Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Hadits “Ramadhan Dibagi Tiga Bagian” Ternyata Lemah, Ini Penjelasan Ulama dan Dalil yang Shahih

Mizan Ahsani • Jumat, 6 Maret 2026 | 14:42 WIB

Photo
Photo

Jawa Pos Radar Lawu - Di tengah masyarakat muslim, sering beredar sebuah hadits yang menyebutkan bahwa bulan Ramadhan terbagi menjadi tiga bagian.

Disebutkan bahwa sepuluh hari pertama adalah rahmat, sepuluh hari kedua pengampunan, dan sepuluh hari terakhir pengampunan dari api neraka.

Namun para ulama ahli hadits menjelaskan bahwa riwayat tersebut berstatus lemah (dhaif) bahkan disebut munkar , sehingga tidak dapat dijadikan landasan keyakinan dalam memahami keutamaan bulan Ramadhan.

Derajat Hadits “Ramadhan Dibagi Tiga”

Hadits tentang Pembagian Ramadhan menjadi tiga bagian yang diriwayatkan antara lain oleh Al Mahamili dalam Amaliyyah , Ibnu 'Adi dalam Al Kamil Fid Dhu'afa , dan juga oleh Ibnu Khuzaimah.

Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Rasulullah SAW berkhutbah menjelang atau di awal bulan Ramadhan dan menyampaikan berbagai keutamaan bulan tersebut, termasuk pernyataan bahwa Ramadhan:

Namun para ulama menilai sanad hadis ini bermasalah . Salah satu perawinya adalah Ali bin Zaid bin Jud'an yang dinilai lemah oleh banyak ulama hadits.

Beberapa penilaian ulama terhadap perawi tersebut antara lain:

Karena kelemahan tersebut, sejumlah ulama hadits menyimpulkan bahwa riwayat ini tidak dapat dijadikan hujjah .

Hadits ini bahkan didhaifkan oleh banyak pakar hadits, di antaranya:

Sebagian ulama seperti Abu Hatim Ar-Razi dan Al Albani bahkan menilai riwayat ini munkar , karena bertentangan dengan hadits-hadits shahih lainnya.

Baca Juga: Hikmah Puasa Ramadhan yang Sering Dilupakan: Membentuk Takwa, Empati, dan Pahala Berlipat

Ramadhan Seluruhnya Rahmat dan Ampunan

Penjelasan para ulama menyebutkan bahwa rahmat, ampunan, dan pengampunan dari api neraka tidak terbatas pada sepanjang Ramadhan saja , tetapi tersedia sepanjang bulan tersebut.

Hal ini ditegaskan dalam beberapa hadits shahih.

Salah satunya adalah hadits dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa rahmat Allah tidak dibatasi hanya pada pertengahan Ramadhan , tetapi berlaku bagi siapa saja yang menjalankan puasa dengan iman dan mengharap pahala.

Pembebasan dari Neraka Terjadi Setiap Malam

Hadits lain yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi menjelaskan bahwa pembebasan dari api neraka terjadi setiap malam di bulan Ramadhan , bukan hanya pada sepuluh hari terakhir.

Rasulullah SAW bersabda bahwa ketika malam pertama Ramadhan tiba:

Kemudian ada seruan:

“Wahai pencari kebaikan, datanglah. Wahai pencari keburukan, berhentilah.”

Dalam hadits tersebut juga dijelaskan bahwa Allah menganugerahkan hamba-hamba-Nya dari api neraka setiap malam selama Ramadhan.

Riwayat lain dari Jabir bin Abdullah juga menyebutkan bahwa setiap hari dan malam di bulan Ramadhan terdapat hamba yang dibebaskan dari api neraka serta doa yang dikabulkan.

Baca Juga: Menjaga Waktu di Bulan Ramadhan: Dalil Al-Qur'an, Hadis, dan Refleksi Ulama tentang Makna Umur

Pentingnya menafsirkan Keaslian Hadits

Para ulama penting memastikan keaslian hadits sebelum menyandarkannya kepada Nabi Muhammad SAW .

Hal ini karena dalam Islam, setiap amalan harus memiliki dasar yang kuat dari Al-Qur'an dan hadits yang shahih.

Abdullah bin Mubarak pernah berkata:

“Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka orang akan berkata semaunya.”

Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk lebih berhati-hati dalam menyebarkan hadits-hadits yang beredar, terutama yang berkaitan dengan keutamaan ibadah di bulan Ramadhan.

Baca Juga: Malam Nuzulul Qur'an 2026 Jatuh Tanggal Berapa? Ini Jadwal, Keutamaan, dan Amalan yang penyiaran

Kesimpulan

Hadits yang menyebutkan bahwa Ramadhan terbagi menjadi tiga bagian—rahmat, pengampunan, dan pengampunan dari neraka  dinilai lemah bahkan munkar oleh para ulama hadits .

Yang benar menurut dalil-dalil shahih adalah bahwa sepanjang bulan Ramadhan dipenuhi rahmat, ampunan, dan kesempatan pelepasan dari api neraka.

Oleh karena itu, umat Islam menganjurkan untuk memaksimalkan ibadah sepanjang bulan Ramadhan, bukan hanya pada bagian tertentu saja. (*)

*Nizaria, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Mizan Ahsani
#Dhaif #ramadhan #umat muslim #Munkar #Al-Qur'an #hadits