Suatu ketika, Al-Ghazali melakukan perjalanan bersama kafilah dagang.
Setiap kafilah membawa barang dagangan yang istimewa dan bernilai tinggi.
Hanya beliau yang membawa buku berisi ta’liqoh—rangkuman ilmu yang telah dipelajarinya.
Di tengah perjalanan, rombongan kafilah ini dihadang oleh para perampok.
Semua harta dan barang dagangan disita, termasuk tas yang dibawa Imam Al-Ghazali.
Beliau sangat khawatir kehilangan kitab berharganya.
Dengan penuh keberanian, beliau mengajukan permohonan kepada para perampok.
"Hai Fulan, demi Allah, aku mohon kembalikan ta’liqoh itu!"
Salah seorang perampok bertanya, "Apa itu ta’liqoh?"
"Itu adalah buku rangkuman ilmu yang telah kupelajari selama ini. Aku berkelana jauh demi menuntut ilmu agar menjadi seorang ahli. Tolong kembalikan buku itu kepadaku," jawab Imam Al-Ghazali.
Mendengar penjelasan tersebut, para perampok tertawa seolah mengejek beliau. Salah seorang perampok kemudian berkata,
"Wahai pemuda, bagaimana mungkin engkau mengaku sebagai ahli ilmu jika ilmu itu tidak engkau hafalkan dalam hatimu, tetapi hanya engkau titipkan dalam ta’liqoh itu? Apa jadinya jika buku itu tetap aku rampas dan tidak kukembalikan? Ilmumu akan hilang bersamanya!"
Baca Juga: Puisi Gus Mus: Selamat Idul Fitri
Setelah berkata demikian, perampok itu mengembalikan ta’liqoh milik Imam Al-Ghazali.
Beliau merasa lega karena kitabnya telah kembali. Namun, sepanjang perjalanan, beliau terus merenungkan kata-kata perampok tadi.
"Aku pikir, apa yang ia ucapkan benar. Ini adalah nasihat dan hikmah yang dikirim Allah kepadaku melalui orang itu. Jika demikian, aku harus menghafalkan ilmu sehingga, seandainya bukuku hilang atau dirampas, ilmuku tetap bersamaku dan tidak lenyap bersama buku itu."
Baca Juga: Cerita Ramadan: Ketika Blangkon Syekh Nawawi Miring, Negeri Mesir Ikut Miring!
Inilah salah satu kejadian yang dialami oleh Imam Al-Ghazali, ulama besar yang dijuluki Hujjatul Islam.
Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas.
Bahkan, pada usia 20 tahun, beliau telah menghasilkan karya berbobot seperti Maqasid al-Falasifah dan Tahafut al-Falasifah.
Seorang ahli ilmu yang selalu haus akan pengetahuan pun mampu mendengarkan nasihat dan mengambil hikmah dari ucapan seorang perampok—seseorang yang mungkin dianggap hina oleh banyak orang.
Apalagi kita yang diberikan kemudahan untuk mendengarkan nasihat-nasihat baik.
Sudah seharusnya kita membuka hati dan pikiran agar bisa mengambil hikmah dari setiap nasihat, siapa pun yang menyampaikannya.
BIODATA SINGKAT: Siti Khotimah, Pendiri Rumah Baca Mahardhika
Editor : AA Arsyadani