Jawa Pos Radar Lawu - Hari Raya Iduladha semakin dekat. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama telah menetapkan 1 Dzulhijjah 1446 H jatuh pada 28 Mei 2025.
Artinya, puncak ibadah kurban, yakni 10 Dzulhijjah atau Hari Raya Iduladha, akan dirayakan pada Kamis, 6 Juni 2025.
Setiap menjelang Iduladha, pertanyaan yang kerap muncul adalah: lebih utama mana, berkurban satu ekor kambing atas nama sendiri atau patungan sapi bersama tujuh orang lainnya?
Pertanyaan ini pun dijawab dengan lugas oleh KH. Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang lebih akrab disapa Gus Baha’.
Dalam sebuah dawuh yang dikutip Radar Lawu dari akun Instagram @dawuhguru, Gus Baha’ menyampaikan pandangannya yang berpijak pada pendapat mayoritas ulama dan kajian fiqih klasik.
Menurutnya, kurban satu ekor kambing atas nama pribadi lebih utama dibandingkan ikut patungan sapi bersama tujuh orang.
“Menurut pendapat saya, jika dibandingkan antara tujuh orang patungan satu sapi dengan satu orang yang berkurban kambing sendiri, saya lebih memilih kambing,” ujar Gus Baha’.
Gus Baha’ menjelaskan bahwa pendapat tersebut bukan semata-mata pendapat pribadi, tetapi selaras dengan pandangan mayoritas ulama dalam kitab-kitab fiqih.
Salah satu alasannya adalah bahwa kurban kambing lebih bersifat privat dan personal, mencerminkan keikhlasan individu dalam beribadah kepada Allah.
Gus Baha’ juga menyinggung peristiwa besar dalam sejarah kurban, yakni ketika Nabi Ibrahim AS hendak menyembelih putranya, Nabi Ismail AS, sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Allah.
Saat itu, Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor kambing, bukan sapi ataupun hewan lainnya.
“Jika kambing tidak lebih baik dari hewan lain, tentu Allah akan memilih hewan yang lain untuk menggantikan Nabi Ismail,” terang Gus Baha’.
Menurutnya, kisah ini menjadi dalil kuat bahwa kambing memiliki keutamaan tersendiri dalam kurban.
Bahkan, Rasulullah Muhammad SAW pun lebih banyak berkurban kambing selama hidupnya.
Lebih lanjut, Gus Baha’ menegaskan bahwa kurban kambing menjadi simbol kemandirian seorang Muslim.
Karena ia tidak bergantung pada orang lain untuk berkurban. Dalam kurban sapi, seseorang perlu tujuh orang untuk menyempurnakan satu hewan kurban.
Sementara dengan kambing, cukup dirinya sendiri.
“Kurban kambing adalah bentuk sikap ksatria dan mandiri. Tidak bergantung pada orang lain,” ungkapnya.
Namun, menurut Gus Baha’, keutamaan ini kerap terabaikan di masyarakat akibat gaya hidup modern dan persepsi yang keliru.
Banyak orang kini menghindari kambing karena dianggap bisa menyebabkan darah tinggi. Padahal, jika dikonsumsi dengan bijak, daging kambing tidak berbahaya.
“Semenjak banyak orang hidup mapan dan jadi pegawai, kambing dianggap masalah karena alasan kesehatan. Akhirnya, masyarakat mulai beralih ke iuran sapi,” keluh Gus Baha’.
Ulama berusia 54 tahun ini menegaskan bahwa tidak melarang siapa pun untuk berkurban dengan patungan sapi, sebab hal itu juga sah dan diterima dalam syariat.
Namun, jika ada kemampuan secara finansial, maka berkurban kambing atas nama sendiri lebih dianjurkan karena nilai ibadahnya yang lebih kuat dari sisi keikhlasan dan keteladanan Nabi.
Jadi, sebelum Anda menentukan pilihan untuk kurban tahun ini, tidak ada salahnya mempertimbangkan penjelasan dari Gus Baha’.
Apakah Anda siap menjadi pribadi yang lebih mandiri dan ksatria dengan memilih kambing untuk kurban Iduladha tahun ini? (*)
Editor : Riana M.