Judul Buku : Secawan Madu Di Antara Kumbang Kumbang Berbisa
Penulis : Nur Imaniyah Purnama, Erdina Rahayu, dkk.
Penerbit : Terakata
Terbitan : Cetakan Pertama, Juli 2025
Halaman : xx + 232 halaman
QRCBN : 62-2005-5191-439
Oleh: Sapta Arif
Tidak ada satu pun pengarang yang murni menuliskan ceritanya bersumber dari 100% ide di kepala. Artinya apa? Ketika mengarang, ia akan melibatkan pengalaman, baik dalam sosial, pembacaan, hingga persepsinya.
Untuk itulah harga kreativitas perlu dipertimbangkan. Kurang lebih, begitulah yang dikatakan oleh Budi Darma dalam sebuah acara di Galeri Indonesia Kaya bertajuk “Menjadi Manusia dengan Sastra”. Di panggung itu,Budi Darma mendedah bagaimana sastra membentuk peradaban manusia dengan berbagai perspektif bersama Seno Gumira Ajidarma.
Anggapan ini menegaskan adanya hubungan antara latar belakang penulis dengan karya yang dihasilkan. Kita mengenalkarya sastra sebagai objek yang tidak bisa berdiri sendiri. Dalam balutan estetika bahasa, terdapat gagasan yang disuarakan pengarang.
Gagasan ini tidak luput dari pengalaman hidup pengarang, baik yang dialaminya, didaras dari cerita, dirasa melalui pengalaman orang lain, maupun cerita mitos yang kadang hanya diyakini berdasar anggapan “konon” atau “katanya”.
Hubungan (kedekatan antara unsur intrinsik dan ekstrinsik) ini bisa kita rasakan langsung tatkala membaca kumpulan cerita Secawan Madu di Antara Kumbang-Kumbang Berbisa. Buku ini merupakan luaran program Pengabdian kepada Masyarakat tim Senat Akademik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan tajuk “Pelatihan Penulisan Sastra Kreatif berbasis Budaya Lokal untuk Meningkatkan Kompetensi Publikasi Karya Sastra bagi Anggota Komunitas Sutejo Spectrum Center (SSC) Ponorogo”.
Cerpen Celurit Matrahkarya Nur Imaniyah Purnama (Iim), misalnya. Secara garis besar, cerpen ini berkisah tentang polemik komunikasi dalam rumah tangga. Terutama antar keluarga besan—keluarga si suami dan keluarga si istri.
Namun, yang membuat cerpen ini istimewa adalah balutan budaya Madura yang kental. Dimulai dari istilah“keh” untuk menyebut panggilan pertemanan, rumah pacenan—yang jika kita cari di Google—artinya jenis rumah berasitektur Madura dan Tionghoa, hingga sengketa yang berujung penyelesaian dengan celurit.
Budaya Madura dalam cerpen ini tentu bukan tempelan semata. Melainkan merasuk ke dalam napas dan jiwa cerita. Hal ini terbukti dari penggambaran karakter yang begitu tinggi menjunjung harkat keluarga: apabila direndahkan, nyawa taruhannya.
Tidak heran, jika kita menilik penulis cerpen Celurit Matrah adalah mahasiswi asal Madura. Membaca cerpen ini mengingatkan kita pada karakter-karakter penulis Madura yang begitu kental mengangkat pergulatan tokoh pada budaya dan adat.
Kita tentu mengenal Muna Masyari, Royyan Julian, dan masih banyak lagi penulis Madura yang sudah berbicara banyak dalam khazanah sastra Indonesia. Karakter yang kuat dibalut konflik berlatar budaya yang kental menjadi alasan cerpen ini bertengger menjadi pembuka buku kumpulan cerpen ini.
Lain halnya dengan cerpen Secawan Madu Di Antara Kumbang-Kumbang Berbisa karya Endri Erdina Ra (Erdi). Alih-alih mengangkat topik besar dengan berbagai kompleksitas, Erdi mengemas pergolakan politik pemilihan bupati dengan kemasan konflik sehari-hari.
Janji politik, peluang pekerjaan pada masa kampanye, hingga konflik antar tokoh yang terlibat sebagai pendukung calon bupati dikemas dengan nuansa yang dekat dengan masyarakat. Pemilihan setting warung kopi dan budaya ngopi-nya menjadi kekuatan utama, bahwa hal berat seringkali selesai dibicarakan di warung kopi.
Kesederhanaan yang dekat ini tidak mengurangi esensi cerita, justru malah mempertajam kritik sosial yang sering luput di tengah masyarakat kita. Pergolakan tokoh utama—bernama Arum—dalam cerpen Erdi, merupakan cermin keadaan muda-mudi era sekarang.
Mereka mencoba berpegang pada prinsip, tetapi dorongan ekonomi memaksa mereka melanggar batas nilai atas diri mereka sendiri. Balutan dialog dan gestur tokoh dalam tiap peristiwa, disadari atau tidak, menggambarkan sosok Erdi yang lebih akrab dengan naskah drama. Sebab itulah, ketika membaca cerpen ini, kita akan disuguhkan cerita dengan lanskap yang dekat dengan sosial masyarakat. Kedekatan ini merupakan kekuatan cerpen Erdi.
Lain lagi kisah Kayana—cerpen Perempuan yang Tak Pernah Pulang karya Avita, seorang perempuan usia 20 tahun yang terjebak dalam konflik batin. Manusia kerapkali mengalami pergolakan batin di jelang usia dewasa.
Mereka kerap terjebak dalam keterasingan diri. Tidak bisa membedakan mana kebutuhan, mana keinginan. Alih-alih menjelma rumah—seperti penggambaran oleh pengarang, tokoh Kayana lebih mirip tempat sampah yang menampung segala keluh kesah.Konflik dalam diri Kayana merupakan cermin jiwa rapuh yang kerap melingkupi generasi muda hari ini.
Mereka seolah gagal mengenali kebutuhan diri, lalu terjebak oleh kepentingan orang lain yang justru menyulitkan—dan bikin rumit. Avita, dengan gaya bercerita yang lembut, berhasil mengurai konflik batin Kayana sebagai cermin berkaca untuk sesiapa yang terjebak seperti Kayana.
Kekuatan dari tiga cerpen di atas ada pada pengolahan konflik yang dekat dengan pembaca. Pengarang seolah ingin menunjukkan bahwa konflik semacam ini sebenarnya ada, tetapi kerap luput disadari. Model cerpen seperti itulah yang sebenarnya mendekatkan sastra dengan pembaca.
Sekaligus menegaskan bahwa dasar ide, gagasan, dan olah konflik cerita bermula dari realitas sosial. Bisa dalam bentuk pengalaman diri atau pengalaman lain yang ditangkap dengan kepekaan yang sensitif.
Agaknya, sebagian besar cerpen di buku ini berupaya melakukan hal demikian.
Kepekaan inderawi pengarang—selain insting sebagai pencerita dalam menangkap ide—menjadi senjata utama.
Maka, selain balutan konflik budaya, politik, dan batin, pengarang dalam buku ini ada juga yang mengeksplorasi cerita mitos dan legenda. Fitri Amelia menggali asal-usul ruwatan seruling Gajah Mungkurmenjadi cerita beraliran realisme magis—cerpen Nada Seruling Gajah Mungkur.
Senapas dengan cerita Fitri Amelia, Rangga menulis cerpen Asap Kemenyan dan Tipu Muslihat dan Anik Novitasari menulis Ruang Kelas.
Kiranya, selain tema-tema yang sudah dibahas, penulis dalam buku ini tidak lupa menyisipkan nuansa perjuangan yang memotivasi.
Selain nilai yang bisa diambil dari berbagai konflik, kisah perjuangan yang membuahkan hasil—yang diceritakan secara lugas—kerapkali menjadi daya tarik. Sekaligus memiliki daya hantar yang besar pada pembaca untuk memahami nilai-nilai yang bermakna dalam hidup.
Tiga puluh lima cerpen dalam buku ini telah merepresentasikan bahwa pengalaman merupakan modal utama dalam menulis cerita. Tetapi, pengalaman saja tidak cukup. Maka dibutuhkan latihan. Bukankah, keterampilan merupakan hasil dari latihan yang tekun?
Kita patut bersyukur. Setidaknya, dari sekian banyak pemuda Indonesia sekarang, ke-35 pemuda—yang namanya tercantum dalam buku ini—tengah berupaya memoles wajah Indonesia di masa depan.
Jika kabar muram literasi hari ini kerap jadi topik utama dalam latar belakang menulis, semoga setelah karya ini terbit, besok, dan seterusnya, kita akan mendengar rentetan kabar baik.
Dimulai dari hal sederhana, membaca dan mengapresiasi cerpen-cerpen dalam buku ini, misalnya. Oleh sebab itulah, sepatutnya kita optimis bahwa masa depan literasi kita (kelak) akan menyala!
Ponorogo, Juli 2025
BIODATA SINGKAT: Sapta Arif. Lahir di Banyumas, kini berkarya di komunitas Sutejo Spektrum Center (SSC) Ponorogo. Tergabung dalam Komite Sastra Dewan Kesenian Ponorogo.
Editor : Nur Wachid
Sumber : Radar Lawu