubrug
Masyarakat Kabupaten Karawang, Jawa Barat, tepatnya di wilayah Kecamatan Tempuran, memiliki tradisi membangunkan sahur dengan cara yang cukup unik.
Tradisi membangunkan sahur di wilayah ini biasa disebut dengan istilah “Ubrug-Ubrug”, kata Ubrug memiliki makna bangunan darurat, tempat bekerja sementara, seperti tempat hajatan atau pesta.
Kata Ubrug kemudian digunakan sebagai nama kesenian, karena pada masa lampau seni pertunjukan ini sering berpindah tempat.
Biasanya warga akan membangunkan sahur dengan cara berkeliling kampung dengan memainkan beberapa alat musik, baik tradisional maupun modern.
Alat musik ini akan mengiringi lagu-lagu yang dinyanyikan oleh seorang sinden.
Tradisi Bagarakan Sahur yang berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, tidak ada catatan sejarah yang menyebutkan awal mula dilakukannya Bagarakan ini.
Diperkirakan sudah ada sejak awal sebelum Islam masuk di daerah Banjar, Kalimantan Selatan.
Tradisi ini dilakukan dengan peralatan sederhana yang dapat menghasilkan suara yang cukup keras.
Mereka memiliki alat musik tradisional yakni gendang (babun) dan gong yang sudah pernah mereka pakai untuk membangunkan orang sahur. (aris-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid