Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Menilik Sejarah dan Makna Kue Apem yang Selalu Ada dalam Tradisi Megengan Jelang Ramadan

Indi Wardani • Kamis, 27 Februari 2025 | 16:48 WIB
Kue apem yang selalu ada saat tradisi megengan
Kue apem yang selalu ada saat tradisi megengan

Jawa Pos Radar Lawu - Menjelang Ramadan, masyarakat Jawa memiliki tradisi Megengan, yaitu acara doa bersama dan syukuran sebelum memasuki bulan puasa.

Dalam tradisi ini, salah satu sajian khas yang hampir selalu ada adalah kue apem. Lalu, mengapa kue apem menjadi bagian penting dalam Megengan?

Berikut beberapa alasan di balik tradisi ini.

Makna Simbolis Kue Apem dalam Megengan

Kata apem berasal dari bahasa Arab “afwan” atau “afw”, yang berarti ampunan.

Oleh karena itu, menyajikan dan membagikan apem dalam Megengan melambangkan permohonan maaf dan harapan untuk mendapatkan pengampunan dari Allah sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

Masyarakat Jawa percaya bahwa sebelum berpuasa, seseorang harus membersihkan hati dan meminta maaf kepada sesama agar ibadahnya lebih sempurna.

Sebagai Bentuk Syukur dan Doa

Dalam Megengan, apem sering disajikan bersama tumpeng dan makanan lain dalam acara doa bersama.

Kue ini dianggap sebagai simbol syukur atas rezeki yang diberikan Allah serta harapan agar diberikan kelancaran dalam menjalankan ibadah puasa.

Selain itu, apem sering dibuat dalam jumlah banyak dan dibagikan kepada tetangga atau keluarga.

Hal ini mencerminkan semangat berbagi yang juga menjadi nilai utama dalam bulan Ramadan.

Baca Juga: Jelang Bulan Suci Ramadan, Berikut Ragam Macam Tradisi di Indonesia dalam Menyambut Ramadan

Warisan Tradisi dari Wali Songo

Tradisi membuat dan membagikan apem dalam Megengan dipercaya sudah ada sejak zaman Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga.

Beliau memperkenalkan kue apem sebagai bagian dari dakwahnya untuk mengajarkan umat Islam tentang pentingnya meminta maaf dan membersihkan diri sebelum Ramadan.

Kue apem yang terbuat dari tepung beras, santan, dan gula ini juga mudah dibuat dan disukai banyak orang, sehingga menjadi bagian dari tradisi yang terus dilestarikan.

Simbol Pembersihan Diri Menjelang Ramadan

Selain sebagai simbol permohonan maaf, bentuk dan cara pembuatan apem juga memiliki filosofi tersendiri.

Proses fermentasi dalam pembuatan apem melambangkan proses perbaikan diri, sementara teksturnya yang lembut melambangkan hati yang bersih dan tulus setelah meminta maaf.

Tradisi ini mengajarkan bahwa sebelum memasuki bulan Ramadan, seseorang harus lebih dulu membersihkan hati dari dendam, iri, dan kesalahan di masa lalu.

Bagian dari Budaya Gotong Royong

Membuat kue apem dalam jumlah besar biasanya dilakukan secara gotong royong, terutama oleh ibu-ibu di kampung.

Mereka berkumpul, memasak, dan berbagi tugas, sehingga Megengan juga menjadi momen untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Selain itu, setelah kue apem matang, biasanya dibagikan kepada keluarga, tetangga, atau orang yang membutuhkan.

Tradisi ini menjadi pengingat pentingnya berbagi rezeki, terutama menjelang bulan penuh berkah.

Kue apem dalam tradisi Megengan bukan sekadar hidangan, tetapi memiliki makna mendalam sebagai simbol permohonan ampun, pembersihan diri, dan rasa syukur.

Tradisi ini juga merupakan warisan budaya dari Wali Songo yang terus dijaga oleh masyarakat Jawa hingga sekarang.

Lebih dari sekadar makanan, kue apem menjadi lambang kebersamaan, gotong royong, dan kesiapan menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh keikhlasan. (*)

Editor : Riana M.
#tradisi ramadan di bali #megengan #ramadan #makna #kue apem