Jawa Pos Radar Lawu – Ramadan merupakan bulan yang paling dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia.
Bulan kesembilan dalam kalender Hijriah ini tidak hanya menjadi waktu untuk berpuasa, tetapi juga momentum memperkuat keimanan, memperbanyak ibadah, serta melakukan introspeksi diri.
Setiap tahun, awal Ramadan ditandai dengan penampakan bulan sabit baru atau hilal.
Karena menggunakan kalender lunar, waktu dimulainya Ramadan selalu berubah.
Jika hilal sulit terlihat akibat cuaca, perhitungan astronomi digunakan sebagai acuan penetapan awal puasa.
Baca Juga: Puasa Pertama Ramadhan, Jangan Lewatkan Amalan Keberkahan dan Pahala Berikut Ini
Awal Penetapan Ramadan dalam Kalender Islam
Ramadan dimulai sehari setelah munculnya bulan sabit baru. Dalam praktiknya, penentuan ini dilakukan melalui rukyatul hilal dan hisab.
Tradisi tersebut telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi bagian penting dalam peradaban Islam.
Pada 2025, Ramadan diperkirakan dimulai antara akhir Februari hingga awal Maret, tergantung hasil pengamatan bulan.
Perbedaan penetapan sering terjadi, namun tetap disikapi dengan sikap saling menghormati.
Sejarah dan Asal Usul Bulan Ramadan
Secara etimologis, kata Ramadan berasal dari bahasa Arab ar-ramad yang berarti panas terik.
Nama ini merujuk pada kondisi cuaca saat bulan tersebut pertama kali ditetapkan dalam kalender Arab kuno.
Dalam sejarah Islam, Ramadan memiliki makna istimewa karena pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril.
Peristiwa tersebut dikenal sebagai Laylatul Qadar atau Malam Kemuliaan, yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Oleh karena itu, umat Muslim menjalankan ibadah puasa sebagai bentuk penghormatan dan penghayatan terhadap turunnya wahyu Ilahi.
Baca Juga: Sejarah Puasa Ramadan, Bulan Suci yang Selalu Dinantikan Umat Muslim di Penjuru Dunia
Makna Puasa dalam Kehidupan Umat Islam
Puasa di bulan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih pengendalian diri, kesabaran, serta akhlak mulia.
Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW mengingatkan agar orang yang berpuasa menjaga ucapan dan perilakunya.
Puasa menjadi sarana penyucian jiwa sekaligus pembentukan karakter yang lebih baik, baik secara spiritual maupun sosial.
Tradisi Ibadah dan Aktivitas Selama Ramadan
Selama Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak:
-
Membaca dan mengkaji Al-Qur’an
-
Melaksanakan salat wajib dan sunnah
-
Berdoa dan berdzikir
-
Menjaga hubungan sosial
Puasa dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, kecuali bagi orang yang sakit, hamil, bepergian, lanjut usia, atau memiliki uzur tertentu.
Waktu sahur biasanya dilakukan menjelang Subuh, sedangkan berbuka puasa atau iftar dilakukan setelah Magrib.
Kurma dan air putih menjadi menu utama berbuka, mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Baca Juga: Rahasia dan Dahsyatnya Pahala Sedekah Subuh di Bulan Ramadhan, Waktu Terbaik Meraih Keberkahan
Idul Fitri sebagai Penutup Ramadan
Setelah satu bulan penuh menjalani puasa, umat Islam merayakan Idul Fitri sebagai tanda kemenangan spiritual.
Perayaan diawali dengan salat Id berjamaah, dilanjutkan dengan silaturahmi, saling memaafkan, dan berbagi kebahagiaan.
Idul Fitri menjadi simbol kembalinya manusia pada fitrah setelah menjalani proses pembinaan diri selama Ramadan.
Lima Rukun Islam sebagai Fondasi Ibadah
Ramadan juga berkaitan erat dengan salah satu rukun Islam, yaitu puasa (sawm). Secara keseluruhan, lima rukun Islam meliputi:
-
Syahadat
-
Salat
-
Zakat
-
Puasa Ramadan
-
Haji bagi yang mampu
Kelima rukun ini menjadi pedoman utama dalam kehidupan umat Muslim.
Kegiatan Tarhib Ramadhan di KPPN Klaten
Dalam rangka menyambut bulan suci, KPPN Klaten menggelar kegiatan Bimbingan Mental (Bintal) bertema “Tarhib Ramadhan” pada Jumat, 28 Februari 2025.
Kegiatan ini menghadirkan Ustadz K.H. Maryanto, clq sebagai penceramah.
Acara diawali dengan pembukaan oleh Ustadz Nanang Usman Salim, pembacaan tilawah Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 1–10, serta sambutan dari Kasubbag Umum KPPN Klaten, Triwahyono.
Baca Juga: Kenali 5 Rukun Islam: Landasan Keimanan dan Kewajiban yang Menyempurnakan Kehidupan Seorang Muslim
Makna Keberkahan dalam Menyambut Ramadan
Dalam ceramahnya, K.H. Maryanto mengajak jamaah membaca doa:
“Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadhan”
Doa ini menjadi harapan agar umat Islam dapat menjalani Ramadan dengan penuh keberkahan.
Keberkahan dimaknai sebagai pertumbuhan kebaikan melalui ketaatan kepada Allah SWT, bukan sekadar keberhasilan duniawi.
Ramadan sebagai Bulan Pendidikan
Ramadan dipandang sebagai bulan pendidikan yang mencakup tiga aspek utama:
1. Pendidikan untuk Diri Sendiri
Puasa melatih pengendalian hawa nafsu, kesabaran, dan keikhlasan. Ramadan juga menjadi sarana penyucian jiwa untuk meningkatkan kualitas spiritual.
2. Pendidikan untuk Masyarakat
Ramadan menumbuhkan kebersamaan, kepedulian sosial, dan sikap saling menghormati dalam keberagaman.
3. Pendidikan untuk Anak-Anak
Momentum Ramadan dimanfaatkan untuk mendekatkan anak pada masjid dan pendidikan agama, sebagai bekal kehidupan mereka di masa depan.
Tiga Amalan Utama di Bulan Ramadan
Penceramah juga menekankan tiga amalan yang perlu dimaksimalkan:
-
Tilawatil Qur’an
-
Memperbaiki kualitas salat
-
Memperbanyak sedekah
Ketiga amalan ini menjadi fondasi utama dalam membangun pribadi Muslim yang lebih baik.
Baca Juga: Amalan Menyambut Bulan Ramadan, Ustadzah Halimah Alaydrus: Baca Surat...
Penutup: Ramadan sebagai Momentum Transformasi Diri
Ceramah Tarhib Ramadhan di KPPN Klaten ditutup dengan pembacaan Surah Al-Fatihah dan doa bersama.
Harapannya, Ramadan dapat menjadi momen pendidikan, pembinaan, dan peningkatan kualitas iman.
Ramadan bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi sarana transformasi diri menuju pribadi yang lebih bertakwa, peduli, dan berakhlak mulia.
Dengan memaknai Ramadan secara utuh, umat Islam diharapkan mampu keluar dari bulan suci ini dengan derajat yang lebih tinggi di sisi Allah SWT. (*)
*Nizaria Kusumastuti, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani