Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

REOG PONOROGO MENDUNIA

Nur Wachid • Selasa, 10 Desember 2024 | 03:06 WIB
2024 FULL EVENT: Pemprov Jatim mengusulkan 10 event masuk menjadi KEN 2024, salah satunya Festival Nasional Reog Ponorogo. (AJI PUTRA/JAWA POS RADAR PONOROGO)
2024 FULL EVENT: Pemprov Jatim mengusulkan 10 event masuk menjadi KEN 2024, salah satunya Festival Nasional Reog Ponorogo. (AJI PUTRA/JAWA POS RADAR PONOROGO)

REOG PONOROGO MENDUNIA

Oleh: Hamy Wahjunianto

AKHIR Januari hingga awal Pebruari 2022 saat pandemi COVID 19 sedang puncak-puncaknya, Tim Asistensi Reog Ponorogo untuk menjadi Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO harus melakukan riset di Jabodetabek, Lampung, Solo, dan Ponorogo.

Riset di tengah-tengah bahaya pandemi COVID 19 tersebut harus dilakukan agar penyusunan dossier ICH UNESCO benar-benar sesuai dengan kaidah ilmiah dan sesuai dengan aturan penulisan dossier ICH UNESCO.

Saat melakukan riset di sebuah Sanggar Reog Ponorogo di daerah Pasar Rebo Jakarta, salah satu gadis cilik penari jathil mengungkapkan kesedihannya, “Lebih dari dua tahun ini tidak ada tanggapan atau order sama sekali. Kami selama pandemi ini hanya pentas tari jathil di tasyakuran ulang tahun sanggar ini akhir Desember yang lalu.”

Malam harinya di daerah Ciganjur saat berkunjung ke grup Reog Sardolo Aji Manggolo cerita serupa terulang lagi.

“Saya ini hanya salah satu yang membantu latihan jadi pembarong di grup Reog ini,” ujar pak Toha mantan pembarong yang terpaksa banting stir menjadi kurir karena sepinya tanggapan yang semakin diperparah kondisinya oleh pandemi COVID 19.

Cerita pilu terkait Reog Ponorogo kembali terulang ketika riset dilanjutkan ke Lampung. Saat berkunjung ke mbah Jumono, maestro Reog Ponorogo, mba Rimba putri ragil mbah Jumono bercerita, “Mbah Jumono meniko kelahiran tahun 1923. Berarti sakmeniko yuswonipun kirang langkung 99 tahun. Aslinipun saking Pulung, Ponorogo.”

Ketika mengetahui kami datang ke rumahnya adalah untuk melengkapi form-form isian dossier dan membuat video dokumenter dalam rangka melengkapi dokumen yang diperlukan pemerintah Indonesia untuk mengusulkan seni pertunjukan Reog Ponorogo sebagai Intangible Culture Herritage (ICH) UNESCO atau Warisan Budaya Takbenda, tetiba kelopak mata mbah Jumono berkaca-kaca karena terharu.

Hal itu pula yang dirasakan oleh anak-anak di Metro Lampung, Solo, bahkan di tempat lahirnya Reog, yakni Kabupaten Ponorogo.

Lebih dari dua tahun anak-anak hanya bisa berlatih tanpa ada kepastian kapan bisa pentas. Pandemi COVID 19 benar-benar membuat anak-anak di berbagai kota tidak bisa leluasa nguri-uri budaya adiluhung asli Ponorogo itu.

Baca Juga: Di Balik Kata Terserah, Patriarki dan Hambatan Ekspresi Perempuan, Belajar dari Okky Madasari

Melakukan riset dengan temuan-temuan yang menyayat hati sambil mempertaruhkan nyawa di tengah-tengah gempuran pandemi COVID 19 sungguh menjadi pengalaman yang tak akan terlupa.

Puncak dari riset itu adalah sidang verifikasi yang diikuti oleh para pelaku seni pertunjukan Reog Ponorogo di Gedung PGRI Ponorogo.

Dalam sidang verifikasi itu, lebih dari 250 peserta hadir untuk membahas dan menyetujui jawaban-jawaban berkas pertanyaan dossier dari sekretariat ICH UNESCO.

Jawaban-jawaban tersebut kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh penerjemah yang sudah bersertifikat.

Saat menghadiri pertunjukan livestreaming Reog Ponorogo di malam penetapan Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia, Kang Bupati mengatakan, “Dunia sudah mengakui Reog Ponorogo adalah Warisan Budaya Takbenda Dunia dari Ponorogo. Kesenian peninggalan leluhur ini ikut mewakili keanekaragaman budaya Indonesia yang berhasil memperkenalkan diri di kancah internasional. Pengakuan dari UNESCO semakin menumbuhkan rasa kebanggaan kita terhadap Reog Ponorogo.”

“Pengakuan UNESCO merupakan kekuatan pendorong pengembangan ekonomi yang mencakup keragaman kegiatan produktif. Ponorogo akan menjadi jujukan wisatawan untuk berlibur sambil menggali budaya dan nilai luhur. “Reog Ponorogo akan menjadi komandan ekonomi dan komandan karakter bangsa,” pungkasnya.


BIODATA SINGKAT: Penulis adalah anggota tim pengusul reog sebagai warisan budaya takbenda atau intangible cultural heritage (ICH) ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). 

Editor : Nur Wachid
#ICH Unesco #wbtb #Warisan Budaya Takbenda #reog ponorogo