Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Ketika Imam Al-Ghazali Berguru kepada Seorang Penjahit Sandal dan Menyapu Lantai Rumah Gurunya dengan Tangannya Sendiri

AA Arsyadani • Rabu, 22 Oktober 2025 | 18:15 WIB
Teladan adab penuntut ilmu dari Imam Al-Ghazali yang rela merendahkan diri demi keberkahan ilmu.
Teladan adab penuntut ilmu dari Imam Al-Ghazali yang rela merendahkan diri demi keberkahan ilmu.

Jawa Pos Radar Lawu - Sikap hormat, patuh, dan memuliakan guru adalah nilai luhur yang mengakar kuat dalam tradisi penuntut ilmu Islam.

Salah satu teladan agung dalam hal ini adalah kisah Al Ghazali, ulama besar yang dengan kerendahan hati rela menyapu lantai rumah gurunya menggunakan tangannya sendiri.

Dalam kitab Maraqil Ubudiyah ala Matan Bidayatil Hidayah karya Syekh Nawawi al Bantani.

Kisah itu bermula ketika Al Ghazali menjadi imam shalat berjamaah, namun saudaranya, Ahmad, jarang menjadi makmum.

Atas permintaan Al-Ghazali, ibunya menasihati Ahmad agar ikut berjamaah.

Saat akhirnya Ahmad menjadi makmum, ia justru melakukan mufaraqah karena melihat “darah” yang menyelimuti Al Ghazali secara batin.

Setelah shalat, Ahmad menjelaskan bahwa ia melihat tubuh Al-Ghazali dipenuhi darah.

Ternyata, saat memimpin shalat, Al Ghazali tengah memikirkan masalah fiqih tentang darah haid mutahayyirah.

Al Ghazali terkejut karena saudaranya mampu mengetahui isi hatinya.

Ahmad pun mengungkapkan bahwa ilmu itu diperolehnya dari seorang guru zuhud bernama Syekh Al-Atiqi, seorang penjahit sandal sederhana.

Ingin menimba ilmu darinya, Al Ghazali mendatangi sang guru dan menyatakan keinginannya untuk menjadi murid.

Namun, sang guru meragukan kesungguhan Al Ghazali dan mengujinya.

“Kalau begitu, coba sekarang kamu bersihkan lantai ini,” perintah sang guru.

Alih-alih menggunakan sapu, sang guru memerintahkan Al Ghazali untuk menyapu lantai dengan tangannya sendiri.

Dengan penuh kerendahan hati, Al Ghazali melaksanakan perintah tersebut tanpa ragu.

Ujian belum berhenti.

Guru zuhud itu meminta Al Ghazali membersihkan kotoran dengan bajunya sendiri.

Ketika Al-Ghazali hendak melepaskan pakaian, sang guru melihat ketulusan hatinya dan segera menghentikannya.

Saat itu pula, sang guru menerima Al-Ghazali sebagai murid.

Sejak momen tersebut, hati Al Ghazali terbuka.

Ia merasakan ketenangan batin dan limpahan cahaya ilmu dari Allah.

Ia menyadari bahwa semua pengetahuan yang pernah ia ajarkan sebelumnya terasa kecil dibandingkan ilmu yang kini memenuhi hatinya.

Kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi para penuntut ilmu.

Adab, keikhlasan, dan kerendahan hati terhadap guru adalah kunci keberkahan dan terbukanya pintu ilmu yang hakiki. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#Adab menuntut ilmu #Imam Al Ghazali #Syekh Nawawi Al Bantani