Jawa Pos Radar Lawu - Puasa di generasi sekarang menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan masa lalu.
Jika dahulu ujian terberat adalah menahan haus di bawah terik matahari atau aroma makanan di pinggir jalan, kini godaan justru hadir dalam genggaman tangan: layar smartphone yang menyala hampir sepanjang hari.
Di tengah derasnya notifikasi, konten video pendek, hingga memuat media sosial, esensi puasa berpotensi menarik tanpa disadari.
Bukan hanya orang dewasa, hampir semua kalangan usia merasakan ujian serupa. Tantangan ini bisa muncul kapan saja dan di mana saja.
Lapar Mata di Tengah Konten Kuliner
Ujian paling nyata selama puasa adalah banjir konten kuliner di media sosial. Saat sedang berjuang menahan lapar, beranda justru dipenuhi video memasak, tutorial minuman segar, hingga mukbang yang menggiurkan.
Tanpa disadari, imajinasi tentang makanan dapat memperkuat rasa lapar. Menghentikan pengendalian pandangan dan pikiran menjadi bagian penting dari ibadah puasa.
Menjaga mata sama pentingnya dengan menjaga perut.
Scroll Tanpa Henti, Waktu Ibadah Tergerus
Fenomena lain yang sering terjadi adalah “pencurian waktu” akibat scrolling berlebihan.
Awalnya hanya ingin memeriksa jadwal salat atau pesan singkat, namun berakhir dengan berjam-jam menonton video pendek.
Padahal, waktu setelah Subuh dan menjelang berbuka termasuk momen mustajab untuk berdoa dan memperbanyak dzikir.
Jika waktu tersebut habis untuk hiburan digital, kesempatan emas meningkatkan kualitas ibadah bisa terlewat begitu saja.
Fenomena ini semakin kuat dipicu oleh FOMO (Fear of Missing Out), rasa takut ketinggalan informasi.
Kita merasa harus selalu terhubung agar tidak ketinggalan tren, padahal Ramadhan justru mengajarkan jeda dan perenungan.
Permainan Emosi Saat dan “Puasa Jari” di Media Sosial
Menjelang berbuka, sebagian orang memilih bermain game online untuk mengisi waktu.
Namun tidak jarang, kekalahan justru memicu emosi dan dampak yang tidak pantas.
Lebih dari itu, tantangan terbesar di era digital adalah menjaga “puasa jari”. Kolom komentar sering menjadi ruang ghibah, hujatan, atau penyebaran informasi tanpa verifikasi.
Padahal Rasulullah SAW mengingatkan:
“Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala melainkan hanya rasa lapar.”
Pesan ini menegaskan bahwa puasa bukan sekedar menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga lisan, pikiran, dan perilaku—termasuk di dunia digital.
Baca Juga: Menahan Rasa, Menata Raga dalam Harmoni Puasa
Hakikat Puasa: Menggapai Takwa
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 183 bahwa tujuan puasa adalah agar manusia bertakwa.
Takwa berarti kesadaran penuh dalam mengendalikan diri.
Di era digital, pengendalian diri berarti:
-
Tidak terpancing komentar provokatif
-
Tidak menyebarkan hoaks
-
Tidak mengonsumsi konten yang merusak hati
-
Tidak membuang waktu secara sia-sia
Puasa seharusnya menjadi sekolah pengendalian diri, baik secara fisik maupun digital.
Strategi Mengurangi Distraksi Digital Selama Ramadhan
Mengatasi kendala layar bukan berarti membuang ponsel sepenuhnya. Kuncinya adalah pengelolaan yang bijak.
Beberapa langkah yang bisa diterapkan:
1. Batasi Notifikasi
Matikan notifikasi yang tidak penting agar tidak terus terdistraksi.
2. Geser Konten yang Menggoda
Jika konten mukbang muncul, segera lewati. Jangan memberi ruang pada imajinasi berlebihan.
3. Hentikan Game Saat Emosi
Jika mulai menahan emosi, tutup aplikasi dan alihkan perhatian pada aktivitas lain.
4. Gunakan Smartphone untuk Ibadah
Manfaatkan teknologi untuk:
-
Mendengarkan murotal
-
Mengikuti kajian online
-
Membaca Al-Qur'an secara digital
-
Mengatur pengingat waktu salat
Teknologi bukan musuh. Ia hanyalah alat. Pilihan ada pada penggunanya.
Baca Juga: Tips Sehat Puasa Ramadhan 2026: Pola Makan Seimbang, Aman, dan Tetap Bugar Selama Sebulan Penuh
Refleksi: Jangan Hanya Lapar dan Haus
Ramadhan adalah momentum evaluasi diri. Kita mungkin berhasil menahan lapar dan haus, tapi sudahkah kita menahan mata, telinga, dan jari?
Jangan sampai siang hari kita bertahan menahan dahaga, namun malam hari kalah oleh scroll tanpa makna.
Jangan sampai Ramadhan berlalu dengan perut yang kosong, tapi hati tetap hampa.
Karena tujuan puasa bukan sekedar menunggu azan magrib, melainkan meraih derajat takwa.
Dan takwa tidak lahir dari notifikasi tanpa henti, melainkan dari hati yang terjaga di tengah derasnya arus digital. (*)
*Nizaria, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani