Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Busro Anabik, Santri Al-Anwar Rembang Juara Nasional MQK, Wujudkan Impian Mbah Maimoen Zubair

AA Arsyadani • Rabu, 22 Oktober 2025 | 15:35 WIB

 

Dari desa terpencil, Busro Anabik mengharumkan pesantren Al-Anwar di ajang Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK) Nasional 2025.
Dari desa terpencil, Busro Anabik mengharumkan pesantren Al-Anwar di ajang Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK) Nasional 2025.

Jawa Pos Radar Lawu - Awalnya, Busro hanya menjalankan amanah ketika diminta mewakili pesantren dalam Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK) tingkat kabupaten.

Dengan sikap sami’na wa atha’na (taat pada guru) ia mengikuti pembinaan dengan penuh kesungguhan.

Hasilnya, ia lolos hingga tingkat provinsi dan kemudian terpilih menjadi wakil Jawa Tengah di kompetisi nasional.

Dalam ajang itu, Busro turut mengantarkan kontingen Jawa Tengah meraih Juara Umum MQK Nasional ke-8 di bawah pimpinan Kakanwil Kemenag Jateng.

Ponpes Al-Anwar sendiri menyumbang 4 emas, 3 perak, 1 perunggu, dan 1 juara harapan I.

Tidak Ujub, Selalu Rendah Hati

Busro berasal dari Desa Bendo, Kecamatan Sluke, Rembang, desa kecil di atas bukit yang jauh dari keramaian.

Keterbatasan tak membuatnya surut. Justru dari kesederhanaan itu, lahir semangat besar menuntut ilmu di Pondok yang dirintis KH Maimoen Zubair.

Kemenangan tak membuatnya tinggi hati.

“Kalau ditanya senang, tentu saya senang. Tapi tidak boleh ujub (sombong), sebagaimana dawuh para masyayikh,” ujar Busro dalam Pondcast Kemenag Rembang.

Semangat Busro menekuni hadis tumbuh dari rasa hormatnya pada para guru yang bersanad ilmu hingga ke ulama besar di Makkah.

“Guru-guru saya seperti KH Najih Maimun dan KH Ubab Maimun adalah murid Sayyid Muhammad, ulama di Makkah. Itu yang membuat saya semangat mendalami hadis,” ujarnya.

Wujudkan Cita-Cita Mulia Mbah Maimoen Zubair

Menurut KH Dawam Affandi, keberhasilan Busro dan para santri Al-Anwar adalah buah dari cita-cita besar Mbah Maimoen Zubair.

“Sebelum wafat, beliau memimpikan Ponpes Al-Anwar bisa berkontribusi besar untuk Rembang dan Jawa Tengah dalam MQK. Kini, alhamdulillah impian itu terwujud,” ungkap KH Dawam dengan haru.

Para guru pun menyiapkan santri dengan pembinaan intensif, di mana satu santri dibimbing satu guru.

KH Dawam juga terus menanamkan keberanian dan kepercayaan diri kepada para peserta.

Ia mencontohkan, “Seperti Mbak Tutik, juara I Nahwu Ulya. Dulu pemalu, tapi setelah diberi semangat, tampil berani dengan penuh ekspresi hingga menang.”

KH Dawam menegaskan, MQK bukan sekadar lomba, tetapi ajang pembentukan karakter.

“Event ini mendidik mental santri. Mereka jadi rajin belajar, disiplin, dan percaya diri,” ujarnya.

Generasi Santri Unggul

Bagi Busro, santri yang memahami turats atau kitab kuning adalah sosok yang sukses sejati.

Ia berharap generasi muda mau mempelajari ilmu agama agar warisan ulama salaf terus hidup.

“Banyak orang pandai dalam ilmu umum, tapi tidak banyak yang pandai dalam ilmu agama. Alangkah beruntungnya menjadi golongan yang sedikit tapi unggul,” pesannya.

Ketekunan Busro membuktikan bahwa ilmu, adab, dan keberkahan guru bisa mengantarkan siapa pun menuju puncak prestasi. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#Mbah Maimoen Zubair #MQK Nasional 2025 #santri berprestasi