Jawa Pos Radar Lawu - Momen Lailatul Qadar menjadi kesempatan istimewa bagi umat Islam untuk meraih pahala berlipat ganda di penghujung Ramadan.
Malam yang lebih mulia dari seribu bulan ini diibaratkan sebagai “midnight sale” oleh Abdul Mu’ti, karena menghadirkan peluang besar yang sayang jika dilewatkan.
Dalam ceramahnya pada malam ke-28 Ramadan 1447 Hijriah di Masjid At-Tanwir, Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa konsep Lailatul Qadar dapat dianalogikan dengan strategi pemasaran berupa diskon dan bonus.
“Dalam teori marketing, diskon dan bonus hanya bermakna bagi mereka yang membeli produknya.
Begitu juga dengan Lailatul Qadar; semurah atau semulia apa pun bonus pahala yang ditawarkan, hanya akan didapatkan oleh mereka yang benar-benar ‘berbelanja’ dengan melakukan ibadah dan iktikaf,” ujarnya.
Lailatul Qadar, Momen “Diskon Pahala” di Akhir Ramadan
Menurutnya, Allah SWT memberikan “bonus” dan “diskon” pahala di akhir Ramadan sebagai bentuk motivasi agar umat Islam tidak menyia-nyiakan waktu yang tersisa.
Oleh karena itu, umat dianjurkan untuk menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan dengan ibadah secara optimal, seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, dan iktikaf.
Lailatul Qadar sendiri merupakan malam ketika Al-Qur’an pertama kali diturunkan ke Baitul Izzah di langit dunia, menjadikannya malam yang penuh keberkahan dan kemuliaan.
Baca Juga: 10 Amalan Terbaik di 10 Hari Terakhir Ramadan, Kesempatan Meraih Lailatul Qadar dan Pengampunan Dosa
Makna Lailatul Qadar Menurut Quraish Shihab
Dalam penjelasannya, Abdul Mu’ti juga merujuk pada pandangan Quraish Shihab terkait makna kata “Qadar”.
Ia menyebutkan, terdapat tiga arti utama dari Lailatul Qadar. Pertama, “mulia”, yang menunjukkan bahwa malam tersebut memiliki keutamaan luar biasa. Kedua, “takaran” atau ukuran, yakni saat Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia.
Ketiga, “sempit”, yang merujuk pada terbatasnya waktu malam tersebut hingga fajar, serta banyaknya malaikat yang turun ke bumi.
“Sempit karena waktunya terbatas dan karena banyaknya malaikat yang turun sehingga seolah-olah berdesak-desakan,” jelasnya.
Kunci Kemuliaan Hidup: Mengamalkan Al-Qur’an
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kemuliaan hidup seseorang sangat bergantung pada sejauh mana ia mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, implementasi nilai-nilai syariat secara konsisten menjadi kunci utama untuk meraih kehidupan yang mulia, baik di dunia maupun di akhirat.
“Jika kita mengamalkan syariat Allah dengan sungguh-sungguh, maka kita akan mendapatkan kemuliaan dalam kehidupan,” tegasnya.
Pentingnya Persatuan Menjelang Idulfitri
Di akhir ceramah, ia juga menyinggung pentingnya menjaga persatuan umat Islam dalam menyambut Hari Raya Idulfitri.
Perbedaan pandangan yang kerap muncul di tengah masyarakat diharapkan dapat disikapi secara bijaksana sebagai bagian dari rahmat.
Ceramah yang berlangsung sekitar 26 menit tersebut diikuti dengan khidmat oleh jamaah.
Suasana semakin hidup dengan selingan humor khas Abdul Mu’ti yang menghibur sekaligus memperdalam pemahaman keagamaan para hadirin.(*)
*Nizaria, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani