Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Puasa di Era Notifikasi: Tantangan Lapar Fisik dan Lapar Digital di Bulan Ramadhan

Mizan Ahsani • Sabtu, 28 Februari 2026 | 17:01 WIB

Photo
Photo

Jawa Pos Radar Lawu - Puasa di generasi sekarang menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan masa lalu.

Jika dahulu ujian terberat adalah menahan haus di bawah terik matahari atau aroma makanan di pinggir jalan, kini godaan justru hadir dalam genggaman tangan: layar smartphone yang menyala hampir sepanjang hari.

Di tengah derasnya notifikasi, konten video pendek, hingga memuat media sosial, esensi puasa berpotensi menarik tanpa disadari.

Bukan hanya orang dewasa, hampir semua kalangan usia merasakan ujian serupa. Tantangan ini bisa muncul kapan saja dan di mana saja.

Lapar Mata di Tengah Konten Kuliner

Ujian paling nyata selama puasa adalah banjir konten kuliner di media sosial. Saat sedang berjuang menahan lapar, beranda justru dipenuhi video memasak, tutorial minuman segar, hingga mukbang yang menggiurkan.

Tanpa disadari, imajinasi tentang makanan dapat memperkuat rasa lapar. Menghentikan pengendalian pandangan dan pikiran menjadi bagian penting dari ibadah puasa.

Menjaga mata sama pentingnya dengan menjaga perut.

Baca Juga: Sengaja Tidak Puasa Ramadhan Tanpa Alasan? Ini Hukumnya dalam Islam, Dosa Besar yang Tak Bisa Dianggap Sepele!

Scroll Tanpa Henti, Waktu Ibadah Tergerus

Fenomena lain yang sering terjadi adalah “pencurian waktu” akibat scrolling berlebihan.

Awalnya hanya ingin memeriksa jadwal salat atau pesan singkat, namun berakhir dengan berjam-jam menonton video pendek.

Padahal, waktu setelah Subuh dan menjelang berbuka termasuk momen mustajab untuk berdoa dan memperbanyak dzikir.

Jika waktu tersebut habis untuk hiburan digital, kesempatan emas meningkatkan kualitas ibadah bisa terlewat begitu saja.

Fenomena ini semakin kuat dipicu oleh FOMO (Fear of Missing Out), rasa takut ketinggalan informasi.

Kita merasa harus selalu terhubung agar tidak ketinggalan tren, padahal Ramadhan justru mengajarkan jeda dan perenungan.

Permainan Emosi Saat dan “Puasa Jari” di Media Sosial

Menjelang berbuka, sebagian orang memilih bermain game online untuk mengisi waktu.

Namun tidak jarang, kekalahan justru memicu emosi dan dampak yang tidak pantas.

Lebih dari itu, tantangan terbesar di era digital adalah menjaga “puasa jari”. Kolom komentar sering menjadi ruang ghibah, hujatan, atau penyebaran informasi tanpa verifikasi.

Padahal Rasulullah SAW mengingatkan:

“Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala melainkan hanya rasa lapar.”

Pesan ini menegaskan bahwa puasa bukan sekedar menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga lisan, pikiran, dan perilaku—termasuk di dunia digital.

Baca Juga: Menahan Rasa, Menata Raga dalam Harmoni Puasa

Hakikat Puasa: Menggapai Takwa

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 183 bahwa tujuan puasa adalah agar manusia bertakwa.

Takwa berarti kesadaran penuh dalam mengendalikan diri.

Di era digital, pengendalian diri berarti:

Puasa seharusnya menjadi sekolah pengendalian diri, baik secara fisik maupun digital.

Strategi Mengurangi Distraksi Digital Selama Ramadhan

Mengatasi kendala layar bukan berarti membuang ponsel sepenuhnya. Kuncinya adalah pengelolaan yang bijak.

Beberapa langkah yang bisa diterapkan:

1. Batasi Notifikasi

Matikan notifikasi yang tidak penting agar tidak terus terdistraksi.

2. Geser Konten yang Menggoda

Jika konten mukbang muncul, segera lewati. Jangan memberi ruang pada imajinasi berlebihan.

3. Hentikan Game Saat Emosi

Jika mulai menahan emosi, tutup aplikasi dan alihkan perhatian pada aktivitas lain.

4. Gunakan Smartphone untuk Ibadah

Manfaatkan teknologi untuk:

Teknologi bukan musuh. Ia hanyalah alat. Pilihan ada pada penggunanya.

Baca Juga: Tips Sehat Puasa Ramadhan 2026: Pola Makan Seimbang, Aman, dan Tetap Bugar Selama Sebulan Penuh

Refleksi: Jangan Hanya Lapar dan Haus

Ramadhan adalah momentum evaluasi diri. Kita mungkin berhasil menahan lapar dan haus, tapi sudahkah kita menahan mata, telinga, dan jari?

Jangan sampai siang hari kita bertahan menahan dahaga, namun malam hari kalah oleh scroll tanpa makna.

Jangan sampai Ramadhan berlalu dengan perut yang kosong, tapi hati tetap hampa.

Karena tujuan puasa bukan sekedar menunggu azan magrib, melainkan meraih derajat takwa.

Dan takwa tidak lahir dari notifikasi tanpa henti, melainkan dari hati yang terjaga di tengah derasnya arus digital. (*)

*Nizaria, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Mizan Ahsani
#ramadhan #puasa #medsos #era digital