Jawa Pos Radar Lawu - Puasa Ramadan yang selalu dijalani oleh umat Islam pada setiap tahunnya tentu dilatarbelakangi sejarah, sebagai penetapan bahwa puasa Ramadan, adalah ibadah yang wajib ditunaikan.
Sejarah puasa Ramadan, bagi umat muslim memiliki makna yang sangat mendalam dan dilandasi oleh kepercayaan beribadah kepada Allah SWT.
Perintah untuk menjalankan puasa sudah tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 3 yang berbunyi:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana kewajiban atas orang sebelum kamu agar bertaqwa.”
Sejak zaman Jahiliah, Allah sudah memerintahkan kaum jahiliah untuk melakukan ibadah puasa namun mereka menantangnya.
Kemudian Allah Kembali memerintahkan puasa Ramadan pada zaman Nabi Muhammad SAW.
Dahulu sebelum ayat Al-Qur’an mengenai puasa turun, Nabi Muhammad SAW selalu menjalankan ibadah puasa selama tiga hari pada setiap bulannya sebagaimana ibadah yang diwajibkan pada masa Nabi Nuh AS.
Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga selalu menjalankan ibadah puasa pada 10 muharam atau dikenal dengan sebagai hari Asyura.
Kemudian puasa Ramadan diperintahkan kembali kepada tahun ke-2 setelah Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah.
Pada zaman dulu, Nabi Muhammad SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah sebagai upaya agar terhindar dari kaum Quraisy. Selain itu, hijrahnya Nabi juga sebagai bentuk penyempurnaah syariat Islam.
Perintah untuk berpuasa di bulan suci Ramadan didasari oleh firman Allah yang tertera dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah 183-184, yang berbunyi :
“Wahai orang-orang yang beriman! DIwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana kewajiban atas orang sebelum kamu agar bertaqwa, (yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebijakan, maka itu lebih baik baginya, dan puasnya itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
Setelah firman Allah ini diturunkan, puasa Ramadan menjadi suatu ibadah yang wajib untuk dijalankan oleh umat Islam selama satu bulan penuh sesuai dengan rukun dan syariat agama.
Puasa juga bentuk penyempurna agama, sebagaimana bahwa puasa masuk dalam rukun Islam ketiga, sehingga dengan ini umat muslim wajib menjalankannya. Apabila tidak dikerjakan maka akan mendapatkan dosa.
Puasa yang dijalankan ialah dengan menahan diri dari hawa nafsu, makan, dan minum yang dimulai dari terbit fajar sampai dengan terbenamnya matahari.
Ibadah puasa ini memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan ibadah lainnya. Sebagaimana diriwayatkan dalam (HR Bukhari dan muslim), Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipat gandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), kecuali amalan berpuasa.''
''Amalan puasa tersebut adalah untukku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-ku.''
''Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (aris-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid